Oleh: Andrew Handley
26 Agustus 2013
Sumber: www.listverse.com

Seandainya segala keinginan keluarga Kim dituruti, seluruh dunia akan berpikir Korea Utara adalah surga yang indah dan bahwa setiap pemimpinnya adalah berkah yang dikirim langsung dari kayangan. Tak usah dikatakan, media Korea Utara sedikit gemar bersikap bias, dan berkat kebijakan pariwisata yang ketat (siapapun boleh berkunjung asalkan mereka sudah berada di negeri tersebut), sulit sekali untuk memahami apa yang sebetulnya berlangsung di dalam perbatasan negara totaliter tertutup ini. Tapi berkat segelintir jurnalis rahasia pemberani yang menyelinap masuk, serta laporan mengerikan dari para pembelot Korea Utara yang menyelinap keluar, kita memperoleh gambaran lebih baik tentang bagaimana roda-roda penggerak berputar di balik selubung mesin propaganda besar ini. Dan itu tidak indah.

10. Kamp Kerja Paksa

Kamp Kerja Paksa Korea Utara

Saat ini Korea Utara mengoperasikan sekitar 16 kamp kerja paksa—kamp-kamp masif yang tersebar di daerah bergunung-gunung dan dikelilingi pagar kawat listrik berduri. Diperkirakan sekitar 200.000 tahanan ditahan di kamp-kamp ini pada waktu tertentu.

Kota-kota penjara ini sering disamakan dengan kamp-kamp Gulag Rusia Soviet—kamp kerja paksa di mana para tahanan ditahan dalam kondisi kerja yang kasar dan dieksekusi atas kejahatan ringan seperti mencuri beberapa biji jagung. Para tahanan biasanya adalah campuran pembelot, pengkhianat, dan eks politisi yang berbenturan dengan pemerintah—sesuatu yang lumayan mudah dilakukan.

9. Tiga Generasi Hukuman

Undang-undang Korea Utara menetapkan kebijakan “tiga generasi hukuman”. Jika Anda melakukan kejahatan, anak-anak dan cucu-cucu Anda akan memikul noda dosa Anda dan turut dihukum. Artinya jika kakek Anda melakukan kejahatan, Anda harus menanggung jatah terberat hukumannya. Sebagaimana disebutkan di atas, ini biasanya mengakibatkan seumur hidup Anda dihabiskan di dalam kamp-kamp penjara. Salah satu pelanggaran terburuk yang dijatuhi hukuman oleh Korea Utara adalah upaya meninggalkan Korea Utara, yang dapat menjustifikasi eksekusi secepatnya atau pemanjangan hukuman di salah satu kamp kerja paksa.

Mengkritik pemerintah, seenteng apapun, juga dianggap pengkhianatan. Mempelajari budaya lain menjamin hukuman mati. Penyelundupan akhir-akhir ini antara perbatasan Korea Utara dan China telah memungkinkan sebagian orang memperoleh DVD film-film Barat—yang mana ilegal. Badan Keamanan Nasional Korea Utara mulai menyergap desa-desa di utara dengan memutus listrik ke seluruh desa lalu menyerbu ke dalam rumah-rumah dan memeriksa DVD apa saja yang terpasang di pemutarnya.

8. Penipuan Asuransi

Penipuan Asuransi Korea Utara

Ekonomi Korea Utara, dalam semua aspek terukur, gagal total. Ekspor hampir tidak ada akibat keengganan mereka untuk berinteraksi dengan pasar luar, serta fakta bahwa mereka berjuang memberi makan setiap orang yang hidup di dalam perbatasan. Populasi mutakhir Korea Utara adalah sekitar 25 juta, dan rata-rata PDB per orang adalah sekitar $500 (sebagai perbandingan, di AS angkanya berada di kisaran $50.000).

