Ketika posisi ISIS di Suriah menjadi gesekan; sebagai orang awam, kami pikir ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pertama, memperhatikan strategi deklarasi ISIS.

Tindakan ISIS yang mendeklarasikan diri sebagai khilafah ketika konflik Suriah mulai pecah. Ada satu persoalan yang dikaburkan karena tindakan ini, yaitu persoalan wilayah. Ingatkah, wilayah mana yang dikira ISIS sebagai bagian dari kekhalifahannya? Tidak lain adalah Irak dan Suriah. Sedangkan pada saat pendeklarasian itu diucapkan, ia sama sekali belum menguasai apa yang semua masyarakat ketahui sebagai wilayah Irak dan Suriah. Deklarasi dilakukan sebelum rezim berkuasa runtuh.

Dengan menghitung keberlangsungan perang, maka ia telah mengaburkan persoalan yang sesungguhnya di Suriah sehingga akan menggeser opini manusia di kemudian hari. Ada dua hal di sini yang menjadi sorotan.

1. Perubahan ISIS

Perubahan ISI menjadi ISIS kemudian menjadi IS dalam waktu singkat hanya mencerminkan keinginan mendominasi, apalagi jika melihat kondisi rezim Libya dan Mesir yang runtuh karena pergerakan rakyat, tentu hal ini masuk dalam perhitungan. Jika manusia sepakat bahwa ISIS telah berubah menjadi IS dalam arti negara, maka yang harus diyakini adalah negara melawan negara. Negara IS melawan negaranya Bashar Al Assad. Dengan demikian, IS secara sadar sedang melegalkan dirinya sendiri untuk menyingkirkan seluruh oposisi/faksi Suriah manapun. Karena seluruh oposisi Suriah berada di wilayah yang akan dikuasai IS.

Meski saat dideklarasikan faktanya Suriah tidak dikuasai, namun sebuah pernyataan akan berdampak pada garis pertahanan/penyerangan milik faksi di Suriah. Ini akan memicu konflik tak berkesudahan di tingkat pasukan (mujahidin). Sejarah peperangan, baik perang saudara dalam Islam maupun perang lainnya, sudah sering mencatat pentingnya mewaspadai hal ini (penempatan pasukan atau garis pertahanan), karena ini akan mempengaruhi kondisi pemicu konflik. Padahal seharusnya ada fungsi diplomasi yang dijalankan.

2. Posisi rakyat Suriah

Apa artinya rakyat Suriah dalam konflik di tanah airnya sendiri? Tentu semua pihak menyadari hal ini. Dalam skema perang apapun, penyebutan pejuang pada rakyat Suriah itu adalah penting, begitupun penyebutan korban bagi mereka. Itu semua terukur dalam mekanisme, taktik, dan psikologi peperangan. Yaitu sebagai orang-orang yang mengorbankan diri untuk berjuang melawan rezim Assad. Ini akan meningkatkan mental perjuangan secara bersamaan. Setiap panglima perang tentu tahu hal ini.

Apa yang dilakukan ISIS justru sebaliknya, ia menekan seluruh faksi di Suriah untuk berbaiat kepada Abu Baqar Al Baghdady yang notabene berasal dari Irak dan tidak pernah merasakan keseharian rezim Assad di Suriah. Selain karena merasa sebagai khilafah, ISIS tidak menilai resiko hal ini pada dirinya sendiri, yaitu secara umum ISIS disebut sebagai organisasi teroris, sedangkan rakyat Suriah tidak sama sekali. Maka jika itu terjadi, Assad (dan koalisinya) dan Amerika (dan koalisinya) akan selalu punya alasan untuk menggempur rakyat Suriah karena dituduh membelot pada negara lain atau dengan teroris.

Tentu saja bagi para mujahidin, hal itu akan membelah fokus dan motivasi. Membuat orang mendua dalam perjuangan, yang mana pada awalnya semua berkeinginan menjatuhkan musuh bersama (Assad), malah kini harus mempertahankan ‘negara’ lain.

Kedua, memperhatikan peran media mainstream.

Perhatikan sekarang berita tentang Suriah. Hampir dipastikan bahwa seluruh berita hanya berkutat tentang ISIS dan bagaimana menumbangkannya, bukan membahas perang melawan Assad dan bagaimana ia akan tumbang.

Namun yang paling menjadi dampak dalam hal ini adalah posisi rakyat Suriah itu sendiri. Kini yang terdengar adalah korban ISIS, bukan korban Assad. Ini lebih dari sebuah jalan penutupan.

