Krisis Pemerkosaan Masif di Suriah

Oleh: Lauren Wolfe
3 April 2013
Sumber: www.womenundersiegeproject.org

Seorang ibu menyembunyikan jati dirinya sambil mengangkat bayinya di sebuah tenda keluarga di Zaatari, kamp pengungsi warga Suriah di Yordania, 5 Februari. Pada Januari, International Rescue Committee menyebut kekerasan seksual sebagai alasan utama para wanita dan gadis melarikan diri dari Suriah. (Heidi Levine/Sipa Press)
Seorang ibu menyembunyikan jati dirinya sambil mengangkat bayinya di sebuah tenda keluarga di Zaatari, kamp pengungsi warga Suriah di Yordania, 5 Februari. Pada Januari, International Rescue Committee menyebut kekerasan seksual sebagai alasan utama para wanita dan gadis melarikan diri dari Suriah. (Heidi Levine/Sipa Press)

Suatu hari di musim gugur 2012, pasukan pemerintah Suriah membawa tunangan, saudari-saudari, ibu, dan tetangga seorang prajurit muda Free Syrian Army ke penjara Suriah di mana dirinya ditahan. Satu persatu, ungkapnya, mereka diperkosa di hadapannya.

Pemuda 18 tahun ini sudah menjadi serdadu FSA kurang dari sebulan ketika dirinya diciduk. Menangis tak terkendali saat menceritakan penyiksaannya di pusat detensi kepada psikiater bernama Yassar Kanawati, dia mengaku tulang belakangnya cedera oleh para penahannya. Semua pria lain yang ditahan bersamanya diperkosa, ujarnya kepada sang dokter. Ketika Kanawati menanyakan apa dia juga diperkosa, dia membisu.

Walaupun kebanyakan liputan perang sipil Suriah cenderung fokus pada pertempuran di antara kedua pihak, perang ini, seperti pada umumnya, mempunyai dimensi tersembunyi dan membahayakan: pemerkosaan dikabarkan dipakai secara luas sebagai alat pengendalian, intimidasi, dan penghinaan sepanjang konflik. Dan efek-efeknya, meski tidak selalu fatal, menciptakan bangsa berisi korban trauma—mulai dari korban langsung hingga anak-anak yang menyaksikan atau terpengaruh oleh apa yang dilakukan terhadap kerabat mereka.

Pada September 2012, saya berada di AS ketika Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menggemparkan ruangan yang diterangi lampu pendar, berisi birokrat-birokrat bertampang bosan, dengan menyatakan apa yang terjadi dalam perang Bosnia “sedang terulang saat ini di Suriah”. Dia merujuk pemerkosaan puluhan ribu wanita dalam konflik tersebut pada 1990-an.

“Terhadap setiap perang dan konflik besar, sebagai komunitas internasional kita menyatakan ‘jangan ada lagi’ pemerkosaan masal,” kata Peraih Nobel Jody Williams, salah satu ketua International Campaign to Stop Rape and Gender Violence in Conflict. [Sebagai informasi, saya termasuk anggota komite penasehat kampanye ini.] “Tapi di Suriah, sementara tak terhitung wanita mendapati tubuh mereka diperangi—lagi-lagi kita berpangku-tangan dan meremas tangan.”

Setelah Holocaust, kita bilang kita takkan pernah lupa; setelah Darfur, kita mengatakannya. Barangkali kita juga mengatakannya setelah pemerkosaan masal Bosnia dan Rwanda, tapi mungkin lebih tepatnya “kita tidak boleh lupa”, karena terdapat kebersalahan global di mana kita cuma duduk santai dan membiarkan tragedi-tragedi serupa terjadi sejak saat itu dan baru disadari kemudian—kita sudah lupa.

Mungkinkah kita sudah lupa bahwa terhampar bencana kemanusiaan di Suriah bahkan sebelum itu berakhir?

