Jumat 12 September 2014
Sumber: english.alarabiya.net

Jihadis Perempuan-
Petinggi ISIS dikabarkan memberi peran menonjol kepada para perempuan Inggris di milisi ultra-relijius yang beranggotakan kaum wanita, karena mereka dianggap paling berkomitmen di antara pejuang-pejuang perempuan asing. (Foto: Twitter)

Muncul keterangan mengagetkan tentang para jihadis perempuan Inggris yang memaksa tawanan wanita Irak untuk menjadi budak seks di rumah-rumah bordir milik militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), demikian media Inggris melaporkan Kamis kemarin.

Rumah bordir, yang dioperasikan oleh “pasukan kepolisian” perempuan bernama Brigade al-Khanssaa, didirikan untuk dipakai oleh para militan ISIS, menurut Daily Mirror.

Menurut harian ini, ribuan wanita Irak dipaksa menjadi budak seks di rumah-rumah bordir tersebut, di mana sebanyaknya 3.000 wanita dan gadis dari suku Yazidi di Irak ditawan melalui serbuan militan di seantero kawasan.

“Para perempuan ini menafsirkan agama Islam secara barbar untuk menjustifikasi perbuatan mereka,” kutip Mirror dari sebuah sumber. “Mereka percaya militan boleh menggunakan wanita-wanita ini sesuka mereka lantaran kafir. Perempuan Inggris-lah yang naik ke jajaran puncak kepolisian syariat Islamic State, dan kini mereka bertanggungjawab atas operasinya.”

Petinggi ISIS dikabarkan memberi peran menonjol kepada para perempuan Inggris di milisi ultra-relijius yang beranggotakan kaum wanita, karena mereka dianggap paling berkomitmen di antara pejuang-pejuang perempuan asing.

Sosok kunci di antara pasukan kepolisian wanita adalah Aqsa Mahmood, 20, dari Glasgow. Sekurangnya tiga perempuan Inggris lain telah teridentifikasi sebagai anggota kelompok, lapor Mirror.

“Al-Khanssaa merupakan brigade kepolisian hukum syariat. Ini adalah aparat penegak hukum wanita milik ISIS,” kata Melanie Smith, research associate di King’s College’s International Centre for the Study of Radicalization kepada The Sunday Telegraph. “Kami rasa itu campuran perempuan Inggris dan Prancis, tapi akun media sosialnya dikelola oleh orang Inggris dan ditulis dalam bahasa Inggris.”

Sementara itu The Daily Mail melaporkan semakin banyak perempuan muda Inggris meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan para militan, dan banyak yang membina pertemanan kuat dengan pejuang ISIS.

Termasuk dua saudara kembar Sahma dan Zahra Halane, 16 tahun, dari Manchester, dan ibu mereka, Khadijah Dare, 22 tahun, yang menikah dengan militan Swedia.

“Ini ganjil sekaligus sesat,” kutip Mirror dari sebuah sumber.

Para ahli menyatakan ISIS mengincar kaum wanita untuk rekrutmen, dan pejuang mereka didorong menikahi perempuan Inggris dan Eropa.

ISIS merajalela di seluruh Irak, membunuh dan memperbudak anggota minoritas agama kuno, termasuk Kristen Assyria dan Yazidi.

Bulan lalu dua pejabat PBB menerbitkan pernyataan bersama mengenai “tindakan barbar” kekerasan seksual yang dilakukan para pejuang ISIS.

“Kami mengecam sekeras-kerasnya penyasaran wanita dan anak kecil dan perbuatan barbar yang dilakukan ‘Islamic State of Iraq and the Levant’ terhadap kaum minoritas di wilayah-wilayah di bawah penguasaannya, dan kami mengingatkan semua kelompok bersenjata bahwa tindakan kekerasan seksual merupakan pelanggaran HAM berat yang dapat dianggap sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Nickolay Mladenov, perwakilan khusus sekjen PBB untuk Irak, dan Zainab Hawa Bangura, perwakilan khusus sekjen untuk urusan kekerasan seksual dalam konflik.

Pernyataan pejabat PBB ini mengutip bukti penggunaan pemerkosaan sebagai senjata perang terhadap wanita dan remaja lelaki dan perempuan anggota komunitas Yazidi, Kristen, Turkomen, dan Shabak di Irak.

Akademisi dan pakar Timur Tengah Haleh Esfandiari menulis blog untuk Wall Street Journal bahwa ISIS menawarkan gadis dan wanita tangkapan sebagai “hadiah” kepada para pengikutnya.

“ISIS mendapat perhatian dunia berkat aksi pemenggalan biadab, eksekusi prajurit dan warga tangkapan di kota dan desa yang ditaklukkan, kekerasan terhadap umat Kristen dan Syiah, dan pemusnahan kuil dan tempat ibadah non-Sunni,” ungkapnya.

“Tapi kebiadabannya terhadap kaum wanita diperlakukan sebagai isu sampingan. Pemerintahan Arab dan Muslim, yang vokal mengenai ancaman ISIS terhadap stabilitas kawasan, hampir bungkam terhadap perendahan, penganiayaan, dan penghinaan kaum wanita secara sistemik oleh ISIS.”

“Bagi pria-pria ISIS, kaum wanita adalah ras inferior, untuk dinikmati dalam seks dan dibuang, atau dijual sebagai budak.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s