Dusta Besar Iran

Oleh: Ann De Craemer
4 Mei 2010
Sumber: www.tehranreview.net

“Jadi katakan,” ujarnya, “menurutmu apa hakekat identitas Iran?” Dia sedang mengaduk-aduk cangkir kopinya dan memandang saya sambil tersenyum geli sekaligus gugup.

“Hakekat identitas Iran,” sahut saya, menunda jawaban dengan menyeruput teh, “adalah berbohong.”

Suara gelak tawanya bergemuruh, memenuhi seisi restoran.

“Bukan main,” desahnya, seakan-akan syok, “akhirnya ada orang Eropa yang paham jiwa Iran.”

Saya berada di Iran selama tiga pekan pada Juni 2009. Walaupun sudah mempelajari negeri tersebut sebelum sampai ke sana, saya hanya mampu memahami identitas Iran setelah betul-betul berada di sana. Saya tak mau membeberkan panjang-lebar masalah identitas dan saya sadar persoalan hakekat identitas mungkin ada banyak jawabannya. Tapi menurut saya, yang sangat saya sesalkan, berbohong adalah hakekat identitas Iran hari ini.

Belum pernah saya mendengar orang-orang begitu banyak berbohong seperti di Iran. Belum pernah saya berbohong sebanyak di Iran. Dan belum pernah saya merasa terkoyak berkali-kali di antara beberapa kepribadian seperti di Iran.

Dusta Iran

Dalam perjalanan kereta dari Qom ke Arak, saya berjumpa empat perempuan muda Iran yang menyingkap sebagian identitas Iran kepada saya. Maryam (19) tinggal di Qom dan mengenakan chador, tapi dia membencinya. “Saya memakainya hanya karena harus. Hati saya menginginkan sesuatu yang lain. Chador meringkas hakekat Iran: di baliknya, banyak wanita mengenakan pakaian dalam seksi—sebagaimana Iran tampak Islami di luar, tapi andai saja kau tahu keadaan di dalamnya. Semua orang Iran punya kepribadian ganda.”

Andai saja kau tahu, kata Maryam, dan saya memang tahu sekarang. Selama tiga pekan di Iran saya menghabiskan banyak waktu di rumah-rumah masyarakat, dan saya mulai sadar bahwa identitas ganda memang hakekat kehidupan sehari-hari di Iran. Revolusi Islam tak hanya melahirkan negara teokrasi tapi juga tersebarnya cara hidup yang bertentangan dengan Islam: berbohong adalah syarat mutlak untuk bertahan hidup. Kebanyakan orang Iran menjalani kehidupan ganda. Ada kehidupan privat di dalam rumah dan ada kehidupan publik di luar. Di jalan-jalan, Anda bisa dengar orang-orang berkata ya mereka ikut shalat Jumat, tidak mendengarkan musik barat, tidak punya televisi satelit, dan mencintai Ayatullah Khomeini. Di balik jendela dan pintu tertutup, saya pernah dengar orang-orang memaki Khomeini habis-habisan. Skizofrenia bukan cuma tertanam pada struktur pemerintahan negara Republik Islam tersebut—negara teokrasi yang ingin menjadi negara demokrasi dengan mengadakan pemilu—tapi juga menembus banyak aspek kehidupan sehari-hari.

Pertama kali dusta besar kehidupan Iran menampar saya keras-keras adalah ketika mengunjungi makam keturunan Perdana Menteri Iran Ghaemmaghami Farahani di pedesaan Arak. Seorang teman Iran menyertai saya ke makam. Dia ateis dan sudah berkali-kali melontarkan kemarahannya terhadap Islam dan rezim Iran. Sementara kami berdiri di samping makam di sebelah beberapa orang Iran lain, teman saya ini menyentuh Qur’an di atas batu nisan dan membacakan sebuah ayat keras-keras dari Kitab Suci-“nya”.

Saya tak percaya dengan apa yang baru saya saksikan. Itu pertunjukan teater mengagumkan. Saat saya bilang betapa tak enaknya melihat seorang teman berbohong begitu mencolok, dia tertawa: “Inilah Iran. Kami semua berbohong. Dan kami semua tahu bahwa kami berbohong, tapi kami tak tahu persisnya kapan.”

Saya sendiri berulangkali merasa kesulitan untuk berbohong di Iran. Di Toschal, polisi menahan saya sebentar setelah mewawancarai seorang jurnalis Iran yang mengenakan selendang hijau. Mereka tanya, apa yang saya pikirkan tentang presiden Ahmadinejad. Jelas, saya tidak mengatakan yang sebenarnya, karena itu berarti saya akan kena masalah. Saya benci dengan diri sendiri atas kebohongan ini. Itu hari kedua saya di Iran. Beberapa pekan kemudian, saya sudah terbiasa berbohong dan tidak merasa bersalah lagi—suatu kesadaran yang membuat saya syok.

Berbohong itu membahayakan jika menjadi kebiasaan. Fiksi dan realita terus-menerus kabur menjadi satu sama lain. Jika Anda sebagian hidup di dunia rekaan, maka beralih ke dunia nyata bisa sangat sulit. Saya sudah melihat banyak orang Iran berbohong bahkan saat tidak terlalu perlu. Jika di usia amat muda Anda tahu bahwa berbohong dapat membantu Anda menggapai tujuan, ini mempengaruhi jiwa Anda. Anda lupa bahwa berbohong itu salah—sebaliknya, itu menjadi sesuatu yang memperbaiki dan mempermudah kehidupan. Sementara anak-anak di negara demokratis hanya perlu khawatir tentang cara mengendarai sepeda pertama mereka, anak-anak Iran harus khawatir tentang cara menyampaikan kebohongan pertama mereka secara meyakinkan.

Saya percaya skizofrenia yang diakibatkan oleh hal ini merupakan kejahatan terbesar rezim Islam tersebut terhadap rakyatnya. Sungguh tragis, semua orang Iran harus menciptakan salinan palsu dirinya yang asli. Republik Islam Iran sangat jauh dari cita-cita Raja Darius I, pengarang prasasti berikut di Naqsh-e Rostam:

Dengan kehendak Ahura Mazda, aku orang demikian, aku sahabat mereka yang benar, mereka yang salah aku bukan sahabat. Bukan inginku bahwa mereka yang lemah dicelakai oleh mereka yang kuat, bukan pula inginku bahwa mereka yang kuat dicelakai oleh mereka yang lemah. Yang benar, itulah hasratku. Dengan orang pengikut kebohongan aku bukan sahabat.

Raja Darius dan Raja Cyrus akan bolak-balik [gelisah] di dalam kubur mereka jika melihat rezim Republik Islam Iran telah menjadi kebohongan besar. Teokrasi mereka adalah kebohongan. Kebohongan yang paling mencolok di antara semuanya adalah, di bawah bendera Islam, mereka telah memaksa rakyat Iran selama 30 tahun untuk menjadi pembohong penuh waktu. Telah kuhadiahkan jubahku untuk kebohongan, Rumi pernah berucap, akan kuserahkan hidupku untuk kebenaran. Satu pelipur untuk Raja Darius adalah hari ini Iran dipenuhi orang-orang yang berpikir demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s