Mereka Menyiksa Untuk Membunuh

Oleh: Garance le Caisne
Kamis 1 Oktober 2015
Sumber: www.theguardian.com

Caesar, fotografer militer Suriah yang menyelundupkan bukti penyiksaan yang menggoncangkan dari sel bawah tanah Assad, menceritakan kisahnya untuk kali pertama.

Gambar-gambar seram milik Caesar memperlihatkan korban siksaan yang tewas Suriah, dipamerkan di PBB, New York. Foto: Lucas Jackson/Reuters
Gambar-gambar seram milik Caesar memperlihatkan korban siksaan yang tewas Suriah, dipamerkan di PBB, New York. Foto: Lucas Jackson/Reuters

Selama dua tahun, antara 2011 s/d 2013, mantan fotografer militer Suriah yang dikenal sebagai Caesar memanfaatkan komputer kepolisian di Damaskus untuk menyalin ribuan foto tahanan yang disiksa sampai mati di penjara-penjara Bashar al-Assad. Media telah memuat banyak kisah tentang orang yang berhasil menyelundupkan bukti mengagetkan atas kejahatan kemanusiaan dari negara itu—dengan resiko besar terhadap dirinya sendiri dan keluarga—tapi dia belum pernah diwawancarai.

Bulan demi bulan, selama dua tahun, orang, yang tetap anonim, menjepret mayat-mayat yang disiksa, dilaparkan, dan dibakar. Perintah untuknya adalah memotret mayat-mayat sebagai dokumentasi kematian para tahanan. Kemudian diam-diam dia membuat salinan dan mentransfernya ke USB flash drive agar dia dapat menyelundupkannya keluar kantor, disembunyikan dalam sepatu atau sabuk, dan menyerahkannya kepada seorang teman yang bisa membawanya keluar negeri.

Teroris Islamic State memproklamirkan kekejaman mereka di jejaring sosial; negara Suriah menyembunyikan perbuatan jahatnya dalam kesunyian sel bawah tanah. Sebelum Caesar, tak ada orang dalam yang pernah menyediakan bukti keberadaan mesin maut Suriah. Foto-foto dan dokumen ini membuktikannya.

Saya harus menemukan Caesar. Kemajuan spektakuler ISIS, dan semakin banyaknya serangan teroris oleh para pengikutnya, telah menenggelamkan pembocoran rahasia kekejaman rezim Suriah. Konflik itu telah mengakibatkan lebih dari 220.000 orang tewas. Setengah warga sipil terpaksa pergi dari rumah, yang lain diberondong, kota dan desa mereka dikepung tentara Assad. Gambar-gambar Caesar bisa membuat kekejaman Damaskus kembali menjadi pusat perhatian. Dia harus ditemukan. Jurnalis dari seluruh dunia sudah siap mencarinya. Saya tahu itu akan sulit—dan ternyata sulit. Dua kali saya hampir menyerah. Tapi saya terus berusaha, karena mendesak sekali agar orang ini bicara. Kesaksiannya sangat penting jika kita ingin memahami kengerian di jantung rezim Suriah.

Kelompok yang melindungi Caesar—para anggota Syrian National Movement, partai oposisi Islam moderat—memaklumi bahwa cerita perjumpaan kami takkan menjadi berita media, tapi turun menjadi kekeluan. Itu akan memberi suara kepada rakyat Suriah dan memberi dampak bagi generasi mendatang. Setelah beberapa bulan negosiasi, saya diperbolehkan bertemu Sami, kolaborator terdekat Caesar, teman yang telah mendukungnya selama dua tahun dalam proyek ini. Saya dan Sami berbincang lewat Skype, empat kali, selama berjam-jam. Setelah enam bulan, Caesar setuju untuk bicara.

Pertemuan pertama menegangkan: mereka bersikap defensif, saya takut “kehilangan” mereka jika melontarkan pertanyaan yang salah—jika saya menuntut terlalu banyak detil, terlalu tergesa-gesa. Tapi pada akhirnya, Caesar bicara pada saya, direkam, beberapa kali. Kami berbincang lebih dari 40 jam. Hasilnya adalah upaya mengungkapkan kebenaran. Tapi baru permulaan. Berikut kisahnya.

