Kejahatan Senyap Perang Suriah – Pemerkosaan Masal Sistematis

Oleh: Annick Cojean
11 Maret 2014
Sumber: www.worldcrunch.com

Bukti terus menumpuk bahwa rezim Assad menggunakan pemerkosaan—terhadap anak perempuan di depan ayahnya, isteri di depan suaminya—sebagai senjata bertarget.

Perempuan Suriah memandang Damaskus
Perempuan Suriah memandang Damaskus

AMMAN—Ini kejahatan senyap paling mengerikan yang sedang berlangsung di Suriah. Kejahatan masal, dilakukan oleh rezim dengan cara paling barbar yang mengandalkan tabu paling berakar di masyarakat tradisional Suriah—dan mengandalkan kebungkaman para korban, merasa yakin bahwa mereka akan ditolak oleh keluarga, atau bahkan dihukum mati.

Para penyelidik PBB dan banyak LSM menyebut, gara-gara kebungkaman [korban], mereka gagal mendokumentasikan keterangan tentang maraknya pemerkosaan sistematis sejak pemberontakan pecah di Suriah.

Penyinggungan kejahatan ini sama sekali absen dari perundingan Jenewa, meskipun para aktivis yakin ada puluhan ribu korban. Ya, pemerkosaan telah menjadi senjata perang rahasia Bashar al-Assad selama tiga tahun ini.

Alma (semua nama korban telah diubah), sedang berbaring, kurus-kering, di ranjang rumah sakit di jantung Amman. Dia takkan pernah bisa berjalan lagi, tulang belakangnya hancur oleh pukulan seorang anggota milisi rezim dengan popor senapan. Di bulan-bulan pertama revolusi, ibu empat anak berumur 27 tahun ini, lulusan manajemen, mulai bekerja untuk pemberontak. Awalnya dia membawakan makanan dan obat-obatan. Lalu, dia membawa amunisi dalam paket terikat di perutnya, berpura-pura hamil.

“Kau ingin kebebasan?”

Suatu hari dia ditangkap di pos pemeriksaan di pinggiran Damaskus. Dia menghabiskan 38 hari di pusat detensi dinas intelijen angkatan udara, bersama sekitar 100 wanita lain.

“Dibandingkan dengan ini, Abu Ghraib pasti terasa seperti surga,” ujarnya sambil tersenyum redup, menyinggung penjara Amerika di Irak. “Saya sudah mengalami segalanya! Saya dipukuli, dicambuk dengan kabel baja, disundut dengan rokok di leher, disayat-sayat dengan silet di seluruh tubuh, disetrum di vagina. Setiap hari saya diperkosa sambil ditutup mata oleh beberapa orang yang berbau alkohol dan mematuhi perintah atasan mereka, yang selalu hadir di sana. Mereka berteriak: “Kau ingin kebebasan? Well, ini dia!”

Banyak dari wanita itu, jelasnya, selain menderita kesakitan, berpikir bahwa keluarga akan membunuh mereka jika tahu apa yang menimpa mereka. Tekadnya untuk mendaftar di Free Syrian Army justru semakin kuat. Ketika dibebaskan, dia menjadi salah satu dari wanita langka yang memimpin sebuah batalion, di depan 20 pria, sebelum terluka serius dan diungsikan oleh sesama pemberontak.

Ratusan ribu rakyat Suriah membanjiri Yordania, dan di sinilah, berkat para dokter, pengacara, dan psikolog, kami berhasil mengumpulkan dan merujuk silang banyak kesaksian, serta bertemu empat mata dengan beberapa korban.

“Merusak para ayah, saudara lelaki, dan suami”

Burhan Ghalioun, mantan presiden Syrian National Council dan anggota terkemuka oposisi, menyatakan perhatian internasional semestinya fokus pada pemerkosaan masal yang dilakukan rezim. “Senjata inilah yang membuat revolusi kami, yang bermaksud damai, menjadi begitu keras.”

Sejak awal musim semi 2011, ungkapnya, kampanye pemerkosaan oleh milisi diadakan di dalam rumah-rumah, selagi keluarga ada di sana. Para anak perempuan diperkosa di depan ayah mereka, isteri di depan suami mereka. Kaum pria menjadi sangat marah dan berteriak akan mempertahankan diri dan membalas dendam atas kehormatan mereka. “Dulu saya berpikir, kita harus berbuat semampunya untuk menghindari terjerumus ke dalam fase militerisasi, dan bahwa mempersenjatakan revolusi akan menambah korban tewas sebanyak 100 kali lipat,” kata Ghalioun. “Tapi penggunaan pemerkosaan memutuskan sebaliknya. Dan saya rasa Assad ingin begini. Sekali orang-orang revolusi dipersenjatai, dia bisa dengan mudah menjustifikasi pembantaian terhadap mereka yang sudah disebutnya ‘teroris’.”

Teori ini sulit dibuktikan. Tapi yang tak dapat dipungkiri adalah kekerasan seksual meningkat, sehingga turut berkontribusi pada iklim teror. “Kaum wanita dipakai sebagai alat untuk merusak para ayah, saudara lelaki, dan suami,” kata penulis Samar Yazbek, yang mengungsi ke Prancis. “Jasad-jasad mereka menjadi medan tempur dan kamar penyiksaan. Kebungkaman komunitas internasional terhadap tragedi ini terdengar memekakkan bagi saya.”

