Oleh: Geoffrey Sant
4 September 2015
Sumber: www.slate.com

Pejalan Kaki China
Tengok kanan-kiri: Para pejalan kaki menunggu bergantinya rambu lalu-lintas di Beijing tengah pada 18 September 2007. (Foto oleh: The Eng Koon/AFP/Getty Images)

April lalu, sebuah BMW yang menerobos pasar buah di Foshan, Provinsi Guangdong, China, menabrak jatuh seorang gadis 2 tahun dan menggilas kepalanya. Sementara nenek si gadis berteriak, “Berhenti! Kau menabrak anak kecil!”, pengendara BMW berhenti sejenak, lalu mengambil persneling mundur dan melindas si gadis. Wanita pengemudi melaju sekali lagi, melumat si gadis untuk ketiga kalinya. Ketika akhirnya keluar dari BMW, pengendara tanpa SIM itu segera menawarkan kesepakatan kepada keluarga yang syok: “Jangan bilang-bilang saya yang menyetir mobilnya,” katanya. “Sebut saja suami saya. Kami bisa memberi kalian uang.”

Tampaknya sudah menjadi legenda urban: Di China, pengendara yang melukai pejalan kaki terkadang kemudian berusaha membunuh mereka. Dan ini bukan hanya benar, ini cukup lumrah; kamera keamanan rutin merekam pengendara yang maju-mundur di atas tubuh korban untuk memastikan mereka mati. Bahasa China bahkan punya adagium untuk fenomena ini: “Lebih baik menabrak untuk membunuh daripada menabrak dan melukai.”

Liputan televisi 2008 ini menampilkan rekaman kamera keamanan berisi adegan sebuah Passat putih berdebu yang mundur dengan kecepatan tinggi dan menabrak seorang nenek 64 tahun. Roda-roda belakang Passat mempelanting ke atas kepala dan tubuhnya. Si pengemudi, Zhao Xiao Cheng, menghentikan mobil sejenak lalu menginjak gas, menyebabkan roda-roda depannya menggelinding ke atas sang nenek. Lalu Zhao menggeser persneling ke posisi “Drive”, roda-roda menggilas nenek itu di trotoar. Zhao belum selesai. Dua kali lagi dia membolak-balik persneling antara maju dan mundur, setiap kali itu pula mobilnya menggedebuk di atas tubuh sang nenek. Lalu dia melaju pergi dari mayatnya.

Yang luar biasa, Zhao dinyatakan tak bersalah atas pembunuhan disengaja. Menerima klaim Zhao bahwa dia pikir hanya melindas kantong sampah, pengadilan Taizhou di provinsi Zhejiang menjatuhinya tiga tahun penjara saja atas dakwaan “kelalaian”. Kasus Zhao luar biasa karena terekam video. Sebagaimana dikatakan pembaca acara televisi, “Di internet Anda bisa melihat arus cerita tiada habisnya yang membicarakan kasus-kasus serupa.”

“Kasus tabrak ganda” sudah ada selama berdekade-dekade. Saya pertama kali mendengar fenomena “tabrak-bunuh” di Taiwan pada pertengahan 1990-an sewaktu bekerja di sana sebagai guru bahasa Inggris. Seorang rekan guru biasa mengantar kami ke sekolah. Setelah hampir kena seorang pemotor, dia berkata, “Kalau menabrak seseorang, saya akan menabraknya lagi dan memastikan dia mati.” Menikmati kekagetan saya, dia menjelaskan bahwa di Taiwan, jika Anda melumpuhkan seorang manusia, Anda harus membiayai perawatan korban seumur hidup. Tapi jika Anda membunuhnya, Anda “hanya perlu membayar sekali, misalnya biaya pemakaman”. Dia menegaskan dirinya serius—dan bahwa ini sudah lumrah.

Kebanyakan orang sependapat bahwa fenomena tabrak-bunuh berakar dari undang-undang jahat tentang ganti rugi korban. Di China, ganti rugi atas penewasan korban dalam kecelakaan lalu-lintas relatif kecil—biasanya berkisar antara $30.000 s/d $50.000—dan sekali pembayaran diberikan, perkara selesai. Sebaliknya, biaya perawatan seumur hidup untuk korban cacat bisa mencapai jutaan. Baru-baru ini pers China menggambarkan bagaimana seorang pria yang tercacatkan menerima sekitar $400.000 untuk 23 tahun pertama perawatannya. Para pengendara yang memutuskan untuk menabrak-bunuh berbuat begitu karena membunuh jauh lebih hemat. Bahkan, Zhao Xiao Cheng—pria yang terekam kamera keamanan sedang melindas seorang nenek lima kali—hanya membayar ganti rugi $70.000.

Kamera-kamera keamanan rutin merekam para pengendara yang maju-mundur di atas tubuh korban untuk memastikannya tewas.

Pada 2010, di Xinyi, video merekam seorang pemuda kaya memundurkan BMW X6 dari tempat parkir. Dia menabrak bocah lelaki 3 tahun, merobohkan sang bocah dan melindas tengkoraknya. Si pengemudi kemudian menggeser persneling ke posisi “Drive” dan melumatnya lagi. Yang luar biasa, dia keluar dari BMW, menempatkan kendaraan dalam persneling mundur, dan menggiringnya mundur dengan tangan sambil berjalan sampai menggilas tubuh bocah yang sudah rebah. Kaki pemuda ini begitu dekat dengan kepala si anak. Andai bocah tersebut masih hidup, dia bisa mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Lalu si pengemudi menempatkan BMW dalam posisi maju lagi, menggilas bocah untuk terakhir kalinya sambil melaju pergi.

