Oleh: Alfred Hackensberger
3 Februari 2014
Sumber: www.worldcrunch.com

Yang satu disiksa oleh rezim, yang satu lagi oleh pemberontak Muslim, keduanya menawarkan bukti kekejaman terburuk yang merajalela di Suriah hari ini.

Patung di museum Suriah yang memperlihatkan metode-metode penyiksaan tahanan. (Die Welt)
Patung di museum Suriah yang memperlihatkan metode-metode penyiksaan tahanan. (Die Welt)

GAZIANTEP—Mohammed Jabri menghabiskan 67 hari di penjara terkenal keji yang dikelola oleh dinas rahasia politik Suriah di area Mezzeh, Damaskus. “Para korban dalam foto sudah pergi ke surga sebagai syahid,” kata lelaki 25 tahun ini. “Tapi ada ribuan lain yang menghuni neraka tersebut.”

Jabri mampu bertahan dengan kondisi tak manusiawi dan pekan-pekan penyiksaan hanya karena mujur. Foto yang dirujuknya adalah gambar-gambar menyeramkan yang menimbulkan kemurkaan dunia sejak terungkap bulan lalu. Foto-foto itu memperlihatkan mayat-mayat berlumuran darah yang memuat bilur-bilur merah dalam pada batang tubuh atas dan tanda cekikan di leher. Secara keseluruhan terdapat 55.000 gambar dari 11.000 korban yang diduga ditahan rezim Suriah.

Seorang pembelot militer mengaku menyelundupkan bukti tersebut dari Suriah; dan keaslian foto-fotonya sudah diselidiki oleh komite yang diketuai Sir Desmond de Silva, mantan kepala jaksa pengadilan khusus Sierra Leone. “Kami yakin dokumen-dokumen ini asli dan akan tegak di pengadilan,” katanya.

Jabri menolak keraguan orang-orang yang menyoroti bahwa Qatar, negara penentang kuat rezim Suriah, membantu membiayai operasi tersebut. “Terserah Anda mau bilang apa. Foto-foto ini nyata dan diambil di penjara Mezzeh di mana saya pernah berada.”

Bagaimana dia sampai ke sana

Insinyur komunikasi, Jabri ditangkap pada November 2012 di perbatasan Suriah-Lebanon. Di bawah siksaan, seorang teman memberikan namanya kepada dinas rahasia Suriah sebagai anggota oposisi.

Tapi Jabri sudah pernah mengalami kekejaman rezim setelah penahanan pertamanya dalam demonstrasi 2011. Sejak awal, ketika mereka dibawa ke penjara, para tahanan diseret-seret dengan rambut mereka, dan kepala mereka dibenturkan ke batang logam kursi.

Jabri tidak kaget dengan munculnya keterangan video dan fotografis berisi insiden demikian. “Mereka mendokumentasikan semuanya,” jelasnya, “agar mereka punya bukti untuk bos-bos mereka bahwa mereka sedang melakukan sesuatu terhadap para teroris.”

Dia dibebaskan setelah beberapa hari dan beberapa pemukulan. Tapi Jabri takkan pernah melupakan apa yang menimpanya ketika ditangkap pada kali kedua di perbatasan.

“Ada 35 orang dalam sel berukuran sembilan meter persegi,” kata sang mantan tahanan. “Kami harus tidur bergiliran. Delapan orang berbaring dekat pintu masuk dan lima dekat toilet, yang paling tak nyaman.” Air seni dan tinja bocor dari toilet sehingga luka akibat siksaan seringkali terinfeksi serius.

Meski hawa sel sangat panas, sehingga lazimnya para tahanan hanya menyisakan pakaian dalam, mereka tetap mengenakan pakaian karena bisa dipanggil kapan saja ke kamar penyiksaan—dan dipukuli dengan pakaian terpasang lebih ringan daripada dengan kulit telanjang.

Pada salah satu tembok sel terdapat tulisan seorang mantan tahanan: Kami tidak mati, tapi kami lihat siapa saja pelakunya. “Saat saya membacanya,” ujar Jabri sambil berlinang air mata, “Saya betul-betul merasa di sanalah saya akan mati.”

Pemukulan, pemerkosaan, pertukaran

Sambil berbicara kepada seorang tamu, Jabri tak sanggup duduk lebih lama lagi—dia terlalu gelisah sewaktu membuat sketsa tata ruang bekas selnya dan area penjara pada selembar kertas. “Ketika saya mengingat semua ini, saya jadi gugup,” katanya, menggambar dengan kalut. “Ini sel saya, waktu itu ada lebih dari 18 sel di belakang ini serta beberapa sel individu kecil. Tikus-tikus menggerogoti makanan dan menggigiti para tahanan.”

Kemudian dia menggambar sebuah terusan. “Ini adalah rangka-rangka logam yang menggantung hingga lima tahanan terborgol,” ungkap Jabri. Jabri bergelantung di sana, matanya ditutupi, sekali selama 12 jam, sekali selama 16 jam, lalu selama 2 hari, dan terakhir selama lima hari penuh. “Dan saya terus-menerus dipukuli dengan kabel atau tongkat.” Suatu kali dia diperkosa dengan tongkat setelah itu para penyiksanya memasukkan tongkat tersebut ke dalam mulutnya. “Enak?” tanya seorang perwira.