*****

Memanfaatkan peta bersumber banyak selama setahun terakhir, tim kami di proyek Women Under Siege (Women’s Media Center), bersama ahli epidemiologi Universitas Columbia, Syrian-American Medical Society, dan aktivis dan jurnalis Suriah, telah mendokumentasikan dan mengumpulkan data untuk menghitung di mana dan bagaimana wanita dan pria diperkosa dalam perang Suriah. Dan, barangkali yang terpenting, oleh siapa.

Kami memperinci 162 cerita yang kami kumpulkan sejak awal konflik pada Maret 2011 hingga Maret 2013 menjadi 226 keping data terpisah. Semua laporan kami saat ini ditandai “tak terverifikasi” (bahkan laporan yang datang dari sumber terkenal seperti Human Rights Watch, PBB, dan kantor berita semacam BBC) karena kami belum bisa mengkonfirmasinya secara independen. 8% laporan kami mencakup korban perempuan, dengan rentang usia 7 s/d 46. Dari wanita-wanita tersebut, 85%-nya melaporkan pemerkosaan; 10% melibatkan serangan seksual tanpa penetrasi; dan 10% melibatkan penahanan yang dimaksudkan untuk kekerasan seksual atau perbudakan selama lebih dari 24 jam. (Secara umum kami memakai kategori ini saat mendengar para prajurit menyatakan diperintahkan menahan kaum wanita untuk diperkosa; kami tidak menebak-nebak dengan sengaja.) Pemerkosaan keroyokan diduga terjadi dalam 40% laporan tentang perempuan.

Jenis Serangan Seksual

Pada pertengahan Maret, saya berada di Michigan, dikelilingi orang Suriah yang tinggal di sini tapi membantu saudara sebangsa mereka di kamp-kamp pengungsi dan pusat-pusat layanan kesehatan. Hari itu psikolog Kanawati memberitahu saya bahwa dia habis berkunjung ke sebuah keluarga pengungsi di Yordania dan mendengarkan salah satu dari tiga bersaudari bercerita bagaimana sekelompok prajurit Suriah datang ke rumah mereka di Homs, mengikat ayah dan saudara mereka, dan memperkosa mereka bertiga di hadapan keduanya. Wanita ini menangis sambil terus melukiskan bagaimana setelah memperkosa, prajurit-prajurit itu membuka kaki mereka dan membakar vagina mereka dengan rokok, seraya mengatakan ini: “Kau ingin kebebasan? Inilah kebebasan.”

Sang psikiater menanyai salah satu dari tiga bersaudari, yang sedang menggendong bayi, “Apa bayi itu hasil perkosaan?” Si wanita mengganti topik pembicaraan.

Semua wanita ini mengalami mimpi buruk, kata Kanawati; semuanya mengalami PTSD. Kini, katanya, dua saudari dipekerjakan di Amman, tapi sang ibu (saudari ketiga), yang tidak bekerja, “disibukkan oleh bayi”. Sementara saudara lelaki mereka tak mau bicara.

Keluarga mereka hidup dengan trauma yang menjangkau lintas generasi.

Kaum lelaki bukan hanya menjadi saksi kekerasan seksual di Suriah; mereka juga mengalaminya langsung. 43 laporan di peta kami—sekitar 20%—melibatkan serangan [seksual] terhadap pria dan bocah, semuanya berusia antara 11 s/d 56. Hampir semua laporan mengenai pria melibatkan pemerkosaan, sedangkan seperempatnya merupakan kekerasan seksual tanpa penetrasi, seperti kejutan pada alat kelamin. 16% dari pria-pria yang diperkosa dalam laporan kami diduga diperkosa oleh banyak pelaku.

Pelaku pemerintah diduga melakukan mayoritas serangan yang sudah bisa kami telusuri: 60% serangan terhadap pria dan wanita dilaporkan dilakukan oleh pasukan pemerintah, 17% lainnya oleh pasukan pemerintah dan shabiha (milisi berpakaian preman) secara bersama-sama. Berkenaan dengan pemerkosaan wanita, pasukan pemerintah diduga melakukan 54% serangan ini; shabiha diduga melakukan 20%; kerjasama pemerintah dan shabiha 6%.