Jika rezim Mesir jatuh oleh rakyatnya sendiri karena jejaring sosial. Maka ISIS menahan kejatuhan rezim Assad menggunakan jejaring sosial sebagai pengalihan.

Sekarang, adakah berita yang mengatakan bahwa rakyat Suriah yang berjuang? Tidak. Tapi semua fokus pada sebutan ISIS, bahkan Jabhah Nushrah (wakil/afiliasi Al Qaeda di Suriah) hanya disebut kelompok oposisi bersenjata atau militan. Sedangkan rakyat Suriah yang berhak untuk berjuang atas tanah airnya sendiri, ISIS memberi cap nasionalis, shahawat, murtad, munafik, pengikut Saudi.

Coba tanyakan apa yang ada dalam benak rakyat Suriah hari ini? Mungkin mereka pikir media asing memberitakan perjuangan rakyat Suriah sebagaimana halnya Gaza. Namun kenyataannya?

Mereka tidak tahu bahwa di luar negeri mereka, mayoritas masyarakat dunia, baik itu Muslim maupun Kafir, hanya melihat sepak terjang ISIS. Tidak ada yang lain. Tidak ada mujahidin dari rakyat Suriah di pemberitaan.

Jika di media mainstream, ISIS jadi berita untuk menutupi Assad. Di media Islam, ISIS jadi berita panas untuk mengadu mujahidin.

Ini adalah kesempatan emas yang digunakan media untuk menghilangkan peran pejuang Suriah dalam menjatuhkan Assad. Dengan menggunakan tindakan ISIS, media menegaskan keberadaan “teroris” melawan negara, bukan sebutan “pejuang” kepada rakyat Suriah sendiri, karena semua akan beranggapan bahwa rakyat Suriah setuju dengan ISIS.

Pola ini akan membentuk sudut pandang di masyarakat awam tentang kondisi perang di Suriah, “Oh itu ISIS melawan Assad,” atau “Rakyat Suriah mengikuti teroris.” Padahal mereka tidak melihatnya sama sekali.

Jadi, di sisi lain disiksa Assad. Di sisi lain, dikerdilkan ISIS.

Ketiga, resiko sejarah, kehormatan, dan ideologi.

Tindakan ISIS akan mempengaruhi penilaian. Mungkin di suatu saat, kemenangan akan dianggap sebagai kemenangan sebuah negara, atau bahkan akan dianggap kemenangan orang Irak, bukan kemenangan rakyat Suriah. Sejarah akan mencatat bahwa rakyat Suriah tidak punya peran meskipun mereka jadi korban atau dikorbankan. Dan kekalahan akan dianggap sebagai kekalahan Islam dari Syi’ah ataupun koalisi pendukung Assad, karena mereka (ISIS) menganggap dirinya sebagai khilafah Islam.

Keempat, posisi perang di antara niat, akhlak, strategi, dan ilmu, realita dan idealisme.

Pertanyaannya bukanlah, “seberapa idealiskah pihak yang berperang?” Tapi, seberapa pintarkah mereka berperang?

Tidaklah elok bila ISIS menyebut munafikin kepada faksi yang menerima bantuan dari Arab Saudi (yang disebut sebagai thagut). Apakah kita lupa bahwa ketika terjadi pembantaian terhadap Muslim di wilayah Bosnia, Arab Saudi memberikan bantuan senjata? Berapa uang yang dialirkan untuk jihad di Afghanistan?

Tidak semua urusan harus diselesaikan saat itu juga, atau oleh seseorang saja.

Jika seorang panglima perang di medan Afghanistan berhadapan dengan Rusia, namun ternyata datang bantuan senjata dari Amerika, apakah ia akan memusuhi dua pihak sekaligus? Urusan yang melibatkan banyak pihak, kepentingan, dan wilayah, harus punya kecerdikan melihat situasi. Ini diperankan oleh kemampuan negosiasi dan taktik yang menimbang untung-rugi; dan mengindikasikan adanya peran kepemimpinan dan tokoh sentral di dalamnya, karakter seorang pemimpin yang mengakar dalam jiwanya, yang ia lalui di banyak medan peperangan.

Karena ketika perang terjadi, keadaan seperti ini pasti tidak bisa dihindari. Peran suatu pihak tidak akan diperlihatkan untuk banyak tujuan, meski pada saat yang sama beberapa pihak mengklaim merasa paling ‘sendiri’ dalam berjuang.