Beberapa organisasi internasional telah membuat laporan tentang pemerkosaan yang dilakukan oleh rezim—Amnesty Internasional, International Rescue Committee, International Federation for Human Rights, Human Rights Watch. Tapi mereka semua juga menyebutkan kesulitan ekstrim dalam memperoleh kesaksian langsung, serta bungkamnya korban, takut akan kejahatan demi kehormatan yang dilakukan terhadap para wanita korban perkosaan, dan kegelisahan yang lahir dari persepsi umum bahwa wanita yang ditangkap pasti diperkosa. (Kejahatan demi kehormatan atau honor crime adalah suatu tindakan anggota keluarga terhadap anggota lain yang dianggap telah merusak kehormatan keluarga—penj.)

Sebuah laporan yang terdokumentasi dengan baik, dipublikasikan pada bulan November oleh Euro-Mediterranean Human Rights Network, mengkonfirmasi tingkat tragedi dan menyoroti urgennya penyelidikan kejahatan perang ini—yang, jika terbukti direncanakan, bisa digolongkan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Rezim telah menjadikan kaum wanita sebagai sasaran pertama,” kata Sema Nassar, penulis utama laporan tersebut, via Skype. “Mereka dibidik begitu saja oleh para penembak jitu, terutama wanita hamil. Mereka menjadi perisai manusia, seperti di lingkungan Ashria, di Homs, dan pada Februari 2012, ketika militer memaksa para wanita berjalan di depan pasukan, atau bahkan menyruh mereka naik tank selama patroli. Mereka juga menjadi sasaran penculikan untuk tebusan atau pertukaran. Pemerkosaan sistematis terhadap mereka, baik yang berumur 9 ataupun 60 tahun, merupakan cara untuk memusnahkan seluruh struktur sosial dalam jangka panjang.”

Diperkosa keroyokan di depan kamera

“Ya, saya punya banyak cerita,” kata Sema Nassar. Kasus-kasus spesifik, disertai tanggal. Lusinan kasus. Seperti gadis belia dari Hama ini, yang sekarang menjadi pengungsi di AS. Dia sedang berada di rumah bersama tiga saudara lelakinya ketika para tentara menghambur masuk dan menyuruh mereka memperkosanya. Saudara pertama menolak; mereka memenggalnya. Saudara kedua menolak; dia mengalami nasib yang sama. Saudara ketiga menerima, mereka membunuhnya di atas sang gadis, yang kemudian mereka perkosa.

Atau, ada cerita yang disampaikan seorang perempuan Suriah lain, tentang dirinya dibawa ke sebuah rumah di pinggiran Homs pada musim panas 2012, bersama sekitar 20 wanita lain. Mereka disiksa dan diperkosa keroyokan di depan kamera. Rekaman itu kemudian dikirim kepada pamannya, seorang syeikh terkemuka, penceramah di televisi, dan anggota oposisi.

“Praktek ini sangat sering dalam penyergapan desa-desa dan berlangsung sistematis di pusat-pusat detensi milik dinas rahasia,” kata kepala Syrian League for Human Rights, Abdel Karim Rihaoui. Kini tinggal di Kairo, dia memperkirakan lebih dari 50.000 wanita telah diperkosa di penjara-penjara Bashar al-Assad sejak dimulainya revolusi.

Lecutan elektrik

Di kamp pengungsi Suriah Zaatari, 80 kilometer dari Amman, kami bertemu Salma, yang tampak kelelahan secara fisik, tak ada kehidupan di matanya. Dia lahir di Daraa sekitar 50 tahun lalu tapi tinggal di Damaskus bersama suami dan delapan anaknya. Pada 2011, dia tercengang mendapati bahwa, sebagai pembalasan terhadap pemberontakan di kampung halamannya, anak-anaknya dikeluarkan dari sekolah di ibukota. “Atas nama apa Anda menghukum anak-anak saya? Mereka tak ada sangkutpautnya dengan peristiwa ini!” keluhnya kepada kepala sekolah.

Kata-katanya bahkan belum selesai ketika dinas rahasia menghambur masuk. Mereka membungkus kepalanya dengan karung dan menggiringnya ke besmen pusat detensi, di mana dia dilempar ke dalam sel gelap-gulit yang dipenuhi tikus. Dia menghabiskan dua hari dalam kurungan terpisah, tanpa makanan atau air, sebelum bergabung dengan dua wanita lain di sebuah sel kecil di mana dia menghabiskan waktu enam bulan. “Kami tak bisa berbaring. Kami tak diizinkan membersihkan tubuh, bahkan di masa haid kami. Kami diperkosa setiap hari, seraya mereka bernyanyi: “Kami Alawit akan memusnahkan kalian.” Jika ada satu saja isyarat protes, kami akan terkena lecutan listrik pada vagina atau anus. Mereka memukuli saya sampai kaki saya patah. Menghitam. Keluarga tidak mendengar kabar saya selama enam bulan. Karena tidak bisa membaca atau menulis, saya menandatangani pengakuan dengan jari telunjuk.” Ketika dia dibebaskan, suaminya sudah pergi dengan mobil mereka.