Pelaku Kekerasan Seksual

Secara keseluruhan, FSA diduga melakukan kurang dari 1% dalam laporan total kami. Sekitar 15% dilakukan oleh pelaku lain atau tak dikenal.

Berkenaan dengan kaum pria, lebih dari 90% laporan kekerasan seksual diduga dilakukan oleh pasukan pemerintah, yang mungkin bisa dijelaskan dengan fakta bahwa kebanyakan serangan ini terjadi di fasilitas detensi. Lama dipakai sebagai senjata terhadap tahanan di Suriah dan banyak wilayah dunia, pemerkosaan rupanya dimanfaatkan sepanjang konflik ini dengan cara kreatif dan menghancurluluhkan jiwa. Selain hanya memperkosa tahanan, para anggota shabiha atau tentara Suriah diduga melakukan pemerkosaan anggota keluarga atau wanita lain di hadapan para tahanan.

Kekejian otomatis tenggelam ketika korban meninggal, dan pelaku di seluruh dunia tahu ini. Salah satu alasan kenapa kami memilih menelusuri langsung kekerasan seksual di Suriah adalah karena begitu banyak bukti yang hilang dalam perang. Coba pikirkan, 18% wanita dalam laporan kami disaksikan dibunuh atau ditemukan tewas setelah kekerasan seksual. Pertimbangkan laporan ini, dari situs berita Ya Libnan di Beirut, yang menguraikan pengakuan seorang tentara Suriah yang mengaku diperintah “untuk memperkosa gadis-gadis remaja di Homs pada akhir tahun lalu”.

“Para gadis umumnya ditembak setelah setiap orang [prajurit] selesai [melampiaskan nafsu mereka],” kata prajurit Suriah. “Mereka ingin masyarakat sekitar tahu bahwa gadis-gadis itu sudah diperkosa, tapi mereka tak mau para gadis tetap hidup dan bisa mengenali mereka nantinya.”

Karena ada akibat pribadi yang mengganggu dan kurang terdokumentasi pasca kekerasan seksual, kami juga menelusuri dampaknya terhadap kesehatan jiwa dan fisik. 10% wanita dalam laporan kami rupanya menderita gugup, depresi, atau trauma psikologis lain, dan ini jelas perkiraan rendah mengingat perbuatan-perbuatan yang digambarkan. 3% wanita dilaporkan hamil akibat pemerkosaan, 2% menderita penyakit fisik kronis akibat kekerasan.

*****

Saat saya tanyakan kepada Kanawati berapa banyak wanita korban perkosaan yang sudah berbicara dengannya dan diterapi olehnya, dia bilang mustahil memastikannya. Dia telah mewawancarai lusinan pengungsi yang diperkosa atau disiksa secara seksual, kebanyakan di Homs. Berasal dari Damaskus, kini dia menjadi direktur medis Family Intervention Specialist di area Atlanta dan bekerja untuk para pengungsi Suriah di Amman dengan dukungan Syrian-American Medical Society.

“Keluarga-keluarga Suriah sangat konservatif dan saya selalu bilang pada mereka: ‘Pemerkosaan adalah cara untuk menghancurkan keluarga. Cara termudah,’” kata Kanawati. “Saya katakan pada mereka, ‘Jangan biarkan ini menghancurkan kalian—itu yang mereka mau.’ Namun ketika saya menyampaikannya kepada para wanita, mereka bilang, ‘Katakan itu pada suami-suami kami.’”