Sekarang silakan perhatikan dan bandingkan dengan banyaknya mualaf dan generasi muda yang mengaku “mujahid”, di mana mereka keluar secara mencolok dari wilayah Eropa dan negara barat lainnya untuk bergabung dengan ISIS. Bukankah sudah jadi pengetahuan umum bahwa mereka selama ini hidup dalam pengaruh nilai-nilai barat, lalu tiba-tiba hijrah ke Suriah karena ingin hidup dalam naungan Islam.

Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan lainnya, mengapa baru sekarang mereka berkoar tentang jihad.

Atas dasar dan tujuan apa ISIS meninggalkan mujahidin yang ada di dekat mereka, demi menerima orang-orang dari jauh. Padahal ISIS tak mengenal karakter sehari-hari mereka.

Sebagai akibatnya, kaum Muslim (mujahidin) yang selama ini bersabar dengan cemoohan dan peperangan, malah dituduh sebagai munafikin dan murtadin oleh orang-orang yang baru masuk Islam atau baru bergabung dengan gerakan jihad.

Padahal, setiap pihak yang memerangi Assad tentu mengerti peran mereka masing-masing di Suriah. Dalam konteks negara semisal Arab Saudi, selain memberi suplai kepada pejuang Suriah yang berafiliasi dengannya, ia tentu punya diplomasi untuk menekan peran negara koalisi pendukung Assad di Suriah yang mana tidak mungkin didapat jika terjun ke Suriah secara langsung. Jika menghitung keberlangsungan perang, maka sanksi, embargo, dan peran ekonomi yang menjadi kunci untuk dimainkan di luar zona perang.

Ini amat erat dengan geopolitik. Pada implementasinya, ini akan membuat pihak asing semacam AS, Rusia, dan Iran memperlihatkan arah kebijakannya atau keluar dari kebijakannya.

Selain adu kuat, perang juga berarti adu sabar. Siapa yang melampaui batas, maka ia sebenarnya telah terpancing atau tertekan oleh keadaan. Artinya, secara emosional, ia akan melakukan apapun yang membuatnya tampak menang atau berkuasa.

Kelima, konflik akhir zaman.

Bila ada pihak yang tersinggung dengan sebutan khawarij pada ISIS, maka kami di sini bukan berupaya untuk menerangkannya. Kami hanya ikut peduli dan memperhatikan keadaan.

1. Pengelompokan

Mengapa isu khawarij ini muncul ketika peperangan dengan Syi’ah di Suriah akan dimulai? Jika kita mau berusaha menilai, maka ini adalah peringatan dari Allah. Wallahu ‘alam. Syi’ah dan Khawarij adalah dua kisah berdekatan yang terjadi di sejarah awal Islam, maka peristiwa ISIS dan Assad (Syi’ah) di Suriah, adalah masa yang panjang untuk membersihkan Islam dari Syi’ah dan Khawarij, secara bersamaan. Wallahu ‘alam.

Secara umum, orang-orang Yahudi telah dikumpulkan dalam satu wilayah, pun orang Syi’ah, dan kini khawarij. Ini adalah pengelompokan. Apa persamaan karakter mereka?

Mereka adalah orang-orang yang mengaku paling berhak, merasa paling dekat, dan merasa paling cinta kepada Allah. Sehingga merasa sendiri paling berhak memimpin, menetapkan, dan menghukumi manusia.

Semoga jadi pelajaran bagi setiap Muslim. Tidak perlu jauh ke Timur Tengah. Lihat saja di negeri sendiri ketika hari raya Islam. Itu adalah benih untuk hal yang dianggap biasa. Bayangkan jika dalam keadaan diserbu musuh.

2. Memastikan

Pola pikir khawarij dalam menerapkan ayat Quran. Jika ada orang tak dikenal menyuruh seorang Yahudi, atau seorang Nasrani, atau seorang Syi’ah untuk menggergaji seorang manusia di kalangan manusia, bagaimana? Atau, jika ada seseorang yang tewas terbelah, bukan oleh gergaji, tapi karena efek dari sebuah peristiwa, bagaimana?

Kami yakin seorang khawarij pasti akan mengatakan, “Qishash!” tanpa pikir panjang, dan akan mengikutinya seperti di-remote, seolah tak punya pilihan.

Apakah kita lupa bahwa Rasulullah SAW telah memperingatkan kita akan hal ini. Bahwa khawarij akhir zaman akan mengikuti Dajjal, dan disebutkan bahwa Dajjal akan menggergaji seorang manusia. Semoga kami tidak mengalami masa itu.

