8 Juli 2011
Sumber: www.cbsnews.com

Warga Suriah, Ibrahim Jamal al-Jahamani, yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara Suriah di mana dia menyaksikan seorang bocah 15 tahun disiksa sampai mati, berbicara dalam sebuah wawancara di perbatasan Suriah-Yordania, 7 Juli 2011. AP Photo/Raad Adayleh
Warga Suriah, Ibrahim Jamal al-Jahamani, yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara Suriah di mana dia menyaksikan seorang bocah 15 tahun disiksa sampai mati, berbicara dalam sebuah wawancara di perbatasan Suriah-Yordania, 7 Juli 2011. AP Photo/Raad Adayleh

Di dalam sebuah pusat detensi dekil di Damaskus, delapan atau sembilan penginterogasi berulangkali menggada seorang remaja kurus yang kedua tangannya terikat dan terdapat luka tembak di dada kirinya. Mereka memukuli kepala, punggung, kaki, dan alat kelaminnya hingga dia ditinggal terkapar di lantai sel, telinganya berdarah, dan berteriak minta tolong kepada ibu dan ayahnya.

Ibrahim Jamal al-Jahamani, sesama tahanan yang mengaku menyaksikan pemandangan brutal itu di Suriah Mei lalu, mendengar penginterogasi mendesak si bocah 15 tahun agar menyatakan Bashar Assad yang gagah sebagai presiden “tercinta”-nya.

Si pemuda, di kemudian hari teridentifikasi sebagai Tamer Mohammed al-Sharei, menolak. Dia justru menyanyikan slogan yang sering terdengar dari protes-protes anti-rezim di jalanan yang menyerukan “kebebasan dan kasih sayang Tuhan dan negara kita”.

Penolakan Tamer rupanya menjadi pelecut terakhir bagi penginterogasi.

“Para penjaga mematahkan pergelangan tangan kanannya, memukuli kedua tangannya, yang terikat di belakang punggung, dengan pentungan,” ungkap al-Jahamani kepada The Associated Press setelah dilepaskan dari pusat detensi, menyebut pemukulan tersebut sebagai penyiksaan.

“Mereka juga memukuli wajah, kepala, punggung, dan alat kelaminnya hingga hidung, mulut, dan telinganya berdarah, dan dia jatuh pingsan,” kenangnya.

“Dia meminta belas kasihan dan berteriak: ‘Ibu, ayah, tolong selamatkan aku!’” kata al-Jahamani. “Dia terkapar di lantai seperti anjing, dengan pakaian dalam saja. Darah menutupi tubuhnya. Tapi para penginterogasi tidak punya rasa kasihan sehingga tak segan memukuli seorang bocah dengan biadab,” tambah al-Jahamani, suaranya pecah karena emosi.

Tamer dan al-Jahamani adalah dua di antara ribuan warga Suriah yang mengalami penangkapan masal atas orang-orang yang dicurigai menentang Assad selama huru-hara yang dimulai bulan Maret lalu.

Al-Jahamani menyaksikan pemukulan tersebut dari koridor deretan sel selagi dia menunggu dua jam sampai para sipir membawanya ke sel. Dia bilang, koridor itu berbau amis darah dan toilet kotor, sementara ranjang sel dilapisi seperai dekil.

Di penjara kerangkeng yang dikelola Intelijen AU Suriah tersebut, pasukan keamanan menahan Tamer dalam kondisi terikat dan hampir telanjang, tubuhnya diliputi darah dan memar, sementara penginterogasi mematahkan lengan bawah dan giginya.

Pada suatu waktu, seorang dokter dibawa masuk untuk membuatnya siuman, kata al-Jahamani.

“Dia memberinya suntikan dan mereka mulai memukulinya lagi,” fokus pada kaki dan kelamin, dan telinga bocah itu mulai berdarah, kata al-Jahamani.

Esok harinya, jeritan sang remaja mendadak berhenti dan al-Jahamani tidak lagi mendengar suaranya.

Al-Jahamani, 23 tahun, mengatakan kepada AP bahwa dirinya ditahan di pusat detensi Damaskus yang sama dengan Tamer pada Mei lalu dan mendengarnya dipukuli lebih dari dua hari.

Di hari pertama, al-Jahamani melihat Tamer yang lebam tertelungkup di lantai koridor. Kemudian, di hari yang sama, mereka ditempatkan di sel berbeda yang saling berdekatan di koridor tersebut, dan al-Jahamani bisa mendengar jeritan Tamer.

Kisah kematian Tamer di pusat detensi menyodorkan keterangan langka dari sumber pertama tentang pemukulan para tahanan muda selama hampir 4 bulan pemberontakan. Kasus Tamer, beserta seorang pemuda lain yang tubuhnya menampakkan tanda-tanda kebrutalan, telah menggembleng ribuan pengunjuk rasa dalam menghadapi tindakan brutal yang menewaskan lebih dari 1.400.

Al-Jahamani berbicara kepada para reporter AP melalui telepon dan secara langsung selama dua hari wawancara. Dia meminta agar lokasi keberadaannya, di suatu tempat di perbatasan Suriah-Yordania, tidak diungkap karena khawatir dengan pembalasan dari polisi rahasia Suriah.