*****

Saya Caesar. Saya dulu bekerja untuk rezim Suriah, sebagai fotografer kepolisian militer di Damaskus. Saya akan menceritakan pekerjaan saya sebelum pemberontakan dan selama dua tahun pertama pemberontakan, tapi saya tak bisa mengungkap semuanya karena khwatir rezim akan mengenali saya lewat detil-detilnya. Sekarang saya pengungsi di Eropa. Saya takut mereka akan menemukan saya dan menghabisi saya, atau melampiaskan dendam pada keluarga saya.

Sebelum perang, tugas saya adalah memotret tempat kejadian kejahatan dan kecelakaan yang melibatkan personil militer. Contohnya bunuh diri atau mati tenggelam; kecelakaan lalu-lintas atau kebakaran rumah. Kapanpun ada panggilan darurat, saya dan fotografer lain harus bangun dan memotret lokasi dan korban. “Cepat potret korban ini atau benda itu,” kata penyelidik saat kami tiba di tempat kejadian. Pekerjaan kami melengkapi pekerjaan mereka. Contoh, jika ada penembakan di sebuah kantor, kami memotret titik penemuan jasad, lalu kami pergi memotretnya di kamar mayat, untuk menunjukkan di mana peluru masuk dan keluar tubuh. Kami juga memotret bukti semisal senapan atau pisau. Jika ada kecelakaan lalu-lintas, kami memotret tempat dan kendaraan. Lalu kami kembali ke kantor dan laporan akan ditulis memanfaatkan hasil jepretan kami. Kemudian laporan tersebut dikirim ke pengadilan militer agar proses peradilan bisa dimulai.

Pada waktu itu, dinas tersebut sangat populer di antara perwira rendah. Banyak dari mereka ingin bergabung dengan kami karena kerjanya tidak terlalu sulit. Kami bekerja setiap dua atau tiga hari, dan kami boleh memilih mengenakan seragam atau tidak. Para perwira kurang giat. Tak ada prestise dalam tugas menjadi fotografer dan pengarsip, dan polisi militer tak punya banyak kewenangan—tidak seperti dinas intelijen. Terlebih, kami tak berurusan dengan warga sipil, jadi tak ada peluang menghasilkan uang dari suap, tak seperti beacukai, misalnya, atau kementerian pemerintah. Dan kami tak punya pengaruh atas dinas keamanan atau tentara.

Dalam hirarki, tak ada yang memperhatikan pekerjaan kami—satuan kami tidak masuk hitungan. Itu cuma salah satu dari lusinan. Polisi militer punya lusinan departemen. Di Damaskus saja, sekurangnya ada 30: fotografer, sopir, mekanik, olahraga, brigade pengangkut tahanan antara berbagai tingkat intelijen militer, dan sebagainya. Tapi yang paling penting tentu saja adalah mengepalai penyelidikan dan penjara.

Suatu hari seorang kolega berkata bahwa kami akan memotret beberapa mayat sipil. Dia baru memotret jenazah demonstran di provinsi Daraa [di mana demonstrasi damai besar pertama terjadi]; itu di pekan-pekan pertama perang sipil, Maret atau April 2011. Dia menangis sambil berkata: “Para tentara menganiaya mayat-mayat itu. Mereka menginjak-injaknya dengan sepatu bot dan berteriak: ‘Dasar anak jalang!’”

Dia tak mau kembali—dia takut. Saat saya dipanggil untuk mengambil gambar, saya mengerti apa yang membuatnya terusik. Para perwira bilang orang-orang mati itu adalah teroris—padahal bukan, mereka cuma demonstran. Mayat-mayat disimpan di kamar mayat rumah sakit militer Tishreen, tidak jauh dari markas besar polisi militer.

Awalnya mereka menempatkan nama pada setiap jenazah, tapi setelah beberapa lama—beberapa pekan atau sebulan—hanya nomor. DI kamar mayat, seorang prajurit akan mengeluarkan jenazah-jenazah dari laci pendingin, menaruh mereka di lantai ubin agar kami bisa memotret mereka, lalu dimasukkan kembali. Setiap kali mereka memanggil kami untuk sesi pemotretan, ahli patologi akan ada di depan kami. Seperti kami, mereka tak harus mengenakan seragam, tapi mereka perwira. Selama beberapa bulan pertama mereka adalah petugas berpangkat rendah, tapi kemudian digantikan oleh peringkat lebih tinggi.