Keadaan ini akan dibiasakan bukan secara langsung, tapi secara bertahap. Ini dimulai dengan cara mempertontonkan eksekusi ke seluruh dunia. Mulai dari memenggal, membakar, dan meledakkan tubuh. Seluruh media akan punya posisi strategis untuk menyebarkan keadaan ini.

Bukankah banyak pemuda gemar berteriak tentang perang. Harusnya hal ini diperhatikan, melihat cara seperti ini sebagai sesuatu hal terdefinisi, strategi operasi, dengan menggunakan emosi yang dipertontonkan.

Ketika musuh mengincar sasarannya secara acak dan menyembunyikan maksud buruknya, ISIS malah mempertontonkan pembalasannya secara luas. Jika ini Qishash (pembalasan setimpal), maka dengan mempertontonkannya ke muka umum secara penyampaian, itu telah menggugurkannya.

Perlu diperhatikan psikologi manusia. Dan harap ingat pengaruh pandangan mata, karena menurut Rasulullah SAW, pengaruh pandangan mata adalah hak.

Dan jika menganggap tindakan ISIS adalah sebagai peringatan dan pelajaran, maka para perusak akan beralasan dengan pola yang sama.

Contoh, seorang sutradara membuat film tragedi pemerkosaan, pembunuhan, tawuran, secara detail setiap detiknya. Apa tujuan awal mereka? Sederhana, mereka akan berkata “ingin menyampaikan pesan bahwa ada kejadian di suatu tempat dan itu nyata, masyarakat harus tahu seluruh rasa sakit ini agar jadi pelajaran.”

Padahal Allah lebih berkuasa untuk memperlihatkan azab-Nya.

Akibat terburuknya adalah hal ini akan menumpulkan sifat lemah lembut manusia secara umum. Karena di sisi lain, propaganda film dan media sudah berhasil menumpulkan rasa malu. Dan itu hanya dengan mengeksplorasi peran visual dan lisan untuk membingkai emosi.

Pernahkah kita perhatikan bersama, bahwa ketika pemimpin dan media di barat memberitakan eksekusi tawanan, pemerkosaan, dan perbudakan oleh ISIS (dan juga Assad), mereka tidak menyinggung masalah agama, karakter, atau akhlak sama sekali. Namun mereka malah cenderung menyimpulkan bahwa perbudakan, pemerkosaan, dan mempertontonkan eksekusi, sebagai “langkah politik”, “taktik perang”, atau “senjata”.

Mereka tidak berusaha (atau tidak punya rujukan) dalam mencondongkan manusia untuk memahami hal lain. Yang mereka pikirkan hanya perang, sedangkan segala sesuatu yang menimbulkan dampak besar disebut “senjata”.

Ujungnya, kelak ini akan memandu dan melepaskan manusia sebebas-bebasnya ketika alasan perang muncul di depan mata. Dan apapun yang menekan musuh, maka akan dianggap sebagai senjata.

3. Perang besar

Semua orang Islam tentu tahu dari Hadits bahwa Damaskus adalah tempat turunnya Nabi Isa as putera Maryam. Maka konflik Suriah hanyalah pengantar. Tentu selalu ada dua pemahaman dalam hubungan konflik-konflik dan perang akhir zaman. Satu, konflik dibuat di berbagai tempat untuk menyiapkan skema perang besar, atau kedua, konflik dibuat di berbagai tempat untuk mencegah skema perang besar. Itu tergantung kita memahami kata “besar” dalam perang.

Keenam, efek kekuasaan atau kepemimpinan.

Karena hasutan orang Yahudi-lah, yang memanfaatkan persahabatan Nabi Isa as putera Maryam dengan sahabatnya, beliau hampir disalib. Kemudian Nasrani mengambil peran lain dengan menuduh Nabi Muhammad SAW memanfaatkan istri beliau, Khadijah. Datanglah Syi’ah mengatakan bahwa istri beliau (Aisyah) dan para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah para pendusta dan pendengki kepada Ali.

Lalu kini, kaum khawarij masa kini mengatakan hal serupa. Mereka dengan mudahnya mengatakan bahwa mujahid di luar kalangan mereka adalah pengkhianat dan dengki kepada mereka.

Tujuannya hanya satu, disadari ataupun tidak. Menghancurkan nilai keteladanan melalui pembunuhan karakter.

Namun, setiap perbuatan tersebut ditutupi dengan hal lain.