Guna menambah pendapatan ekonomi mereka yang sakit-sakitan dan membawa masuk lebih banyak uang, Korea Utara dikenal suka berpaling pada kejahatan internasional. Salah satu kejahatan tersebut adalah penipuan asuransi global. Mereka menipu perusahaan-perusahaan asuransi barat sebanyak ratusan juta dolar. Terungkap pada 2009, ternyata pemerintah Korea Utara membeli polis-polis asuransi besar atas properti dan peralatan, lalu mengklaim [objek tanggungan] itu telah hancur.

Pada 2005, beberapa perusahaan asuransi terbesar dunia, termasuk Lloyd’s dari London, membawa Korea Utara ke pengadilan atas dugaan kecelakaan helikopter dengan polis asuransi $58 juta. Ketika pengadilan-pengadilan negara Korea Utara “meninjau” kasus tersebut, mereka mengumumkannya sebagai klaim yang sah. Perusahaan-perusahaan asuransi mencabut gugatan karena kontrak mereka tunduk pada undang-undang Korea Utara, yang seperti bermain “aku menang” dengan anak kecil.

7. Transaksi Senjata

Misil Korea Utara

Selain penipuan asuransi, PBB juga menuding Korea Utara menjual senjata ilegal dan teknologi nuklir kepada penawar tertinggi, yang biasanya negara-negara di Afrika dan Timur Tengah. Contoh, pada 2012, PBB merampas kapal pengiriman Korea Utara yang menuju Suriah berisi hampir 450 silinder grafit untuk dipakai pada misil-misil balistik. Pada 2009, kapal pengiriman ke Iran dan Republik Kongo ditangkap dalam perjalanan—yang satu memuat 35 ton komponen misil, dan satu lagi memuat tank-tank era Soviet.

Berdasarkan sanksi PBB, Korea Utara dilarang memperdagangkan atau menjual teknologi misil, tapi Korea Utara membalas dan menyatakan bahwa justru sanksi tersebut yang ilegal, dan mereka berhak melakukan apapun yang mereka mau. Makanya hampir tak mengherankan jika perdagangan senjata Korea Utara tidak melambat sama sekali. Seperti penipuan asuransi, ini merupakan sumber pendapatan yang sangat diperlukan pemerintah—walaupun menurut Blaine Harden di Washington Post, mayoritas uangnya mengalir ke simpanan pribadi Kim Jong Un ketimbang untuk makanan rakyatnya.

6. Listrik

Listrik Korea Utara

Ibukota Korea Utara, Pyongyang, adalah semacam utopia yang disediakan bagi kaum elit. Pengawal bersenjata merondai perbatasan untuk mencegah kelas-kelas bawah masuk, dan sebagian besar penduduk Pyongyang nyaris hidup dalam kemewahan—dengan nilai “kemewahan” tertentu (mungkin mereka tidak memperoleh cukup makanan, tapi setidaknya mereka mendapat lebih dibanding warga lain di negeri tersebut). Tapi tiga juta warga kelas atas tersebut tidak diberi listrik selama lebih dari satu atau dua jam sehari.

Terkadang, khususnya di musim dingin, listrik padam total selagi jutaan rakyat berusaha melawan suhu dingin yang bisa mencapai -17,8 C (0 F). Mayoritas rumah-rumah di luar Pyongyang bahkan tak dialiri listrik. Citra satelit malam di atas menjelaskan sejelas-jelasnya—di utara dan selatan adalah China dan Korea Selatan, dan petak gelap bergaris di antara keduanya adalah Korea Utara.

5. Sistem Tiga Kasta

Sistem Kasta Korea Utara

Pada 1957, ketika Kim Il Sung sedang berjuang mempertahankan kekuasaan atas Korea Utara, dia meluncurkan penyelidikan besar-besaran terhadap rakyat. Hasil akhirnya adalah perubahan sistem sosial yang memisahkan setiap orang ke dalam tiga kelas: “musuh”, “ragu”, dan “inti”. Penandaan ini bukan didasarkan pada orang, tapi pada riwayat keluarga.

