Oleh: Scheherazade Rehman
30 April 2013
Sumber: www.usnews.com

Para pemimpin China mungkin perlu berbuat sesuatu sebelum kaum proletar/marhaen murka.

Tomson Riviera
Pemandangan bangunan apartemen kelas atas Tomson Riviera di tepi Sungai Huangpu di Distrik Keuangan Lujiazui di Pudong, Shanghai, China, 11 Maret 2009. Tomson Riviera, estat hunian tepi sungai mewah di Shanghai, lagi-lagi meraih rekor sebagai flat termahal di daratan utama setelah sebuah unit di lantai 28 terjual seharga 160.844 yuan (US$ 23.561) per meter persegi. Tomson Group mengaku menjual unit seluas 597, 41 meter persegi itu dengan harga 96,09 juta yuan (US$ 14 juta) pada 3 November. Tomson Riviera berada di Lujiazui di sebelah Citigroup Tower, sebuah kompleks bisnis utama di Pudong. Ia terdiri dari dua menara hunian 40 lantai dan dua menara hunian 44 lantai.

Banyak yang didapat dari rekor China baru-baru ini: ia menyimpan lebih banyak miliarder dalam pemerintahannya daripada negara manapun di dunia. Mereka membentuk apa yang disebut “Aristokrasi Merah”. Jadi pertanyaan penting dari blog ini adalah: Bagaimana Anda bisa menciptakan kumpulan miliarder terbesar dunia dalam sebuah sistem komunis?

Komunisme, Anda ingat, adalah sistem ekonomi dan politik di mana setiap orang dianggap setara. Sasaran tertingginya adalah menciptakan masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara. Penjelasan sederhana cara kerja komunisme adalah sebagai berikut: Tak ada yang namanya hak milik perorangan dan semua warga memiliki tanah secara kolektif. Sumber daya yang didapat dari tanah disentralisasi. Pemerintah kemudian memastikan keuntungan dari sumber daya tersebut didistribusikan secara setara di antara warganya, karena setiap orang dianggap setara. Jadi terdapat distribusi kekayaan secara setara oleh negara tanpa peduli seberapa banyak atau sedikit Anda bekerja karena “alat produksi” dimiliki oleh umum. Tujuan utama komunisme adalah mencegah efek samping negatif kapitalisme—ketidaksetaraan pendapatan.

Ironisnya, negara komunis terbesar kini memiliki pemerintahan berisi lebih banyak miliarder daripada negara manapun—saya pikir semua orang China setara, tapi ternyata sebagian lebih setara daripada yang lain.

Banyak orang superkaya China mendapat keuntungan dalam sistem di mana ada pertalian kuat antara politik, bisnis, dan korupsi. Sulit dikatakan dengan pasti berapa banyak miliarder China yang ada karena mereka tak ingin diketahui. Miliarder China harus punya koneksi politik untuk membuat kekayaan mereka tetap aman, menjadi politisi atau memperoleh kewarganegaraan asing. Contoh, tidak mengejutkan jika parlemen China berisi 83 miliarder (Kongres AS tak punya satupun).

Pada hakekatnya, klaim China sebagai negara komunis hanya setengah benar. Secara politik, China adalah sistem satu partai yang mewakili seluruh masyarakat, tapi secara ekonomi ia menjauh pesat dari cita-cita Karl Marx—bahkan kapitalisme hidup dan tumbuh subur.

Kekuasaan politik dan kekayaan merupakan isu amat pelik di China dan para pemimpin negeri tersebut sadar betul bahwa jika ketidaksetaraan pendapatan seperti sekarang terus melebar, itu bisa menjadi pengacau serius di negara di mana kira-kira 800 juta (dari 1,35 miliar) penduduknya hidup dengan pendapatan kurang dari $15 dolar per hari. Rata-rata pendapatan per kapita adalah kurang-lebih $6.000 (secara nominal) dan $9.000 dalam paritas daya beli.

Skandal sogok-menyogok dan penggelapan baru-baru ini serta kicauan media sosial tentang anak-anak kecil China berorangtuakan superkaya yang menabrakkan Lamborghini dan Maserati mereka telah sangat membuat malu para pemimpin China. Pemerintahan baru di bawah Xi Jinping “meluncurkan kampanye melawan pemborosan dan korupsi secepatnya” begitu dia menjabat, menurut Financial Times. Presiden Xi sadar penuh bahwa jika dia tak bisa membendung pelebaran jurang pendapatan dalam populasi 1,35 miliar, maka pamer pemborosan oleh para miliarder bisa membahayakan, terutama dalam sebuah sistem di mana setiap orang seharusnya setara.

Menarik untuk disimak ke mana komunisme China akan mengarah. Mungkin sudah waktunya untuk menjuluki sistem ideologi berubah bentuk ini dengan sebutan lain.

Tentang penulis: Scheherazade Rehman merupakan profesor keuangan/bisnis internasional dan hubungan internasional di The George Washington University. Anda dapat mengunjungi lamannya di sini dan mengikutinya di Twitter @Prof_Rehman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s