Dia melukiskan bagaimana para wanita berulangkali bercerita bahwa tetangga-tetangga mereka diperkosa, biasanya oleh lebih dari satu pria, dan bagaimana setiap kali detil yang mereka sampaikan dan trauma yang mereka pancarkan meyakinkannya bahwa cerita itu sebetulnya bukan tentang “tetangga”, tapi diri mereka sendiri. Lebih dari itu, para pencerita biasanya kemudian melukiskan bagaimana suami “tetangga” meninggalkan sang wanita.

Seks di luar nikah, apalagi pelanggaran terhadap wanita dalam tindakan perkosaan, ujar Kanawati, “sama sekali tabu”.

Gadis 4 tahun dari Homs menggambar ini untuk seorang psikiater di Amman. Gadis ini telah menyaksikan pamannya dibunuh dengan tank, dan terus-terusan berucap “Paman, tank, darah”, menurut sang psikiater. Ibunya mengatakan tetangga mereka diperkosa oleh prajurit-prajurit Suriah di hari yang sama. (Yassar Kanawati)
Gadis 4 tahun dari Homs menggambar ini untuk seorang psikiater di Amman. Gadis ini telah menyaksikan pamannya dibunuh dengan tank, dan terus-terusan berucap “Paman, tank, darah”, menurut sang psikiater. Ibunya mengatakan tetangga mereka diperkosa oleh prajurit-prajurit Suriah di hari yang sama. (Yassar Kanawati)

Erin Galagher, mentan penyelidik kekerasan seksual dan berbasis gender untuk Komisi Penyelidikan PBB untuk Suriah (dan sebelumnya untuk Libya), menghabiskan berbulan-bulan berbincang dengan para wanita dan pria Suriah di kamp-kamp Yordania dan Turki. Dia bilang sulit sekali memperoleh pemikiran akurat tentang jangkauan kejahatan seksual di Suriah ini dan bahwa “ada lebih banyak korban di luar sana daripada apa yang kami temukan”. Untuk mengetahui jangkauannya, ujarnya, “akan memakan waktu, perlu membangun kepercayaan, dan pendekatan menyeluruh dan lebih luas.”

Kanawati menyebut, adiknya, ahli kebidanan dan ginekologi yang tinggal di Damaskus, pernah berkata pelan-pelan padanya (karena takut kedengaran), “Kau takkan percaya berapa banyak pemerkosaan yang terjadi.” Adiknya merawat para wanita yang mengaku diperkosa oleh tentara atau milisi shabiha di wilayah pedesaan sekitar kota tersebut.

Gallagher menjelaskan kenapa begitu sedikit korban kekerasan seksual di Suriah yang tampil ke permukaan.

“Realitanya, mereka akan rugi banyak dan untung sedikit jika berbuat demikian di waktu seperti ini, karena banyak alasan,” katanya. Perlu banyak keberanian dan kekuatan untuk korban angkat bicara dan mereka mungkin melakukannya dengan dukungan yang sedikit. Selain aib dan pengucilan yang mungkin dialami korban, mereka kini berada di lingkungan tak aman gara-gara perang. Mereka mungkin tinggal di kamp pengungsi besar tanpa privasi, dikelilingi orang-orang yang tak dikenal atau dipercaya.”

Tanpa masa depan yang jelas untuk Suriah, wajar saja para pengungsi berhati-hati terhadap orang-orang yang diajak bicara dan dipercayakan informasi sensitif dan pribadi. “Jika mereka bercerita pada seseorang, kepada siapa dan ke mana informasi itu mengalir?” kata Gallagher. Mungkin mereka merasa sulit menaruh kepercayaan pada orang asing ketika, berulangkali, tak banyak keadilan bagi korban pemerkosaan masa perang.

Ditambah lagi dengan trauma fisik, psikologis dan emosional yang diderita korban akibat perang dan pengungsian, dan “tidak heran korban enggan tampil ke depan,” tandasnya.

Mendengar ini, mau tak mau saya terpikir pada kata pengantar Night, di mana Elle Wiesel menulis: “Bagi korban hidup yang memilih untuk bersaksi, itu sudah jelas: tugasnya adalah bersaksi untuk yang mati dan yang hidup… Melupakan bukan hanya akan membahayakan tapi juga menyakitkan.”