Ketika tiba di rumah sakit, mayat-mayat ditandai dengan dua bilangan, ditulis pada pita isolasi, atau langsung dengan pena flomaster di kening atau dada. Pitanya berkualitas jelek dan sering terkelupas. Bilangan pertama adalah nomor tahanan, dan bilangan kedua adalah nomor cabang dinas intelijen di mana dia dipenjara. Ahli patologi, yang tiba lebih awal di pagi hari, akan memberinya bilangan ketiga, untuk laporan medisnya. Ini merupakan bilangan terpenting untuk arsip kami. Dua bilangan lain mungkin ditulis dengan jelek, tak terbaca, atau salah. Kadang terjadi kekeliruan. Ahli patologi menulis bilangan medis pada selembar kartu. Dia, atau seseorang dari dinas keamanan, akan menaruhnya di sebelah mayat atau menyimpannya di tangan mayat selagi kami mengambil gambar. Itulah tangan-tangan yang Anda lihat dalam foto-foto selundupan saya. Bahkan terkadang Anda melihat kaki ahli patologi atau agen keamanan ada di sebelah mayat.

Seorang pria bereaksi saat memandang beberapa foto Caesar, di PBB, New York. Foto: Lucas Jackson/Reuters
Seorang pria bereaksi saat memandang beberapa foto Caesar, di PBB, New York. Foto: Lucas Jackson/Reuters

Para ahli patologi adalah atasan kami. Kami tidak dibolehkan berbicara pada mereka, apalagi bertanya. Ketika salah satu dari mereka memberi perintah, kami patuh. Mereka akan bilang: “Cepat potret mayat-mayat ini, dari No 1 sampai No 30”—contohnya—“terus pergi.” Demi mempermudah identifikasi untuk siapa saja yang mencari arsip, kami harus menjepret setiap jasad beberapa kali—satu muka, satu seluruh badan, satu dari samping, satu dada, satu kaki. Mayat-mayat dikelompokkan menurut cabang—contoh, ada satu tempat untuk intelijen militer Cabang 215 dan satu tempat lain untuk cabang intelijen udara. Itu mempermudah pengambilan foto dan pengarsipannya.

Saya belum pernah menyaksikan yang seperti itu. Sebelum pemberontakan, rezim menyiksa para tahanan untuk mendapat informasi; sekarang mereka menyiksa untuk membunuh. Saya melihat tanda-tanda bekas sundutan lilin menyala, dan tanda bulat tungku—yang biasa dipakai memanaskan teh—yang menghanguskan wajah dan rambut seseorang. Sebagian jasad memiliki luka sayatan dalam, sebagian ada yang matanya dicungkil, gigi mereka patah, Anda bisa melihat bekas-bekas cambukan kabel yang biasa dipakai menstarter mobil. Ada luka penuh nanah, seolah-olah dibiarkan tak diobati untuk waktu lama dan mengalami infeksi. Terkadang mayat-mayat diliputi darah yang tampak segar. Jelas, mereka baru meninggal.

Saya sering mengambil rehat supaya tidak menangis. Saya pergi membasuh muka. Di rumah pun saya merasa gelisah. Saya telah berubah. Biasanya saya sangat tenang, tapi sekarang saya mudah kesal—pada orangtua, saudara-saudara lelaki, dan saudara-saudara perempuan saya. Sungguh, saya ketakutan. Hal-hal yang saya saksikan sepanjang siang terus menghantu saya. Saya membayangkan saudara-saudara saya menjadi mayat-mayat ini. Itu membuat saya tidak enak badan.

Saya tak tahan lagi, dan saya putuskan untuk bicara pada teman saya, Sami.

*****

Caesar ingin berhenti dari pekerjaannya, dia ingin membelot. Sami, insinyur konstruksi, adalah teman lama keluarga. Kedua orang ini sudah saling mengenal selama lebih dari 20 tahun, tapi di bawah rezim, ada hal-hal yang tak diobrolkan siapapun: tak ada yang mengkritisi sistem, bahkan dengan keluarga atau teman dekat. Lalu Caesar menceritakan rahasia padanya: “Saya melihat mayat-mayat yang menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Mereka semua tidak meninggal dengan wajar. Dan setiap hari selalu ada yang baru.” Sambil menangis Caesar berkata: “Apa yang harus saya lakukan?”

