Oleh: Patrick Cockburn
10 Februari 2000
Sumber: www.islamawareness.net | www.independent.co.uk

Pria-pria Chechnya diperkosa, dipukuli, dan dibunuh secara sistematis di sebuah kamp tahanan Rusia di Chechnya utara, demikian bunyi surat dari seorang prajurit Rusia yang ditempatkan di kamp tersebut, yang didapat oleh The Independent. “Mereka betul-betul dihabisi di sini,” tulis si prajurit. “Siapapun pasti mendengar teriakan pria-pria sehat dan tegap yang tulang-tulangnya dipatahkan. Sebagian dari mereka juga diperkosa. Bahkan mereka dipaksa saling memperkosa. Jika ada yang namanya ‘neraka’, di sinilah tempatnya.”

Prajurit ini, yang membubuhkan tandatangan “N”, menulis bahwa dirinya tak bisa mengungkapkan nama aslinya, karena “alasannya sudah jelas”. Dia sedang menjalani dinas militernya di kamp Chernokozovo dekat sungai Terek di utara Chechnya. Pemerintah Rusia telah mengkonfirmasi bahwa para tersangka pemberontak Chechnya dipenjara di Chernokozovo.

Penulis merasa terpaksa bicara “karena saya tak tahan mengetahui hal ini tapi tak berbuat apa-apa”. Andrei Babitsky, jurnalis Radio Liberty yang diserahkan kepada orang-orang Chechnya oleh dinas keamanan Rusia untuk ditukar dengan para tawanan tentara Rusia, sempat ditahan di Chernokozovo, ungkapnya. Tn. Babitsky tidak diperkosa, “tapi mereka memukulinya habis-habisan sampai kacamatanya terbang ke udara, kasihan dia”.

Surat ini bertanggal 3 Februari dan mengisi tiga muka kertas. Penulisnya mengaku tidak terlalu melek huruf. Tatabahasanya tidak tetap, mengindikasikan dia adalah wamil belia yang kurang berpendidikan. Akurasi keterangannya ditekankan oleh penggunaan bahasa gaul di penjara. Beberapa faktanya dapat dikonfirmasi. Para jurnalis Radio Liberty mengetahui bahwa Tn. Babitsky berada di Chernokozovo lebih dari sepekan lalu.

Selama berbulan-bulan, ribuan orang Chechnya, kebanyakan pemuda, ditahan oleh Rusia di Chechnya. Tak ada yang bisa mencaritahu apa yang menimpa mereka. Upaya kerabat untuk menghubungi anggota keluarga di dalam Chernokozovo dan penjara-penjara lain biasanya gagal.

Prajurit muda ini membeberkan kepada dunia luar, untuk pertama kalinya, apa yang berlangsung di dalam salah satu kamp “penyaringan” menyeramkan di mana pihak keamanan Rusia menyebut sedang memisahkan gerilyawan dari warga sipil. Sekarang kelihatan bahwa mereka sedang dikenai hukuman luar biasa brutal. “N” mengaku, seakan dilanda rasa bersalah, dirinya boleh jadi “termasuk di antara tukang jagal itu, tapi tingkat bawah”. Ada sekitar 700 tahanan di kamp, tapi cuma 7 orang yang betul-betul dicurigai ikut serta dalam perang, katanya.

Kebanyakan tahanan yang mengalami pemerkosaan sesama jenis dan pemukulan adalah remaja berumur belasan akhir dan dipenjara karena pelanggaran ringan seperti belum mendaftarkan paspor atau tak punya paspor sama sekali. Yang lain ditahan saat merokok di luar rumah atau berjalan ke desa tetangga atau menyimpan jas hujan atau sabuk bergaya militer di rumah mereka.

Keterangannya tentang apa yang berlangsung di dalam kamp semakin meyakinkan karena dia tidak bersimpati pada tujuh tersangka pejuang Chechnya. “Mereka setengah busuk jadi pantas mendapatkannya dan saya tak kasihan pada mereka.” Dia menambahkan, dua dari tujuh terduga gerilyawan ditembak.

Pemerkosaan sesama jenis adalah hal biasa di penjara-penjara Rusia. “Itu dipakai sebagai alat penghinaan,” kata bekas tahanan. “Para penjaga juga memanggil tahanan yang telah diperkosa dengan nama perempuan.”

Namun, inilah pertama kalinya pelanggaran sistematis demikian diberitakan di Chechnya, sebuah masyarakat Muslim konservatif dengan adat-istiadat seks yang ketat. Kabar bahwa seorang prajurit di Chernokozovo mengkonfirmasi penggunaan metode tersebut kemungkinan besar akan menyulut reaksi dahsyat di antara masyarakat Chechnya.

Beberapa kali penulis mengulangi bahwa para tahanan di sana tidak berperang melawan Rusia. Dengan kesedihan mendalam dia menulis: “Saya tak sanggup melukiskan metode-metode aneh yang mereka pakai untuk meruntuhkan semangat manusia, mengubah manusia menjadi binatang.”

Masyarakat di distrik setempat mengaku belum bisa masuk ke penjara tersebut, yang mereka lukiskan sebagai bangunan bata suram dengan empat menara pengawas. Fatima, aktivis HAM lokal yang tak mau nama belakangnya dipublikasikan, menyatakan bahwa kaum wanita di sebuah pasar di sebelah penjara “tak tahan mendengar jeritan kesakitan yang datang dari dalam”.

Komandan polisi sipil setempat bernama Nurdy Ildarov, yang ditahan di awal bulan lalu padahal dia bekerja untuk pemerintah Chechnya dan Rusia, dipukuli habis-habisan sampai “kedua tangannya patah dan tulang punggungnya retak”, kata Fatima. “Dia meninggal di akhir bulan dan keluarganya harus membeli jenazahnya dari Rusia.” Beberapa tahanan yang dipukuli sudah dilepaskan tapi mereka diperingatkan oleh para penjaga bahwa keluarga mereka akan dibunuh jika mereka menceritakan kejadian di dalam penjara, ungkap Fatima.

“N”, yang identitasnya mungkin takkan diketahui, menyatakan dirinya “dicuci otak untuk percaya bahwa semua orang Chechnya adalah musuh dan penjahat”. Kini dia sadar, mereka adalah orang normal, dan dia meminta seseorang menolong mereka.

Cover illustration: Russian soldiers raise the Russian flag over the rubble of Grozny, Chechnya, February 2000 — Reuters

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s