Pemerkosaan Sebagai Senjata di Penjara Iran

Sumber: www.irantruth.org

Pemerkosaan di Iran jauh dari sekedar syahwat; itu menjadi alat negara, aspek aparat keamanan yang dijadikan senjata. Otoritas Iran melumpuhkan segala macam pembangkang secara fisik, mental, dan emosional melalui pemerkosaan untuk menyiutkan warga dari menanyai pemerintah.

Kisah Seram Penganiayaan Seksual

Saeeda Siabi berusia 21 tahun ketika dirinya ditangkap pada 1981 bersama suami dan anak lelaki 4 bulan.

Dia dan suami tumbuh dalam keluarga yang aktif politik dan memandang pemberlakuan sistem keulamaan di Iran sebagai sesuatu yang berbahaya, terutama setelah menyaksikan represi kejam rezim baru ini terhadap oposisi apapun.

Setelah sepekan siksaan hebat, para penjaga penjara mengancamnya dengan pemerkosaan dan melangsungkannya berkali-kali secara brutal, bahkan di depan bayinya. Dia melewatkan empat setengah tahun di penjara dengan perlakuan tersebut.

Setahun setelah Saeeda pertama kali ditahan, seorang pekerja sosial perempuan berumur 23 tahun yang tidak terlibat politik ditangkap di Teheran dan mengalami penyiksaan dan penghinaan serupa. Dia ditanya perihal afiliasi politik dan diminta memberikan nama-nama. Perempuan ini masih perawan dan dipaksa melakukan seks mulut dan dubur selama interogasi.

Dia melukiskan pengalamannya, “Saya belum pernah dekat dengan lelaki. Saya tidak mengerti apa yang sedang menimpa saya, saya ketakutan. Saya dengar jika wanita diperkosa di penjara, mereka takkan pernah dibebaskan. Setelah itu berakhir, saya muntah-muntah dan tak henti-hentinya menangis…”

Dia bilang, dirinya berubah dari wanita percaya diri dan tak kenal takut menjadi sosok sebaliknya, bahkan tak sanggup bersentuhan fisik dengan kerabat lelaki.

Siksaan Seksual untuk Melumpuhkan Pembangkang

Terjadi gelombang pemerkosaan besar-besaran terhadap pembangkang politik setelah pemilu presiden Iran 12 Juni 2009 ketika jutaan rakyat Iran memprotes hasil pemilu. Seorang remaja yang memakai nama “Reza” ditangkap bersama 40 bocah lelaki lain dalam sebuah demonstrasi oposisi. Reza kemudian diperkosa di depan bocah lain. Saat dia melaporkan insiden tersebut kepada penginterogasinya, si penginterogasi justru memperkosa Reza untuk mengajarinya agar bungkam. Dalam kasus lain, beberapa wanita ditangkapi dan dituduh bagian dari Gerakan Hijau. Salah seorang melukiskan panjang-lebar bagaimana setelah dirinya dibawa ke ruang interogasi, seorang pria di pasukan keamanan mulai menyentuhnya secara tak pantas. Dia memohon kepadanya untuk berhenti, menyatakan dirinya masih perawan, tapi pria itu menjawab, “Tidak, kau bukan perawan lagi.” Pria itu lalu memperkosanya dan mengencingi seluruh tubuhnya. Setelah itu, dia menyundut seluruh tubuh perempuan ini dengan rokok dan mulai mencambuknya.

Pada 27 Januari 2015, pasukan keamanan Iran menangkap Naghmeh Shahi Savandi, seorang jurnalis warga, lantaran aktivitas Facebook-nya. Negara menginginkan pengakuan dan menyiksanya sampai akhirnya dia memberi pengakuan. Sebagai bagian dari interogasi, Naghmeh diancam dengan pemerkosaan, dan ketika akhirnya dibebaskan, teman-teman dan keluarganya bertanya apa dia diperkosa, bukan apa dia baik-baik saja. Ini mengindikasikan bahwa rakyat Iran paham betapa meluasnya pemerkosaan terhadap tahanan politik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s