Dengan menyakitkan Sami tahu tentang semua kematian kasar yang tak dilaporkan di Suriah selama bertahun-tahun. Para tahanan yang mati dalam kesunyian, di sel-sel bawah tanah rezim; para pengunjuk rasa yang dibunuh dan jasadnya dihilangkan. Dia membujuk Caesar melanjutkan pekerjaan, karena itu memberinya posisi unik untuk mengumpulkan bukti dari dalam sistem. Dia berjanji akan mendukungnya, apapun yang terjadi. Selama dua tahun, sang fotografer muda mempertaruhkan nyawanya untuk menyalin ribuan foto tahanan yang kini dapat kita lihat di internet dan di museum Holocaust di Washington DC.

Sebelum perang sipil, sudah ada penyiksaan di penjara-penjara Suriah. Para tahanan membicarakannya setelah bebas. Rezim menghendaki cerita tersebut disebarkan; mereka ingin itu menjadi peringatan, agar teror memasuki setiap rumahtangga. Tapi foto-foto Caesar memberitakan penyiksaan dan kematian, diindeks dan diarsip oleh rezim. Kali ini, negara sendiri yang menceritakan terornya terhadap rakyat. Gambar-gambar ini, dijepret di sel-sel bawah tanah rumah sakit militer, merupakan bukti kekejaman tak terbantahkan. Dibanding film amatir emosional yang dibuat oleh pejuang kemerdekaan di jalanan kota, dokumen resmi ini membekukan darah.

*****

Pada satu titik mereka mulai mengirim mayat-mayat ke rumah sakit militer Mezzeh, yang jauh lebih besar daripada Tishreen. Nama resminya Rumah Sakit 601. Sementara Tishreen berjarak lima menit berkendara dari kantor kami, butuh setengah jam untuk pergi ke Mezzeh. Memotret jasad di Tishreen lebih mudah karena terlindungi dari cahaya matahari, di kamar mayat atau, bila sudah penuh, di koridor. Di Mezzeh, mereka diterlantarkan di luar ruangan, di tanah, di salah satu garasi di mana mobil-mobil diperbaiki. Rumah sakit ini berada di kaki bukit di mana pengawal presiden bermarkas. Anda bisa melihat bukit itu dalam beberapa foto, bahkan beserta pondok penjaga rumahsakit dan pepohonan yang menandai batas pekarangannya. Istana kepresidenan persis berada di belakang dan di atasnya. Selain memotret mayat, saya dan kolega harus membuatkan arsipnya. Kami harus mencetak foto, menyortirnya berdasarkan kategori, menempelkannya pada kartu, lalu mengarsipnya. Itu pekerjaan metodis—seseorang mencetak foto, orang lain menempelkan atau menghekternya, orang ketiga menulis laporan. Atasan kami menandatanganinya lalu kami mengirimnya ke pengadilan militer. Sebelum pemberontakan, kami berurusan dengan mayat prajurit. Setelah pemberontakan, kami meneruskan pekerjaan yang sama, pada jenazah sipil.

Jumlahnya bertambah, terutama setelah 2012. Pekerjaan berlangsung tanpa henti. Perwira yang mengepalai dinas kami sering berteriak: “Kenapa belum selesai? Mayat-mayat menumpuk! Cepat kerjakan!” Dia pikir kami bermalas-malasan, tapi kami tak mampu bekerja lebih cepat lagi. Selalu ada mayat baru, dan pembelotan di satuan kami menyisakan sedikit anggota kami. Garasi di Mezzeh mulai dipenuhi mayat yang belum sempat kami potret. Di sana, di bawah cahaya mentari dan panas, mayat-mayat tidak bertahan dengan baik, apalagi bila sudah tergeletak selama beberapa hari. Bahkan para prajurit tidak mau menyentuhnya—mereka menggerak-gerakkannya dengan ujung sepatu, mereka tak punya rasa hormat. Mayat-mayat membusuk. Suatu kali saya melihat seekor burung mematuki mata mayat. Kali lain, para serangga menyerang kulit mereka. Dan baunya…kami tak bisa menghilangkannya, itu membuat kami gila. Kami harus menemukan cara mengatasinya, dan kemudian itu menjadi bagian hidup sehari-hari.