Dia melarikan diri dari Suriah setelah pihak berwenang membebaskannya pada 31 Mei. Dia menghabiskan hampir satu bulan di pusat detensi. Dia memperlihatkan salinan dokumen pembebasannya kepada AP, ditandatangani dan distempel oleh otoritas Suriah setelah mereka tidak menemukan bukti yang mengaitkannya dengan tuduhan penghasutan.

Suriah telah melarang masuk hampir semua media asing dan membatasi liputan media, sehingga mustahil memverifikasi peristiwa secara independen. Tapi sejak hari-hari pertama pemberontakan, al-Jahamani memberikan kesaksian terpercaya kepada AP yang sudah dikonfirmasi oleh berbagai sumber.

Kematian Tamer ketahuan pada bulan Juni, ketika video-video ponsel yang buram memperlihatkan tubuh sang remaja yang lebam dan dipenuhi luka tembak, kehilangan hampir semua giginya, dalam sebuah peti mati kayu. Dalam satu klip, seorang wanita menjeritL “Ini anakku! Sumpah, ini anakku!”

Al-Jahamani mengaku melihat video ini setelah dibebaskan dan langsung mengenali mayatnya sebagai remaja dari pusat detensi. Dia pernah mendengar penginterogasi memanggilnya “Tamer”.

Video-video tersebut melambangkan kebrutalan tindakan yang tidak melewatkan anak kecil sekalipun. Sekurangnya 72 anak kecil terbunuh dalam pemberontakan, menurut Local Coordination Committees, kelompok yang mendokumentasikan unjuk rasa.

Keterangan pemukulan dan kematian Tamer bisa menyokong tuntutan kelompok-kelompok HAM agar pasukan Suriah diselidiki atas kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pekan ini, Amnesty International yang bermarkas di London mendesak Dewan Keamanan PBB supaya menyerahkan Suriah ke Pengadilan Kejahatan Internasional untuk dilakukan penyelidikan.

“Kami ingin melihat [tuntutan] pengunjuk rasa damai dipenuhi, kami ingin dialog nyata dimulai,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland pekan ini. “Kami ingin tahanan politik dibebaskan. Kami ingin penindasan dan penyiksaan berakhir di penjara-penjara Suriah.”

Tamer dan pemuda lain, Hamza al-Khatib, 13 tahun, keduanya dari desa selatan Jiza di provinsi Daraa, menghilang pada 29 April. Di provinsi inilah pemberontakan dimulai setelah pasukan keamanan menangkapi murid-murid SMU yang menulis grafiti anti-rezim di sebuah tembok.

Hamza ditangkap dalam sebuah demonstrasi dan tidak terlihat lagi sampai jasadnya yang termutilasi, dengan penis terpotong, diantarkan kepada keluarga beberapa pekan kemudian. Dia juga menjadi simbol revolusi melawan Assad, mendorong ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan.

Kematian Tamer dan Hamza membuat murka rakyat Suriah yang telah hidup di bawah kediktatoran pimpinan dinasti keluarga Assad selama lebih dari empat dekade. Unjuk rasa membesar dan menarik berbagai kalangan masyarakat yang kian luas setiap minggu.

Al-Jahamani sedang berjalan kaki di Daraa pada 3 Mei bersama temannya, Firas Nassar, ketika pasukan keamanan menyuruh mereka berhenti. Nassar lari dan ditembak mati seketika oleh polisi berpakaian preman.

“Saya trauma melihat sahabat ditembak mati di depan mata saya,” katanya. “Dia tidak berbuat apa-apa untuk layak dibunuh.”

Al-Jahamani tidak takut, tapi dia marah dengan kematian temannya.

“Saya harus tetap diam karena mereka bisa membunuh saya jika berbuat atau berkata apapun,” katanya.

Al-Jahamani memutuskan tidak lari.

Agen keamanan memborgolnya, menutupi matanya, dan mendorongnya ke dalam mobil di mana dia diangkut selama lebih dari satu jam. Kemudian dia ditahan di pusat detensi Intelijen AU di Damaskus.

Dia juga dipukuli dengan pentungan dan ditendangi oleh para penginterogasi, sampai menyisakan bekas di pahanya lama setelah dibebaskan. Di situlah dia menyaksikan pemukulan Tamer.

“Kesalahan apa yang dia perbuat?” tanya al-Jahamani. “Dia ingin kebebasan, dia ingin seperti kawan-kawan sebayanya di tempat lain, menikmati hidup, pergi keluar tanpa menoleh ke belakang.”

Dia ditangkap sekurangnya tiga kali sejak unjuk rasa menyapu Suriah pada bulan Maret.

“Saya ditangkap dua kali di bulan Maret, satu kali di bulan April, dan menyaksikan penyiksaan itu saat ditangkap di bulan Mei,” kata al-Jahamani. “Mereka memburu saya karena saya aktif di Facebook dan internet, memajang video dan gambar untuk memperlihatkan kepada dunia bagaimana kekejaman rezim Bashar Assad. Saya juga menjalin kontak dengan media, seperti AP, di luar Suriah.”

Selama tiga penahanan ini, sebelum yang keempat di bulan Mei, “Pihak berwenang meminta saya bungkam dan tidak berbicara pada siapapun. Mereka meretas semua surel saya dan bahkan laman Facebook dan akun Twitter saya,” ujarnya.

Al-Jahamani bilang “takkan kembali ke Suriah sampai rezim di sana dilengserkan”.

“Saya akan pulang ke Suriah yang merdeka, merdeka dari tiran Bashar Assad dan kelompok korupnya,” katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s