Oleh: Fiona Keating
12 April 2015
Sumber: www.ibtimes.co.uk

Anggota sekte minoritas Yazidi yang dibebaskan pada 8 April 2015 di pinggiran Kirkuk. (Reuters)
Anggota sekte minoritas Yazidi yang dibebaskan pada 8 April 2015 di pinggiran Kirkuk. (Reuters)

Gadis Yazidi yang dijadikan budak seks oleh ISIS diperkosa oleh sekurangnya 10 pria dan kemungkinan bisa tewas jika melahirkan bayinya, demikian menurut seorang pekerja bantuan.

Gadis ini dibawa ke kamp pengungsi di Irak setelah dia dan lebih dari 200 wanita Yazidi, anak-anak dan sepuh, dibebaskan dekat Kirkuk, utara Irak setelah ditawan selama lebih dari delapan bulan.

Anak tersebut kini dibawa keluar Irak oleh lembaga bantuan Kurdi, menurut Toronto Star. Dia sedang dirawat oleh yayasan medis di Jerman.

Yousif Daoud, pekerja bantuan asal Kanada yang baru pulang dari zona konflik, menyatakan gadis itu “mengalami trauma mental dan fisik” akibat penganiayaan [seksual]. Dia khawatir gadis tersebut tidak bisa bertahan dengan cobaan ini jika mengandung bayinya sampai akhir.

Gadis “dalam kondisi sangat buruk”

“Gadis ini masih begitu muda, dia bisa mati jika melahirkan,” katanya. “Bahkan operasi sesar membahayakan.”

Terdapat kekhawatiran terhadap kesehatan sang gadis. Ketika ditemukan, gadis sembilan tahun ini “dalam kondisi sangat buruk”, ujar Daoud, yang berbicara dengan nama samaran agar tidak kehilangan kepercayaan dari orang-orang Yazidi.

“Dia dianiaya secara seksual oleh tidak kurang 10 pria. Kebanyakan dari mereka dalah pejuang garis depan atau pengebom bunuh diri yang diberi gadis sebagai hadiah.”

Walaupun sebagian pria Yazidi mengaku bersedia menikahi kaum wanita yang kembali dari Islamic State, kecil kemungkinannya ini akan terjadi jika mereka mengandung anak pemerkosa mereka.

“Mengembalikan para gadis dan wanita tersebut adalah cara mempermalukan seluruh komunitas,” kata Daoud.

“Entah bagaimana masa depan bayi mereka. Para gadis dan wanita itu tak menginginkannya. Mereka sudah begitu menderita, mereka ingin melupakannya. Jika mereka sudah berkeluarga, suami mereka takkan menerima mereka kembali jika mereka hamil. Dan jelas bayi-bayi itu takkan pernah diterima.”

Rutinitas “penganiayaan” [seksual] dalam perang

Tak ada alasan atas pembebasan para tahanan, yang terjadi di Himera, baratdaya Kirkuk, 180 mil utara Baghdad.

Dr. Samantha Nutt, pendiri dan direktur eksekutif War Child Canada, menyatakan kekejaman terhadap wanita merupakan “pola penganiayaan dan intimidasi” yang rutin dipakai dalam perang.

“Mekanisme purba ini digunakan untuk mengancam, menganiaya, dan mentraumatisasi,” ujarnya. “Ini upaya untuk menghapus seluruh generasi. Saat seorang gadis diperkosa, berarti seluruh keluarganya dibinasakan, jika bukan seluruh komunitas.”

Anak-anak yang lahir dari pemerkosaan menderita penganiayaan dan kekerasan terus-menerus.

“Bahkan di sekolah, mereka distigmatisasi oleh guru dan sesama murid. Di Uganda, anak-anak hasil perkosaan (oleh pemberontak Tentara Perlawanan Tuhan) dikurung dalam kandang atau dibakar, karena mereka terkait erat dengan agresor dan trauma.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s