Kami bekerja dari jam 8 pagi sampai 2 siang, lalu kami istirahat sampai jam 6 atau 7 petang, sebelum kembali bekerja sampai jam 10 malam. Hari-hari yang panjang, karena kami tak mau meninggalkan apapun sebelum selesai. Kami tahu akan ada mayat baru untuk dipotret keesokan harinya.

Beberapa kali dalam sepekan saya membawa foto-fotonya kepada Sami. Saat sendirian di kantor, saya menyalinnya ke dalam USB flash drive yang mereka berikan pada saya. Saya selalu khawatir kalau-kalau seseorang masuk dan melihat saya. Saat pergi, saya menyembunyikan USB flash drive di dalam tumit atau sabuk. Dalam perjalanan pulang saya harus melewati empat atau lima penghadang jalan militer. Saya ketakutan. Saya tak tahu apa yang mungkin menimpa saya. Bisa saja para prajurit ingin menggeledah saya, meski saya punya kartu identitas militer.

*****

Seperti blok timur era komunis, Suriah merekam dan mengarsipkan setiap keping informasi, setiap dokumen. Negara mencurigai setiap orang dan berusaha mencegah penyimpangan dari aturan. Barangsiapa mematuhi perintah harus menunjukkan bahwa dia telah mematuhinya. Dia harus meyakinkan para atasan akan ketaatannya, karena cemas digolongkan sebagai pendurhaka, pengecut, atau lebih buruk—dan berakhir di penjara tanpa sidang. Jadi, para tahanan mati karena kelaparan atau penyiksaan di pusat-pusat detensi dinas intelijen? Itu rahasia, tentu saja, tapi kejadiannya direkam sebagaimana mestinya dan distempel, di samping akta kematian yang mengaitkan kematian tahanan dengan penyebab alami.

Di kaki istana kepresidenan, mayat-mayat datang hampir setiap hari, untuk diseret, digotong, dan disortir menurut cabang dinas intelijen di mana mereka ditahan. Setiap hari, ahli patologi tiba sekitar jam 7 pagi. Sambil memegang buku catatan, seberkas kertas besar yang dihekter dan dibagi menjadi tiga kolom, dia berpindah dari satu mayat ke mayat lain. Fotografer memotret dengan kamera digital Nikon Coolpix P50 atau Fuji, lalu ahli patologi kembali ke buku catatannya untuk mencatat tiga bilangan di kolom yang bersangkutan.

Seorang prajurit, “saksi”, menyertainya dan memberitahukan karateristik apa yang harus dicatatkan di kolom pertama: perkiraan umur, tinggi, kulit, dan warna rambut, keberadaan tato atau lubang peluru..dan penyebab kematian, biasanya “serangan jantung” atau “masalah pernafasan”. Tentu saja penyiksaan tak disebut-sebut.

Ahli patologi kemudian membuat garis di bawah informasi tersebut dan beralih ke mayat selanjutnya. Secara rata-rata, setiap halaman memuat rincian tiga atau empat mayat. Laporan medis ini diarsipkan di kantor ahli patologi di rumah sakit Tishreen.

Setelah menyelesaikan pemotretan, Caesar dan kolega kembali ke markas untuk menyusun laporan mereka sendiri untuk pengadilan militer. Sebelum perang, di awal pemberontakan, setiap orang mati mempunyai kartu arsipnya sendiri. Lambat-laun, seiring bertambah banyaknya mayat, satu kartu harus menampung rincian 10, lalu 15, lalu 20 tahanan.

Ketika ayah Bashar al-Assad, Hafez, memerintah Suriah, lebih dari 17.000 tahanan menghilang di akhir 1970-an dan awal 1980-an. Syrian Network for Human Rights (SNHR) memperkirakan lebih dari 215.000 orang telah ditahan sejak dimulainya perang sipil, dan bahwa dalam hampir separuh kasus, tak satupun kerabat mereka mendapat informasi. Pada Desember 2014, SNHR berhasil menyusun daftar 110.000 nama.