*****

“Pasukan keamanan dan Shabiha membawa seluruh keluarga keluar setelah memusnahkan rumah kami,” ungkap seorang wanita bernama Amal kepada suratkabar pan-Arab, Al-Haya, Juni 2012. “Anak-anak perempuan saya ditelanjangi oleh mereka, diperkosa, lalu dibunuh dengan pisau. Mereka berteriak: ‘Kau ingin kebebasan? Ini jenis kebebasan terbaik.’”

Kalimat yang diucapkan dalam kisah di atas, mengenai kaum wanita yang diperkosa dan disundut dengan rokok, persis sama kata demi katanya [dengan banyak kisah lain].

Kebetulan? Mungkin. Tapi pengutaraan berulang merupakan jenis [bukti] yang dapat membantu membangun tuntutan internasional atas pelanggaran HAM. Bahasa mengindikasikan apakah pemerkosaan masal dikoordinir dan sistematis. Baru-baru ini, sebuah kelompok bernama AIDS-Free World yang bermarkas di AS berhasil mengajukan petisi agar Afrika Selatan menyelidiki pemerkosaan masal yang diduga dilakukan oleh partai berkuasa ZANU-PF di Zimbabwe terhadap para pendukung oposisi pada 2008. Sebagian tuntutan mereka didasarkan pada fakta bahwa mereka mendengar frase-frase serupa diucapkan dalam perkosaan-perkosaan di seluruh pelosok negara—para wanita disebut “pengkhianat Zimbabwe” atau “diberi pesan”, menurut Paula Donovan, salah seorang direktur AIDS-Free World.

Gallagher, yang juga menyelidiki pemerkosaan di Libya, mendengar frase-frase semacam itu dipakai dalam pemerkosaan di kedua negara.

“Saya tidak berpikir pasti ada perintah,” ujarnya soal Libya, “tapi pasti ada keyakinan bersama di antara para tentara. Mereka tahu mereka leluasa berkuasa. Saya tak bisa menyimpulkan apakah [Bashar al-] Assad dan komandonya memerintahkan itu atau hanya memberi anak buah mereka keleluasaan berkuasa. Yang jelas, dia dan para komandannya tidak berbuat apa-apa untuk mencegah prajurit mereka melakukan kejahatan demikian.”

Selama setahun saya duduk dengan kalangan penasehat tingkat tinggi dari Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) dan lain-lain, memperdebatkan apa yang dapat membongkar niat Rusia dan mencegahnya memveto mosi untuk membawa kejahatan HAM Suriah ke pengadilan. Tapi kini dengan suksesnya penggunaan konsep bernama yurisdiksi internasional oleh AIDS-Free World, yang melintasi perbatasan untuk mengadili kejahatan yang begitu bengis sehingga menuntut rasa keadilan lebih besar, barangkali sudah waktunya mempertimbangkan alternatif-alternatif selain ICC. Jody Williams, yang dikenal lantaran membangunkan dunia dari tidurnya dalam hal pelarangan ranjau darat, punya beberapa ide.

“Kita tak butuh lebih banyak riset atau bukti, kita butuh rencana,” ujar Williams. “Dan rencananya harus memastikan ada tindakan internasional terkoordinir agar korban mendapat pertolongan, keadilan tegak terhadap pelaku kekerasan seksual, dan kita semua sedang bekerjasama untuk mencegah pemerkosaan selanjutnya. Ini membutuhkan kaum lelaki, wanita, masyarakat, pemerintahan, dan komunitas internasional—setiap orang.”

Secara pribadi saya berharap ini laporan terakhir yang harus saya tulis untuk menguraikan data dari peta, yang seharusnya tidak perlu ada [seharusnya tidak terjadi pemerkosaan—penj]. Tapi entah bagaimana saya rasa tidak akan demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s