Dengan tujuannya masing-masing, pada peristiwa penyaliban, pendeta Yahudi dan Nasrani menutupi perbuatannya sendiri dengan berdalih bahwa penyaliban adalah penebus dosa.

Begitupun, Syi’ah mengatakan bahwa mereka adalah ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW). Sedangkan ISIS mengatakan bahwa mereka adalah khilafah (yang mereka mengetahuinya bahwa khilafah harus dari Quraisy).

Dari sudut pandang orang awam seperti kami, perkataan Syi’ah yang merasa sebagai ahlul bait dan ISIS yang merasa sebagai khilafah (Quraisy), telah menjadi penghalang untuk menilai kejujuran mereka.

Silakan perhatikan dan ingat kembali, bagaimana para pemimpin ISIS yang menghujat Al Qaeda, Taliban, dan faksi jihad lain karena dianggap tidak mengkafirkan masyarakat biasa di kalangan Syi’ah.

Jika ISIS sering mengklaim bertanggungjawab atas serangan masjid Syi’ah di Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah, tapi tidak sekalipun melakukan serangan ke jantung Syi’ah di Iran, maka hanya ada 4 penilaian atas hal ini.

1. Kebodohan yang dimanfaatkan.

Tidak semua pihak, meski dalam gerbong militer yang sama dan seberapapun dekatnya, memahami apa itu operasi intelijen. Bahkan dalam sudut pandang prajurit negara sekelas Amerika Serikat. Kebodohan ini sendiri terbagi menjadi dua, karena murni kebodohan; atau karena, beberapa pihak punya kepintaran memanfaatkan kebodohan.

2. ISIS menyebutnya strategi, namun dengan 2 catatan penting.

Satu, setiap perbuatannya sendiri akan disebut sebagai strategi, namun perbuatan mujahidin di luar ISIS yang tidak sesuai dengan strateginya, maka akan disebut dengan konotasi negatif seperti: pengkhianatan, bersekutu dengan thagut, nasionalis, dsb). Dua, ISIS dengan nama besar khilafah memilih tidak menyerang kepala atau bahkan sayap musuh.

Jika memang strategi perang mencerminkan iman seseorang, maka harus berapa banyak Muslim yang jatuh kepada fitnah khawarij. Dan harus berapa banyak Muslim yang jatuh kepada fitnah kemunafikan. Padahal keimanan bukan hanya di mata.

3. Merasa belum sanggup.

Atau merasa belum waktunya menyerang Iran, meskipun mereka mengklaim sangat benci Syi’ah dan Iran.

4. Saling bekerjasama secara tersembunyi.

Mekkah dan Madinah adalah tanah yang Allah lindungi. Silakan ingat. Satu, tak pernah tercatat sekalipun dalam sejarah bahwa tanah suci diinvasi oleh peradaban asing akibat peperangan. Dua, ia aman dari dulu sampai sekarang, meskipun di sekelilingnya terjadi peperangan. Maka hormatilah.

Hanya Iran yang dikenal secara luas berambisi menginvasi tanah suci.

Tidakkah kita perhatikan hari ini, sejak kemunculan ISIS, setiap pengikutnya mengharapkan kemurtadan bangsa Arab.

Urusan yang disebut pengkhianatan pemimpin Arab, maka biarlah Allah yang mengurusnya, karena Dialah pemilik Ka’bah, Mekkah, dan Madinah. Jikapun ada seseorang yang ingin memperbaiki, maka itu hanyalah hak orang Mekkah dan Madinah, bukan hak orang Irak apalagi Iran.

Hal lainnya adalah pembunuhan kepada sesama Mujahidin atau kaum Muslimin lain.

Jika memang tindakan ISIS selama ini adalah sebuah kesalahan personil, maka lakukan seperti apa yang dilakukan Taliban dan Al Qaeda yang mau mengklarifikasi kesalahan diri mereka sendiri dan menjadi pelajaran bagi dirinya sendiri.

Jika tidak, maka memang benar ada dua pihak berseberangan (selain Syi’ah) yang merongrong Islam dari dalam. Yang pertama, pihak (munafik) yang mendahulukan kepentingannya sendiri dan kepentingan orang kafir. Yang kedua, pihak (ekstrimis) yang mendahulukan kepentingannya sendiri dan kepentingan orang kafir. Keduanya sama. Sama-sama membunuh Muslim dan menyuruh membunuh Muslim dengan seenaknya. Sama-sama dengan Syi’ah, merusak dan menghancurkan Islam dari dalam.

