Para Wanita yang Terselamatkan Menceritakan Penawanan Oleh Boko Haram

Oleh: Chika Oduah
8 Juni 2015
Sumber: america.aljazeera.com

Para wanita dan anak kecil yang diselamatkan oleh tentara Nigeria dari Boko Haram di Sambisa Forest sedang duduk di kamp pengungsi Malkohi di Yola, 5 Mei 2015. (Emmanuel Arewa/AFP/Getty Images)
Para wanita dan anak kecil yang diselamatkan oleh tentara Nigeria dari Boko Haram di Sambisa Forest sedang duduk di kamp pengungsi Malkohi di Yola, 5 Mei 2015. (Emmanuel Arewa/AFP/Getty Images)

YOLA, Nigeria—Lima bulan di Sambisa Forest, di mana anggota Boko Haram menyanderanya, menjadi kehidupan menggelisahkan dan melemahkan bagi Umi.

Lengan tipis gadis 10 tahun ini dipenuhi bekas gigitan serangga. Serangga penghisap darah membuatnya terus terjaga di malam hari, begitu pula suara binatang malam yang berjalan dan terbang di hutan, hamparan semak-belukar rendah, dan pepohonan berbatang kasar yang membentang seluas hampir 40.000 mil persegi di kawasan Sahel, timurlaut Nigeria.

Di sinilah gajah-gajah dari Afrika Tengah berkelana, bersama binatang-binatang lain. Kolonialis menunjuk area ini sebagai suaka margasatwa, yang secara teknis masih demikian, walaupun sudah lama dilalaikan.

Masyarakat yang tinggal dekat Sambisa sudah lama menaruh rasa hormat mendalam pada hutan ini, dan hanya pemburu paling berpengalaman yang masuk ke sana. Sebagian menceritakan singa-singa besar yang hidup di padang rumputnya.

Tapi ketakziman itu berubah menjadi ketakutan sejak Boko Haram mengubah hutan menjadi tempat berlindung beberapa tahun lalu, mendirikan banyak kamp di antara duri dan semak beracun.

Para pejuang pulang ke hutan ini setelah serangan membabi buta dan brutal terhadap kota-kota sekitar, membawa serta ratusan sandera perempuan. Boko Haram menculik lebih dari 2.000 wanita dan gadis, menurut laporan April 2015 oleh Amnesty International.

Terdapat lusinan wanita dan gadis di kamp di mana Umi ditahan. Dia bilang banyak dari mereka tetap terjaga bersamanya, malam demi malam, mendengarkan pekikan nyaring burung-burung dan langkah-langkah makhluk berkaki empat. Para anggota Boko Haram sering memutar musik keras-keras di malam hari, menari-nari, minum-minum, dan berkhotbah sampai jatuh tertidur.

Hadiya Dashiru dan enam anaknya ditawan di Sambisa Forest selama 11 bulan. (Chika Oduah)
Hadiya Dashiru dan enam anaknya ditawan di Sambisa Forest selama 11 bulan. (Chika Oduah)

Malam sangat membahayakan. Anda tak pernah tahu apakah salah seorang pejuang akan menyerang Anda secara seksual, kata Hasiya Dashiru, 45 tahun. Dia bilang, setelah menyerbu, biasanya anggota Boko Haram kembali ke kamp di malam hari bersama para pemuda—wamil.

Dashiru biasa memaksakan diri untuk tidur. Selama 11 bulan dia berdoa semoga ada yang menyelamatkan dirinya dan empat putera dan dua puterinya, yang diculik dan ditawan bersamanya.

Dia tahu bahwa, untuk waktu lama, pejabat militer Nigeria ragu untuk masuk ke hutan, menyatakan tak ingin menempatkan nyawa para sandera seperti dirinya dalam bahaya—karena para pejuang mungkin akan membunuh mereka sebagai balasan.

Setiap pagi, hari demi hari, pencarian makanan dan minum dimulai.

Terkadang anggota Boko Haram mengizinkan sandera mencari air. Kali lain mereka disuruh tetap di tempat dan tutup mulut.

Seperti kata Dashiru, “Jika kami mendapat air, bagus. Jika tidak, bagus. Kami terus seperti itu. Mereka menghalangi kami untuk mendapat air. Sekalipun kami bilang itu untuk anak-anak kami.”