*****

Melihat foto-foto ini di layar komputer lebih menyakitkan daripada memotret mayat-mayatnya. Di sana, dengan adanya mayat di sekeliling kami, kami tak bisa berlama-lama. Ahli patologi memburu-buru kami, dan para agen dari dinas keamanan mengawasi dan memperhatikan reaksi kami. Di Suriah, setiap orang saling mengawasi. Dan karena kami tak boleh bertanya, lebih mudah untuk menjepret tanpa memperhatikan luka-lukanya; lebih gampang berusaha tak merasakan apa-apa.

Caesar (menyamar dalam jaket biru berkudung) mendengarkan penerjemahnya sebelum dia berbicara di depan US House Committee on Foreign Affairs di Washington DC. Foto: Jonathan Ernst/Reuters
Caesar (menyamar dalam jaket biru berkudung) mendengarkan penerjemahnya sebelum dia berbicara di depan US House Committee on Foreign Affairs di Washington DC. Foto: Jonathan Ernst/Reuters

Namun, di kantor kami, kami punya waktu—tak ada yang memburu-buru kami. Dan di sana, sambil mencetak foto dan menempelkannya, kami tak bisa memalingkan mata. Menyeramkan. Pemandangannya persis di situ: para tahanan hidup kembali di hadapan kami. Kami melihat tubuhnya dengan jelas, kami membayangkan penyiksaannya, kami merasakan pukulan. Lalu kami harus menulis laporan—seolah untuk memancangkannnya sedikit lebih kokoh dalam ingatan kami. Dalam sebulan di sel, wajah seorang tahanan bisa berubah total—sampai kami tak mampu mengenalinya lagi.

Salah satu teman saya meninggal dalam penahanan. Kami memotret tubuhnya tanpa tahu siapa dia. Baru beberapa lama kemudian, sewaktu saya berhati-hati mencarikan informasi untuk ayahnya, saya sadar fotonya pernah melewati tangan kami dan saya tidak mengenalinya. Dia baru dua bulan di penjara. Dan orang ini biasa saya jumpai hampir setiap hari sebelum dia dikurung.

Polisi militerlah yang memberitahu ayahnya bahwa dia meninggal dalam penahanan. Sang ayah tak percaya. Saya sampai harus meyakinkannya: “Saya mengontak rumah sakit militer dan mereka mengkonfirmasi putera Anda sudah meninggal.” Bahkan, saya menggeledah arsip kami dan menemukan fotonya. Tentu saja saya tak dibolehkan memberitahukannya. Tak ada yang tahu bahwa jasad setiap tahanan dipotret sebagaimana wajarnya sebelum dilempar ke dalam kuburan masal.

Suatu hari, salah seorang kolega saya berada di rumah sakit Mezzeh. Mayat-mayat tergolek berdampingan. Selagi berdiri di atas salah satunya, dia mendapat kesan mayat itu masih hidup. Mayat tersebut bernafas tenang. “Haruskah aku memotretnya? Dia masih hidup,” tanya kolega saya kepada para prajurit yang bertanggungjawab mengangkut jasad-jasad.

Ahli patologi datang dan geram. “Apa maksudmu, dia masih hidup? Apa yang harus saya lakukan? Itu akan mengubah semua penomoran!” Dia marah karena sudah mengisi buku catatannya dengan nomor medis mayat-mayat. Jika orang ini masih hidup, dia harus mencoret sebagian, mengalokasikan yang baru, mengulang entri, dan sebagainya. “Jangan khawatir,” kata seorang prajurit. “Pergilah minum teh, ini semua akan disortir begitu kau kembali.” Saat dia kembali, mereka sudah selesai mengambil foto.

Mulanya kami jijik. Muak. Saya hampir tidak makan apa-apa selama tiga atau empat hari. Lalu itu menjadi rutinitas harian, bagian dari kami. Kami meredamnya. Hanya dengan cara itu kami bisa bertahan? Apa lagi yang bisa dilakukan? Jika kami mengekspresikan perasaan kami, kami akan ditahan dan disiksa sampai mati dan bergabung dengan mayat-mayat ini. Kami juga khawatir akan teman dan keluarga kami.

Terdapat sekitar selusin fotografer dalam tim saya. Kami saling mendukung, tapi kami tidak bisa saling curhat. Terkadang, beberapa dari kami berbisik-bisik, tak berani menutup pintu kantor karena khawatir seseorang menganggap kami sedang bersekongkol dan mengkritik rezim. Lagipula, kami tidak dibolehkan menutup pintu. Kami biasa berujar, “Di Hari Pengadilan, kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita: ‘Apa yang kalian lakukan selama ini dengan rezim kriminal ini? Kenapa kalian tetap tinggal?’” Dan kami khawatir. Bagaimana kami menjawabnya?