Mereka yang memiliki riwayat kesetiaan terhadap pemerintah dimasukkan ke dalam kelas “inti” dan diberi kesempatan terbaik. Mereka kini menjadi politisi dan orang-orang yang erat dengan pemerintah. Orang-orang di tengah adalah “ragu”, atau kelas netral. Tak ada hal yang menyokong atau memberatkan mereka, dan mungkin saja, meski kecil kemungkinannya, mereka dapat naik ke kelas inti. Tapi biasanya, orang-orang lebih sering turun daripada naik. “Musuh” adalah orang-orang dengan riwayat kejahatan terhadap negara berupa Kekristenan dan kepemilikan tanah. Mereka adalah kelompok subversif, dan menurut Kim Il Sung, menjadi ancaman terbesar bagi pemerintah. Gara-gara ini, mereka tidak diberi pendidikan, dan tidak dibolehkan tinggal di atau dekat Pyongyang, dan dipaksa hidup melarat dan hina.

4. Pupuk Tinja Manusia

Pupuk Tinja Korea Utara

Geografi Korea Utara bergunung-gunung dan gersang, dengan musim dingin panjang membekukan dan musim panas pendek dipenuhi angin monsun. Sekitar 80 persen wilayah negara ini terletak di lereng gunung atau di puncak gunung, artinya sebagian besar tanahnya tidak bagus untuk pertanian. Secara historis, Korea Utara selalu mengandalkan bantuan luar negeri untuk memperoleh pupuk yang dibutuhkannya. Uni Soviet memberi mereka pupuk sebelum runtuhnya, dan hingga terakhir ini, Korea Selatan mengirimi mereka 500.000 ton pupuk untuk membantu menggenjot produksi pangan.

Tapi Korea Selatan menghentikan pengiriman pupuk pada 2008, dan para petani harus berpaling pada sumber baru: limbah manusia. Bahkan ini sampai menjadi program pemerintah. Pabrik-pabrik diharuskan menyerahkan tinja mereka guna memenuhi jatah dua ton. Belakangan, toko-toko ilegal memanfaatkan permintaan limbah manusia, yang kini dianggap komoditas.

3. Kewarganegaraan Korea Selatan

Prajurit Wanita Korea Utara

Sederhananya, begitu banyak orang yang kabur dari Korea Utara sampai-sampai tak ada tempat untuk mereka tuju. Kebijakan resmi China adalah mengembalikan mereka ke seberang perbatasan. Di sana mereka dieksekusi atau dibuang ke kamp kerja paksa untuk bekerja kasar selama berdekade-dekade yang biasanya menjadi hukuman mati efektif. (Hanya Korea Selatan yang mempertahankan kebijakan pengampunan hampir absolut. Semua pembelot Korea Utara (yang bukan kriminal) segera diberi kewarganegaraan, pelatihan kerja, dan, untuk mereka yang membutuhkan, penyuluhan psikologis. Mereka juga diberi tempat tinggal dan $800 per bulan. Sebagai insentif untuk pelaku usaha, pemerintah Korea Selatan menawarkan bonus $1.800 kepada siapa saja yang mau mempekerjakan seorang pengungsi.

Walaupun orang-orang Korea Utara secara teknis perlu melengkapi dokumen untuk membuktikan kewarganegaraan mereka, biasanya persyaratan tersebut dibebaskan. Adapun pengungsi dari kamp kerja paksa, mereka tak punya dokumen. Untuk orang-orang yang terlahir di kamp kerja paksa, tak pernah ada dokumen sama sekali. Sejak 1953, terdapat lebih dari 24.500 pembelot Korea Utara yang mendarat di Korea Selatan. Mulai 2002, Korea Selatan menerima lebih dari 1.000 orang per tahun. Dan itu baru orang-orang yang berhasil sampai ke Korea Selatan. Pemerintah China menaksir 200.000 orang Korea Utara bersembunyi secara ilegal di perbukitan dan provinsi-provinsi pedalaman China. Banyak orang yang berhasil keluar dari Korea Utara lewat China akhirnya tetap mati dalam perjalanan panjang mereka.