Seorang sipir tidur di area. Bila dia terbangunkan oleh jeritan kesakitan, dia akan membagi-bagikan pukulan tambahan. “Ada satu perwira yang sangat jahat,” kenang Jabri. “Namanya Saleh Ali. Dia menganggap dirinya Tuhan.”

Bila Jabri sedang tidak digantung pada rangka logam, dia mendapat kejutan listrik di belakang kepalanya dan di alat kelaminnya. “Orang-orang tua dan lemah tak mampu memikulnya,” katanya, dan segera teriakan mereka melemah, sebelum membisu, selagi mereka meluncur menuju kematian.

“Para sipir suka melepas pukulan pada kuku. Jemari kami membengkak hebat sehingga tak bisa makan—itu pun jika ada yang bisa dimakan.” Biasanya ada hidangan dengan minyak zaitun untuk dibagi-bagi bersama. Yang istimewa adalah sup kacang miju, tapi terlalu encer sehingga tak ada bekas miju sungguhan, ungkapnya. “Tak pernah cukup untuk semua orang. Bagaimana bisa Anda makan tanpa roti atau bahkan sendok?” tanyanya, seraya menambahkan bahwa orang-orang yang lebih lama dipenjara mulai kelaparan.

Di area Jabri terdapat pula 10 sel yang dipenuhi tahanan perempuan. Berumur antara 16 sampai 24, mereka dihina secara cabul dan direndahkan derajatnya oleh para sipir, tapi Jabri tak tahu apakah mereka diperkosa, seperti dilaporkan mantan-mantan tahanan wanita lain.

Dia ingat seorang bocah 13 tahun di selnya. Mereka menuduhnya membunuh 15 anggota polisi, dan mencuri senapan mesin lalu membunuh lima sipir dengannya. “Ketika bocah itu menyatakan dirinya terlalu lemah untuk menggunakan senapan mesin, mereka mengalihkan tuduhan kepada pamannya yang juga dipenjara,” kata Jabri, mencirikan sistemnya sama sekali sewenang-wenang.

Jabri disidik jari dan disuruh menandatangani catatan interogasi 15 halaman dengan mata terikat. “Demikian pula setiap orang. Tak ada yang tahu apa yang ditulis para pejabat di kertas yang kami tandatangani.”

Ajaibnya, setelah lebih dari dua bulan, Jabri dibebaskan. Dia salah satu dari 2.250 tahanan yang dilepaskan pleh rezim Presiden Bashar al-Assad sebagai pertukaran dengan 48 warga Iran yang diculik oleh pemberontak Suriah. Hari ini Jabri bekerja untuk Hawa Smart, stasiun radio revolusi Suriah di Gaziantep, Turki, perbatasan Suriah.

Juga siksaan di Aleppo

Ahmed Primo, anggota oposisi lainnya, yang, seperti Jabri, berkomitmen pada aksi damai untuk memperjuangkan demokrasi, turut membayar harga mahal. “Hanya saja saya dipenjara di Aleppo,” kata lelaki 28 tahun ini. “Tidak seburuk di Damaskus, tapi saya juga disiksa secara sistematis, seperti para tahanan lain di penjara saya.”

Primo tidak sebawel Jabri. Dia masih tampak trauma. Aktivis media ini baru dilepaskan pada 9 Januari. Dia bertahan selama sebulan di penjara rezim tapi kemudian diculik oleh kelompok pemberontak ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant). [Bekas] kelompok al-Qaeda ini menahannya selama 53 hari gara-gara kritiknya terhadap organisasi radikal tersebut.

“Seperti rezim, mereka menyiksa saya dengan kejutan listrik di bawah lidah dan di alat kelamin. Saya juga digantung selama berhari-hari,” ungkapnya. Dia merasa terpukul dengan fakta bahwa penyiksanya ternyata seorang kawan lama. “Selama hari-hari pertama revolusi, kami berdua berdemonstrasi menentang Assad. Tapi kemudian dia bergabung dengan ISIL,” ujar Primo.

Penjara ISIL terletak di sebuah rumah sakit anak di area Kadi Asker, Aleppo. Primo juga beruntung. Pada waktu penahanannya, pecah pertempuran antara [bekas] kelompok al-Qaeda ini dan beberapa brigade Free Syrian Army (FSA). Nama Primo sudah ditempatkan di daftar tahanan yang akan dieksekusi, tapi keadaan berubah.

FSA menyerang rumah sakit, dan ISIL buru-buru mundur, berarti tak ada waktu untuk mengumpulkan dan menembaki para tahanan. Jadi Primo, bersama sekitar 200 lainnya, terbebaskan. Dia juga saat ini berada di Gaziantep, Turki. Dia mengaku tak menyimpan rasa dendam, baik terhadap rezim ataupun teman yang menyiksanya.

“Saya bukan prajurit dan tak punya banyak truk berisi senjata. Yang saya cari adalah pekerjaan untuk bisa membantu perkembangan revolusi secara damai.” Kepada seorang tamu dia memperlihatkan bekas-bekas luka besar hasil penyiksaan di kedua tangan dan lututnya. Begitu banyak kesakitan, begitu banyak kekejaman.

Laporan dari kedua orang ini menawarkan bukti berharga akan kekejaman yang ditimbulkan, tapi juga mempersulit kita untuk membayangkan hari rekonsiliasi di Suriah yang baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s