Selama dua tahun itu saya terperangkap di tengah-tengah. Saya takut ditangkap oleh pemberontak lantaran bekerja untuk rezim, dan takut ditahan oleh rezim karena mengumpulkan bukti penyiksaan ini. Nyawa saya terancam dari kedua sisi—dan keluarga saya juga terancam.

*****

Sami rutin memasok USB flash drive kepada Caesar—mulanya berkapasitas 4 GB atau 8 GB, lalu 16 GB. Terkadang, Caesar khawatir melewatkan beberapa foto, jadi dia menyalin ulang seluruh gambar di bulan itu ke dalam CD, dengan resiko ketahuan yang bertambah. Sami lalu akan menyalin semuanya dua kali—pertama ke hard disk komputernya, dengan nama-nama file generik untuk berjaga kalau-kalau agen rezim menemukannya, lalu ke hard disk eksternal. Proses ini memakan waktu amat lama, tapi ini penting: hanya foto-foto asli yang mengandung metadata (tanggal, tipe kamera, dll) yang akan membuktikan kapan mereka dijepret, dan memiliki format definisi tinggi yang akan memungkinkan analisa luka dan menghasilkan kemungkinan penyebab kematian. Untuk memastikan tak ada yang hilang, foto-foto segera dikirim ke luar negeri via internet—kali ini dalam definisi rendah, demi mempercepat waktu transfer. Dengan terputusnya aliran listrik dan jeleknya sambungan telepon, komunikasi jadi untung-untungan.

Ketika rezim menyerbu kotanya, Sami membawa isteri dan anak-anaknya ke suatu tempat yang aman. Lalu dia kembali untuk menemukan salah satu temannya, yang membantunya mentransfer foto sejak awal. Keduanya mengambil komputer dan hard disk eksternal itu, menempatkannya dalam kantong dan menyembunyikannya di bawah setumpuk sampah. Terlalu bersiko membawanya melewati penghadang jalan militer. Sementara selongsong-selongsong mortir mulai berjatuhan lebih ramai dan prajurit-prajurit pertama bergerak ke jalan-jalan, kedua sahabat bersembunyi di rumah sekitar. Naik ke dalam rongga di atas langit-langit palsu, mereka bersembunyi selama tiga hari tiga malam yang menggelisahkan. Sami memikirkan keluarganya, ayahnya, kelinci-kelinci yang dipelihara di atap rumah mereka. Lewat celah kayu dia mencoba meninjau keadaan. Suatu hari, ingatnya, “Kami melihat para prajurit memaksa seorang pemuda mengucapkan, ‘Tiada Tuhan selain Bashar,’ lalu salah satu dari mereka membunuhnya. “Kami tidak takut mati, tapi kami takut mati seperti itu.”

*****

Kami ingin menyebarkan foto-foto ini agar keluarga para almarhum tahu bahwa orang-orang terkasih mereka telah wafat. Orang-orang harus tahu apa yang sedang berlangsung di penjara dan pusat-pusat detensi. Bila Bashar al-Assad lengser, Anda bisa yakin bahwa rezim akan memusnahkan buktinya.

Kenapa rezim menyimpan foto-foto ini? Saya sering bertanya-tanya. Kenapa mencatat deskripsi mayat dan menyimpan fotonya dalam arsip? Saya orang sederhana, bukan politisi, dan saya akan memberi Anda jawaban sederhana. Dinas intelijen dan keamanan tidak berkolaborasi. Mereka tidak saling mengetahui apa yang dikerjakannya. Masing-masing bertanggungjawab atas organisasinya sendiri dan bekerja untuk kepentingannya sendiri. Selama 50 tahun polisi militer merekam detil-detil kematian akibat kecelakaan yang melibatkan militer, kalau-kalau itu dibutuhkan untuk pengadilan militer. Rezim mendokumentasikan semuanya agar tidak lupa. Oleh sebab itu, mereka mendokumentasikan kematian-kematian ini. Foto-fotonya berguna untuk hakim dan penyelidik. Itu melengkapi catatan mereka. Jika suatu hari hakim harus membuka ulang perkara, dia akan membutuhkannya. Setelah dimulainya revolusi dan selama perang, kami mempertahankan rutinitas yang sama. Dan rezim tak pernah membayangkan kelak pekerjaan kami akan dipakai untuk melawannya.