Dalam kasus ini juga sang pengendara hanya dikenai tuduhan menyebabkan kematian seseorang secara tak sengaja. (Klaimnya, dia salah mengira bocah tersebut kotak karton atau kantong sampah.) Polisi menolak tuduhan pembunuhan dan bahkan [tuduhan] lari dari TKP, tak mempedulikan fakta bahwa si pengemudi menggilas kepala sang bocah sewaktu melesat pergi.

Para pengendara mau membunuh bukan hanya karena itu lebih murah, tapi juga karena mereka mengira akan lolos dari tuduhan pembunuhan. Di masa sebelum meluasnya pemakaian kamera video, jarang sekali ada bukti seorang pengendara menabrak korban dua kali. Bahkan di zaman kamera ponsel hari ini, para pengendara tampak yakin bisa menyogok pejabat lokal atau menyewa pengacara untuk menghindari tuduhan pembunuhan.

Barangkali, yang paling seram dari kasus-kasus tabrak-bunuh ini adalah kasus-kasus di mana tabrakan awal tidak melukai korban secara serius, tapi pengemudi tetap mundur dan membunuh korban. Di provinsi Sichuan, sebuah truk besar berlapis lumpur menabrak jatuh seorang bocah lelaki 2 tahun. Si anak hanya terlinglungkan oleh benturan pertama, dan segera berdiri. Para saksi mata menyatakan bocah itu beranjak untuk mengambil payungnya, yang terlontar ke seberang jalan akibat tabrakan tersebut, lalu truk mundur dan melumatnya, kali ini menewaskannya.

Terlepas dari keterangan saksi, kepala kepolisian kabupaten menyatakan truk itu tak pernah mundur, tak pernah menghantam si bocah untuk kedua kali, dan bahwa roda-rodanya tak pernah melindasnya. Sementara itu, sebuah situs yang murka memajang foto-foto yang menampakkan tubuh bocah di bawah roda depan truk.

Dalam setiap kasus ini, meski video dan foto-foto memperlihatkan pengendara menabrak korban dua kali, dan bahkan seringnya tiga, empat, dan lima kali, para pengendara menebus ganti rugi dan masa penjara yang sama saja atau kurang dibanding jika mereka hanya melukai korban.

Dengan begitu banyaknya sopir tabrak-bunuh yang lolos dari hukuman berat, masyarakat China terkadang menyelesaikan masalah dengan tangannya sendiri. Pada 2013, kerumunan di Zhengzhou, provinsi Henan, memukuli pengemudi kaya yang menewaskan anak 6 tahun setelah diduga melindasnya dua kali. (Liputan televisi mengklaim kerumunan itu bertindak berdasar “kabar angin”. Namun, sekurangnya lima saksi menegaskan dalam kamera bahwa pria itu telah menggilas korban untuk kedua kali.)

Tentu saja tidak setiap pengendara tabrak-bunuh lolos dari hukuman berat. Seorang pria bernama Yao Jiaxin yang pada 2010 menabrak pesepeda di Xian dan kembali untuk memastikannya tewas—bahkan menusuk perempuan terluka itu dengan pisau—dipidana dan dieksekusi. Pada 2014, seorang pengendara bernama Zhang Qingda yang menabrak kakek tua di Jiayu Pass, provinsi gansu, dengan truk pikapnya dan berputar untuk melumatnya lagi dijatuhi hukuman penjara 15 tahun.

China dan Taiwan telah mengesahkan undang-undang yang berupaya memberantas kasus tabrak-bunuh. Badan legislasi Taiwan merevisi Pasal 6 KUH Perdata, yang sudah lama membatasi kewenangan untuk mengajukan gugatan perdata atas nama orang lain (misanya orang yang terbunuh dalam kecelakaan lalu-lintas). Sementara itu, badan legislasi China telah menegaskan bahwa kasus-kasus tabrak ganda mesti diperlakukan sebagai pembunuhan. Tapi meski seorang pengendara menabrak korban berkali-kali, akan sulit sekali untuk membuktikan niat dan penyebab—sekurangnya yang memuaskan pengadilan China. Hakim, polisi, dan media kerap menerima klaim-klaim luar biasa bahwa pengendara menabrak korban berkali-kali secara tak sengaja, atau bahwa pengendara mengira korban adalah benda mati.

Kasus-kasus tabrak-bunuh berlanjut, dan para pengendaranya selalu lolos dari hukuman berat. Januari, seorang wanita terekam berulangkali menggilas bapak tua yang terpeleset di salju. April, pengendara bus sekolah di Shuangcheng dituduh melindas gadis 5 tahun berulang-ulang. Mei, kamera keamanan merekam seorang pengemudi truk yang melindas bocah lelaki sebanyak empat kali. Dia mengklaim tak melihat bocah tersebut.

Dan bulan lalu, wanita tanpa SIM yang menewaskan anak 2 tahun di pasar buah dengan BMW-nya—lalu berusaha menyogok keluarga korban—dibawa ke pengadilan. Dia mengklaim pembunuhan itu kecelakaan. Para jaksa menerima pernyataannya, dan merekomendasikan agar pengadilan mengurangi hukumannya jadi dua s/d empat tahun penjara.

Hukuman ringan ini tetap lebih berat daripada hukuman yang didapat banyak pengemudi untuk kejahatan serupa. Tapi mungkin itu takkan cukup untuk mencegah pengendara lain menempatkan persneling mobilnya ke posisi mundur dan menginjak gas.

Tentang penulis: Geoffrey Sant mengajar di Fordham Law School, anggota dewan New York Chinese Cultural Center, dan penasehat hukum di Dorsey & Whitney LLP.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s