Trauma tak terobati

Oum Mohamed, 45 tahun, ditangkap di jalan raya bersama puterinya pada 21 September 2012, dan dibawa ke bandara militer Mezzeh. Karena ponsel sang pelajar (puterinya) menampilkan bendera perlawanan dan foto seorang “syahid”, kedua perempuan ini dipenjara selama 20 hari. Selama itu mereka dipukuli, diperkosa, dikurung dalam sel berukuran empat meter persegi bersama 17 wanita lain dan beberapa anak kecil. Seorang wanita, isteri anggota Free Syrian Army yang dicurigai terlibat menculik 48 orang Iran dalam sebuah bus pada Agustus 2012, ada di sana bersama anak-anaknya yang berumur 8 dan 9. Suami seorang perempuan lain, direktur penjara yang dihukum lantaran menentang penyiksaan biadab, ditahan di lantai bawah, agar bisa mendengar jeritan isterinya saat diperkosa. “Segalanya dipandang sebagai peluang untuk melakukan penganiayaan seksual,” ujar si isteri, sambil berlinang air mata. Dia khawatir masa depan puterinya, yang kehilangan berat badan hampir 45 pon, hancur selama-lamanya.

Para dokter mendeskripsikan vagina-vagina “yang rusak”’ tubuh-tubuh yang disiksa, trauma yang tak terobati. Jadi pertanyaan berikutnya: apakah inisiatif barbar ini dilakukan oleh sekelompok serdadu bayaran yang dibiarkan perlengkapannya sendiri, atau bagian dari strategi terencana, dikerahkan oleh hirarki berdasarkan perintah?

Kepala Syrian League for Human Rights Abdel Karim Rihaoui tidak menyimpan keraguan sedikitpun: “Itu pilihan politik yang diambil untuk menghancurkan orang-orang. Teknik, sadisme, penyimpangan: semuanya diorganisir secara cermat. Itu bukan kebetulan. Kesaksian-kesaksiannya serupa dan beberapa pemerkosa sendiri sudah mengakui bahwa mereka beraksi berdasarkan perintah.”

Para pengacara yang kami dekati di Suriah juga berpendapat demikian, terlepas dari sulitnya mengumpulkan bukti. “Saya punya foto-foto obat perangsang [seksual] yang dikemas para anggota milisi sebelum berangkat melakukan penyergapan di sebuah desa,” kata Sema Nassar. Beberapa kesaksian juga melaporkan penggunaan produk pelumpuh yang disuntikkan ke paha kaum wanita sebelum mereka diperkosa.

Lebih buruk dari kematian

Salah satu korban, Amal, menjelaskan bahwa di sebuah pusat detensi Damaskus, seorang dokter bernama sandi “Dr. Cetamol” berkeliling sel untuk mencatat tanggal haid setiap wanita, dan menyerahkan pil KB. “Kami tinggal di antara najis, darah, tinja, tanpa air dan hampir tanpa makanan. Tapi kami sangat takut hamil sehingga menelan pil-pil ini dengan teliti. Suatu kali, ketika saya terlambat haid, dokter memberikan pil yang membuat saya sakit perut semalaman.” Para ahli menyebut ini kesaksian krusial dalam membuktikan perencanaan pemerkosaan di pusat detensi.

Tapi bayi-bayi terlahir dari pemerkosaan keroyokan ini, mengakibatkan serangkaian tragedi. Di Latakia, seorang perempuan muda melakukan bunuh diri lantaran tak mampu menggugurkan kandungan. Seorang lain dilempar dari balkon lantai satu oleh ayahnya. Babi-bayi yang baru lahir ditemukan di waktu fajar di gang-gang di Daraa.

“Bagaimana kita bisa menolong para wanita ini?” tanya Alia Mansour, anggota Syrian National Coalition. “Mereka begitu ketakutan saat dibebaskan dari pusat detensi, sampai-sampai mereka mengucilkan diri dalam keputusasaan, tanpa bisa meminta pertolongan.”

Di Homs, penyair Suriah Lina Tibi menceritakan seorang wanita yang berhasil mengadakan 50 operasi selaput dara, dalam satu pekan dan sangat rahasia, terhadap gadis-gadis berumur 13 s/d 16 yang diperkosa. “Itu satu-satunya cara menyelamatkan hidup mereka.”

Tapi keluarga berantakan. Para suami berpaling dan menceraikan. Di Homs, keluarga mertua seorang wanita yang bahkan belum dilepaskan dari penjara membuang barang-barangnya keluar rumah. Para orangtua mendesak puteri-puteri mereka menikah dengan siapapun pria pertama yang bersedia.

“Dunia disibukkan dengan senjata kimia, tapi bagi kami, wanita Suriah, pemerkosaan lebih buruk daripada kematian,” bisik seorang mahasiswi hukum, dalam linangan air mata. Dia belum bercerita pada siapapun tentang tragedinya. Apalagi kepada suaminya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s