Dashiru tidak tahu di mana suaminya berada. Sang suami lari dari desa, Dille, tahun lalu persis sebelum Boko Haram menyerbu.

Dashiru duduk di atas semen di luar ruang kelas yang telah diubah menjadi ruang tidur di kamp Malkohi di timurlaut Nigeria. Ke sanalah 275 wanita dan anak kecil dibawa oleh tentara Nigeria setelah diselamatkan dari Sambisa pada awal Mei. Setelah 11 bulan hidup di hutan, Dashiru akhirnya dibebaskan pada 28 April. Di hari pasukan Nigeria masuk ke bagian hutan di mana dirinya berada, dia mendengar ledakan keras di udara. Terjadi keriuhan. Para pejuang Boko Haram mendorong sebagian tawanan ke depan untuk menjadi perisai manusia. Dashiru bersembunyi di balik sebuah pohon. Dia bilang, sebagian orang, termasuk tawanan, terbunuh dalam baku tembak antara Boko Haram dan tentara, tapi dia tak tahu berapa banyak. Akhirnya tentara mengambil alih.

Dan terakhir, Dashiru meninggalkan hutan Sambisa, naik di dasar truk yang dikawal tentara Nigeria.

Dia tiba di kamp Malkohi pada Sabtu malam, 2 Mei, dan diberi teh dan roti.

Kini dia bisa bergerak bebas, dan mendapat akses layanan kesehatan dan makanan.

Dashiru menyatakan anak-anaknya tampak lebih sehat—tapi sebagian anak di Malkohi masih terlihat berjuang keras. Seorang bocah tidur telanjang, tulang selangkanya menonjol tajam, kulit kendur bergelantung di sekitar pundaknya.

Bocah lain duduk sendirian di lantai. Perutnya membengkak, tanda kurang gizi parah, dan dia batuk-batuk dan menciut-ciut tanpa henti.

Dashiru sedang berusaha melanjutkan hidup dan melupakan apa yang menimpa diri dan keluarganya di Sambisa, tapi kenangan itu mengakar dalam di benaknya.

Dia sering memikirkan tanah lembab dan berawa, dan langit biru cerah yang dipandangnya dengan harapan akan melihat sebuah pesawat yang bisa menyelamatkan dirinya.

Dia masih sulit menceritakan malam-malam di Sambisa.

Bagi Dashiru, penganiayaan verbal adalah yang paling merusak. Ketika diperbolehkan, dia berjalan ke sumur untuk mendapat air. Di sumur, terkadang dia berjumpa isteri-isteri anggota Boko Haram.

“Mereka menghina kami,” kata Dashiru. “Dan mereka menyebut kami budak karena menurut mereka kami kafir, bukan Muslim.”

Anak-anak seperti Umi dan Maryam, yang tidak tahu umurnya sendiri tapi terlihat sekitar lima tahunan, kerap dianiaya oleh para pejuang karena mereka tak punya keluarga untuk melindungi. Nama belakang mereka tidak dipublikasikan untuk melindungi privasi. Banyak anak menjadi yatim selama pemberontakan enam tahun Boko Haram, yang menurut perkiraan kelompok-kelompok HAM telah merenggut lebih dari 12.000 nyawa dan memaksa lebih dari satu juta orang meninggalkan rumah.

Dipaksa meninggalkan agama Kristen dan masuk Islam, para wanita dan gadis dipukuli karena tidak melaksanakan shalat harian. Bila tidak sedang shalat, dipukuli, atau mencari-cari makanan, mereka duduk di lantai, semakin kurus dan sakit.

“Setiap hari kami menyaksikan kematian salah satu dari kami dan menunggu giliran,” kata Asabe Umaru, 24 tahun, kepada Reuters.

“Mereka tak membolehkan kami bergerak sedikitpun. Jika kami perlu ke toilet, mereka mengikuti kami. Kami ditahan di satu tempat. Kami di bawah perbudakan.”

Ranjau darat yang ditabur di seantero hutan juga mencegah wanita dan anak kecil untuk kabur. Dashiru belajar cara menghindarinya, menghafal lintasan aman antara pohon-pohon baobab, yang dikenal sebagai “pohon kehidupan”.

Dia dan para wanita lain memetik daun-daun kuka dari pohon ini untuk membuat sup.

Dia percaya, Tuhan dan sup daun pohon kehidupan telah membuatnya dan keenam anaknya tetap hidup di hutan Sambisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s