Ketujuh, Turki adalah gerbang pasukan Islam ke daratan Eropa.

Siapa yang merusak gerbangnya sendiri, jangan harap akan menjaga gerbangnya. Karena mengurus negara dan masyarakat, tidak semerdu teriakan, tidak semudah titah raja. Hari itu minta, harus hari itu pula dipenuhi.

Kedelapan, pengaruh sudut pandang.

Sebagian orang yang mendukung ISIS adalah orang yang menilai keadaan negerinya sendiri, dan muak dengan tingkah orang-orang di negerinya sendiri. Kemudian dengan keadaan tersebut, menilai buruk setiap mujahidin di Suriah yang tidak mau mengikuti khilafahnya ISIS.

Meskipun setiap kelompok pendukung dan penentang ISIS punya basis pengetahuan Islam sebagai ideologi, harap perhatikan bahwa kebanyakan orang punya hubungan emosional dalam bermasyarakat di setiap wilayah, bukan karena kondisi perang atau ideologi semata. Karena pada dasarnya manusia itu makhluk sosial.

Jadi tidak bisa tiba-tiba datang lalu berkeyakinan: habiskan semua yang tidak sepakat, atau sebaliknya, bela semua yang sepakat.

Akhirnya selalu sama, perbuatan dan perkataan segelintir orang membuat semua orang menanggung akibatnya.

Sebagai penutup. Apabila memahami langkah politik, strategi militer, aroma konspirasi, hak kepemimpinan, definisi khawarij, urusan darah dan kehormatan selalu dihindari dan sulit untuk dimengerti, maka sudah sepatutnya bisa dibedakan antara kedua hal berikut sebagai upaya untuk merasionalisasikan masalah.

Pertama, rakyat Suriah yang menginginkan Assad jatuh (dan beranggapan setiap mujahidin mendukungnya). Atau, kedua, orang Irak yang ingin dibaiat di Suriah (dan beranggapan setiap Muslim harus membenarkannya).

Selama tidak kembali pada keadaan dan tujuan awal perang di Suriah maka kekacauan akan terus tumbuh dan berdiri di atas dua realita tersebut. Jika tidak bisa bersikap dewasa dan mau melihat hal tersebut, maka segala upaya penyelesaian pada prakteknya bukan menyelesaikan namun hanyalah menutupi masalah sesungguhnya yang terlupakan (atau dilupakan dan dihindari).

Dan selanjutnya, kezaliman akan melahirkan kezaliman baru.

Apakah manusia yang hidup hendak memimpin mayat-mayat yang terkubur, wanita-wanita yang kehilangan kehormatan, dan bangunan-bangunan yang runtuh, apa artinya kemudian berkeras menyebut diri sebagai pemimpin Suriah? Apakah Assad atau ISIS sebagai pembasmi nyawa tak berdosa hendak berdiri di atas gunung tengkorak, bangga sebagai penguasa? Jika memang setiap pihak yang berkonflik di Suriah merasa sebagai pemilik Suriah, haruslah punya rasa malu, setidaknya kepada manusia-manusia sederhana yang tersisa di sana.

Kekuasaan itu Allah pergilirkan di antara manusia, sebagaimana dulu tidak menggenggamnya sama sekali.

Bukankah setiap manusia dulu hanyalah bayi-bayi mungil dengan jemari yang menggemaskan, namun ketika dewasa semakin banyak bicara dan bertingkah?

Tidak bisakah setiap media massa menghargai posisi rakyat Suriah yang tersisa? Mengapa berlomba-lomba menonjolkan ISIS di Suriah? Bukankah seharusnya media massa memperhatikan bahwa rakyat Suriah-lah yang mengawali untuk menjatuhkan Assad karena kezaliman yang mereka alami? Tidakkah kita pernah mengalami hal itu ketika rakyat Indonesia ingin merdeka, tak ada posisi/pihak lain yang harus dimunculkan sama sekali.

Tak ada yang meragukan itu, kecuali kampanye besar-besaran oleh pihak-pihak yang merasa berhak atas konflik Suriah baik bergandengan atau berseberangan dengan media massa; dengan menutupi kutub konflik Suriah yang sebenarnya dari banyak sisi secara bersamaan.

Bukankah kampanye “terorisme” karena kehadiran ISIS di konflik Suriah adalah bentuk pengerucutan kampanye “terorisme” itu sendiri dalam wujud nyata?

Wallahu ‘alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s