9 Januari 2011
Sumber: www.cironline.org

Ribuan rakyat Iran turun ke jalan-jalan pada 2009 sebagai bagian dari Gerakan Hijau untuk memprotes hasil pemilu presiden yang diperselisihkan. Pemerintah melakukan tindakan keras, termasuk pemenjaraan, penyiksaan, dan pemerkosaan kaum wanita. Laporan ini berbagi sebagian cerita mereka. Ini diproduksi bersama PBS NewsHour.

TRANSKRIP

Jeffrey Brown: Selanjutnya, [kita simak] tinjauan langka mengenai perbedaan pendapat di Iran, termasuk penganiayaan tahanan wanita selama dan sesudah Revolusi Hijau 2009. Yaitu ketika ribuan orang turun ke jalan-jalan Teheran dan kota lainnya untuk memprotes hasil pemilu presiden yang diperselisihkan, sebelum terkena tindakan keras pemerintah.

Cerita kami disampaikan lewat wawancara dengan para wanita Iran yang direkam secara diam-diam. Suara koresponden serta wajah dan suara sebagian wanita diubah untuk melindungi identitas mereka.

Peringatan: beberapa gambar dan ceritanya menimbulkan syok.

Koresponden: Sekarang sudah dua tahun sejak hari-hari berdarah pasca sengketa pemilu presiden. Saya ada di sana, di jalan-jalan, bersama ratusan ribu orang.

Selama huru-hara, yang dikenal sebagai Gerakan Hijau, saya menyaksikan proses-proses penderitaan mengerikan, termasuk kematian Neda Agha Soltan. Itu terekam dalam video dan dipajang di internet hingga dunia melihatnya. Tapi saya merasa terdorong untuk berbagi kisah-kisah tak terungkap dari masa kekacauan tersebut.

Wanita (lewat penerjemah): Saat Neda meninggal, seluruh Iran dan dunia tahu. Tapi saat mereka memperkosa dan menyiksa saya, dan menyundut tubuh saya dengan rokok, tak seorang pun tahu.

Koresponden: Pada suatu hari yang dingin di musim dingin lalu, saya bertemu seorang perempuan 22 tahun, yang saya sebut Layla, di sebuah kafe. Dia seperti gadis ceria dan bawel lainnya. Tapi saya bisa lihat kesedihan mendalam di matanya. Sebulan setelah pemilu yang diperselisihkan, Layla dan beberapa wanita lain ditangkapi secara acak di jalan raya oleh kepolisian yang menuduhnya bagian dari Gerakan Hijau.

Wanita: Ketika mereka menangkap kami dan memasukkan kami ke dalam van dan memukul kami dengan pentungan, mereka terus memukuli kami, dan mencaci-maki kami. Mereka membawa kami ke suatu tempat. Entah di mana. Jendela-jendela van diberi warna.

Koresponden: Dia bilang dirinya dibawa ke penjara rahasia.

Wanita: Ketika sipir mencukur rambut saya, dia sengaja melakukannya sedemikian rupa agar kulit saya terluka parah. Dan dia menyisakan sejumput kecil di bagian depan hanya untuk mengacaukan saya. Saya duduk di kursi selagi dia mencukur rambut saya. Dia memegang saya dari belakang dan menggosok-gosokan dirinya ke tubuh saya.

Koresponden: Selanjutnya, dia disumpal dan ditutupi matanya. Lalu, dengan tangan terikat ke belakang, dia diseret ke ruang interogasi. Setelah diinterogasi sebentar, Layla menyatakan penginterogasinya mulai berkontak fisik dengannya.

Wanita: Saya ketakutan sekali. Pertama-tama dia menjilati wajah saya. Lalu, dia mulai menyentuh bra dan seluruh tubuh saya. Saya berteriak, “Saya mohon, saya mohon jangan. Saya tak bersalah. Saya perawan.”

Dia bilang: “Tidak, kau bukan perawan lagi.”

Lalu dia memperkosa saya. Setelah itu dia mengencingi saya, ke seluruh tubuh saya.

Koresponden: Layla bilang penyiksaannya tidak berakhir di situ.

Wanita: Lalu saya mendengar bunyi pecutan di udara, dan merasakannya di tubuh saya. Kemudian dia melepas ikatan tangan saya dan mulai mengelus lengan saya seperti seorang kekasih. Saya merasa ada sesuatu membakar saya sesaat. Saya menjerit, lalu dia menempeleng saya. Dia mematikan rokoknya di tangan kiri saya.

Dia mematikan rokok lain di lutut saya. Saya masih linglung dalam kesakitan pertama dan kedua ketika merasakan rokok lain di dada, di punggung kaki, dan lain-lainnya, sebungkus rokok berisi 20 batang dimatikan di tubuh saya.

Koresponden: Layla memperlihatkan bekas luka bakar rokok, tapi terlalu takut untuk direkam.