Dinas-dinas keamanan merasa kebal. Mereka tidak membayangkan kelak mereka akan dituntut bertanggungjawab atas perbuatan aniaya mereka. Mereka tahu negara-negara besar mendukung rezim. Dan mereka tak pernah mengira foto-foto ini akan bocor keluar dan dilihat oleh dunia.

“Kami pikir hasil kerja kami akan menggerakkan opini publik. Tapi para politisi ingin membalik halaman dan bernegosiasi dengan Bashar al-Assad.” Foto: Lucas Jackson/Reuters
“Kami pikir hasil kerja kami akan menggerakkan opini publik. Tapi para politisi ingin membalik halaman dan bernegosiasi dengan Bashar al-Assad.” Foto: Lucas Jackson/Reuters

Bahkan, saya bertanya-tanya apa bos-bos dinas keamanan lebih pintar dari yang kami bayangkan. Sibuk menindas demonstran, merampok penduduk, membunuh, mereka lupa perbuatan aniaya mereka sedang didokumentasikan. Ambil contoh serangan kimia terhadap Ghouta! Orang-orang yang bertanggungjawab atasnya tahu akan ada bukti perbuatan mereka—tapi mereka tetap menembakkan roket.

Selama dua tahun menyalin dokumen-dokumen ini secara diam-diam, saya cemas dengan keselamatan keluarga saya dan diri saya sendiri. Saya telah memulai jalan ini dan tak ada jalan kembali. Saya tahu, suatu hari saya akan berhenti dari pekerjaan ini, tapi entah kapan. Saya terus menunda momennya. Tapi akhirnya saya sadar, saya harus pergi.

Pada Januari 2015, dalam wawancara panjang dengan majalah Amerika Foreign Affairs, presiden Suriah Bashar al-Assad, mengulangi kritiknya terhadap foto-foto ini. Pada satu titik, jurnalis mengangkat “pengeboman membabi buta terhadap target sipil, bukti foto yang diberikan oleh pembelot bernama sandi Caesar…yang menunjukkan penyiksaan dan penganiayaan mengerikan di penjara-penjara Suriah”.

“Siapa yang mengambil gambar?” jawab presiden. “Siapa dia? Tak ada yang tahu. Tak ada verifikasi atas bukti ini, jadi itu semua tuduhan tanpa bukti.”

Tapi foto-foto Caesar sudah dipertimbangkan oleh para penyelidik independen Eropa,” desak jurnalis.

“Tidak, tidak. Itu didanai oleh Qatar, dan mereka bilang sumbernya anonim. Jadi tak ada yang jelas atau terbukti. Gambar-gambarnya tidak jelas, orang mana yang ditunjukkan. Itu semua hanya gambar kepala, contohnya, dengan beberapa tengkorak. Siapa yang bilang ini dilakukan oleh pemerintah, bukan oleh pemberontak? Siapa yang bilang ini korban warga Suriah, bukan orang lain? Contohnya, foto-foto yang dipublikasikan di awal krisis berasal dari Irak dan Yaman…”

Salah satu teman sejawat Caesar, mantan dokter penyakit anak, telah membuat catatan yang mengklasifikasikan berbagai jenis dan derajat penganiayaan yang dialami para tahanan. “Bagaimana orang-orang ini menjadi nomor-nomor anonim?” katanya. “Kita harus mengembalikan identitas para korban. Keluarga mereka berhak tahu apa yang terjadi.” Dia kecewa karena foto-foto ini belum membuahkan hasil nyata. Apa yang sedang dikerjakan para politisi, dia ingin tahu. Dan komunitas internasional? “Kami pikir hasil kerja kami akan menggerakkan opini publik. Foto-foto sudah diperlihatkan kepada UE, Kongres AS di Washington, Dewan HAM PBB. Tapi para politisi ingin membalik halaman dan bernegosiasi dengan Bashar al-Assad. Bagaimana kita sampai pada titik itu?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s