2. Kanibalisme

Kelaparan Korea Utara

Kelaparan melumpuhkan melanda Korea Utara antara 1994 sampai 1998. Meluasnya banjir membuat kebanyakan tanah pertanian tak dapat dipakai. Ketika keadaan ini digabungkan dengan utang yang terus bertambah kepada Uni Soviet sehingga menghalangi impor pangan, seluruh kota hanyut ke dalam senja kematian. Diperkirakan, nyaris 3,5 juta orang mati kelaparan di masa itu—lebih dari 10% populasi.

Dengan disitanya simpanan sedikit makanan mereka oleh militer sesuai kebijakan Songun, warga Korea Utara pertama-tama beralih ke hewan peliharaan untuk makan, lalu jangkrik dan kulit pohon, dan terakhir, anak-anak. Sampai ada peribahasa: “Jangan beli daging kalau kau tak tahu asalnya.” Menurut pembelot dari masa kelaparan tersebut, masyarakat mencari anak-anak gelandangan yang kerap meminta-minta di sekitar stasiun kereta, mencekoki mereka, lalu membawa mereka pulang dan—well, Anda bisa lengkapi sendiri.

Sekurangnya ada satu keterangan resmi tentang seseorang yang dieksekusi karena kanibalisme, dan meski diyakini bahwa kekhawatiran kanibalisme lebih merajalela daripada kanibalisme itu sendiri, ada cukup banyak keterangan seram yang memberi legitimasi pada cerita-cerita menakutkan ini.

1. Penjara Penyiksaan

Sampai sekarang, sangat sedikit orang yang kabur dari kamp kerja paksa Korea Utara dan hidup untuk menceritakan kisahnya. Dan di antara para pengungsi ini, hanya satu orang yang berhasil kabur dari Kamp 14 yang mengerikan, yang dianggap sebagai kamp kerja paksa paling brutal di negeri tersebut dan disediakan untuk penjahat politik paling berat saja. Orang itu adalah Shin Dong-hyuk, yang kisahnya diungkapkan dalam buku luar biasa, Escape from Camp 14.

Shin lahir di kamp karena pamannya meninggalkan tugas militer dan membelot ke Korea Selatan. Saat dia berumur 14 tahun, ibu dan kakaknya berupaya kabur. Ketika mereka ditangkap, Shin dibawa ke penjara penyiksaan bawah tanah, “penjara dalam penjara”. Menurut kisahnya, dia digantung ke langit-langit secara terbalik dengan belenggu logam di pergelangan kakinya, sementara para penjaga menginterogasinya perihal upaya kabur sang ibu. Karena itu tidak membuahkan hasil, tangan dan kakinya digantung hingga membentuk huruf “U”, dan pelan-pelan tubuhnya diturunkan di atas tong berisi batu bara panas. Sebuah kail ditusukkan ke perutnya untuk mencegahnya menggeliat selagi kulit punggungnya melepuh dan hangus.

Di sela-sela sesi interogasi, dia dibuang ke sel beton kecil dengan lampu yang menyala 24 jam sehari, sementara lepuhan di punggungnya membusuk karena infeksi. Selama di dalam sel, Shin bisa mendengar gema jeritan tahanan lain yang sedang disiksa, dan dia memperkirakan ratusan orang dimasukkan ke sana. Dia ditahan di penjara ini selama tujuh bulan dan menjadi satu-satunya orang yang dapat menceritakan eksistensi penjara-penjara tersebut. Ternyata, dia pernah mendengar ibunya membicarakan kabur, lalu memberitahukan hal tersebut kepada penjaga. Si penjaga melaporkannya tapi tak pernah menyinggung keterlibatan Shin. Setelah informasi Shin diverifikasi, si penjaga tak pernah terlihat lagi, dan Shin dilepas tepat waktu untuk menyaksikan ibu dan kakaknya dieksekusi.

Tentang penulis: Andrew Handley adalah penulis lepas dan pemilik HandleyNation Content Service yang sangat keren. Saat tidak sedang menulis, biasanya dia melakukan hiking atau panjat tebing, atau sekadar menikmati udara segar North Carolina.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s