Sementara protes berlanjut di jalan-jalan Teheran, Layla terus diperlakukan secara beringas selama hampir dua bulan.

Wanita: Entah berapa kali dalam sehari saya diperkosa. Bukan hanya oleh satu orang. Ada banyak orang berbeda. Selama berada di sana, saya berkata pada diri sendiri, tegarlah, tenanglah. Akhir dari semua ini adalah kematian, dan kematian hanya akan berlangsung sekejap.

Kematian menjadi keinginan bagi saya. Saya ingin mati.

Koresponden: Layla dibebaskan dengan uang jaminan seratus ribu dolar, ongkos yang sangat tinggi, sampai orangtuanya harus menjual usaha keluarga. Dia tak pernah dikenai tuduhan pidana secara resmi, dan polisi rahasia terus mengawasinya.

Layla adalah salah satu dari beberapa wanita yang berbicara dengan saya selama setahun terakhir, meski bisa-bisa kami semua menghadapi pembalasan dari rezim lantaran bersuara lantang. Menurut International Campaign for Human Rights in Iran, “Pemerkosaan rutin dipraktekkan sebagai kebijakan guna mengintimidasi pemuda biasa supaya tidak berunjuk rasa lagi.”

TV Iran merilis rekaman pusat detensi ini setelah juru bicara Parlemen Iran mengakui hampir 100 kasus pemerkosaan telah didaftarkan. Tapi pemerintah kemudian menolak tuduhan.

Di utara Teheran yang bergunung-gunung, musim dingin lalu saya bertemu seorang perempuan muda yang saya sebut Samira. Dia meminta bertemu saya di sana karena itu salah satu dari sedikit tempat yang dapat didatangi kaum muda tanpa dimata-matai. Samira merupakan penyanyi rap dan memanfaatkan musiknya untuk menyuarakan mereka yang tak mampu bersuara.

Wanita: Yang bisa saya lakukan adalah menulis tentangnya, menulis apa yang saya saksikan, dan menjadi suara bagi orang-orang yang mati dan dipenjara.

Koresponden: Saya pertama kali berjumpa dengannya di hari-hari pertama unjuk rasa 2009. Dia aktivis di Gerakan Hijau, dan melihat seorang pemuda ditembak jatuh di jalan raya di sebelahnya.

Wanita: Saya turun ke jalan-jalan untuk berdemonstrasi. Kami menghadang milisi Basiji selama dua jam hanya dengan melemparkan batu. Seorang lelaki berdiri di sebelah saya dengan topeng di wajah. Beberapa menit sebelumnya saya memberinya batu. Dia roboh dan darah memuncrat dari tengah-tengah keningnya. Lalu seseorang berteriak bahwa itu tembakan langsung.

Koresponden: Apa yang Samira lihat bukan hal aneh. Tak terhitung pengunjuk rasa ditembak oleh milisi Basiji.

Parvin Fahimi adalah ibu salah satu korban. Dia satu-satunya wanita yang bersedia diperkenalkan dalam wawancara saya.

Parvin Fahimi: Saya tak mengerti, sungguh, kenapa anak saya, yang keluar untuk unjuk rasa sipil—yang punya hak untuk bertanya ke mana suara [pemilu] saya? Lalu dijawab dengan peluru.

Koresponden: Putera Fahimi, Sohrab, telah menjadi salah satu martir terkenal Gerakan Hijau.

Parvin Fahimi: Rezim betul-betul ingin membunuhi anak-anak kita. Saya sedih, mereka tidak sadar boleh jadi korbannya anak-anak mereka sendiri.

Koresponden: Dia bilang, meskipun protes jalanan telah mereda, Gerakan hijau masih sangat hidup.

Wanita: Ini kebungkaman amarah. Dan mereka jangan mengira, jika rakyat diam, berarti semuanya beres. Tidak, badai datang setelah ketenangan dan kedamaian.

Koresponden: Layla, wanita yang diperkosa dan diperkosa, menyatakan setuju.

Wanita: Saya Hijau sepenuhnya. Jika saya tak mengenakan pakaian Hijau, itu karena saya tak mau kembali ke sana. Tapi, dalam hati saya, dalam kepala saya, saya adalah Hijau, bahkan dalam darah saya. Jika saya bukan hijau, saya takkan muncul di depan kamera untuk menceritakan pengalaman saya.

Koresponden: Samira, sang penyanyi rap, menyatakan sudah terlalu banyak orang yang menderita, dan tak mungkin kembali seperti sediakala. Dia bernyanyi: “Wahai tawanan dan tahanan di balik dinding-dinding gelap, kita tahu kebebasan adalah takdir kita. Kita, burung-burung dalam sangkar, menyanyikan lagu terbang bersama-sama, sekokoh deretan cemara, berbakti pada tanah Iran. Mentari hijau esok adalah milik kita.”

Margaret Warner: Seperti kami katakan, laporan ini diproduksi bersama Center for Investigative Reporting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s