Oleh: Ludovica Iaccino
14 April 2015
Sumber: www.ibtimes.co.uk

Anggota sekte minoritas Yazidi yang dibebaskan pada 8 April 2015 di pinggiran Kirkuk. (Reuters)
Anggota sekte minoritas Yazidi yang dibebaskan pada 8 April 2015 di pinggiran Kirkuk. (Reuters)

Kelompok-kelompok ekstrimis semacam Islamic State (ISIS) dan Boko Haram sedang menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang, sebuah laporan PBB memperingatkan.

Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon menyatakan bahwa tahun 2014 ditandai dengan ratusan laporan perkosaan, pernikahan paksa, dan perbudakan seks di negara-negara yang dikoyak perang seperti Irak, Suriah, Somalia, Nigeria, dan Republik Afrika Tengah.

Ban mengungkapkan keprihatinan atas temuan laporan tahunan PBB, yang menganalisa tingkat kekerasan seksual terhadap wanita dan gadis, pria dan bocah, di 19 negara. Laporan menyimpulkan kekerasan seksual bukan insidentil, tapi sengaja dilakukan oleh kelompok teror.

“Perpaduan berbagai krisis yang dihasilkan oleh ekstrimisme kekerasan telah menyingkap tren kekerasan seksual yang menggemparkan yang dipakai sebagai siasat teror oleh kelompok-kelompok radikal,” ujar Ban, seraya menambahkan bahwa mengalahkan kelompok-kelompok teror di seluruh dunia adalah “bagian esensial dari perang melawan kekerasan seksual terkait konflik”.

Laporan menyebut terjadi peningkatan kasus kekerasan seksual sejak pertengahan 2014, menyusul pemberontakan IS musim panas lalu, yang mengakibatkan penculikan, pemerkosaan, dan perbudakan seksual ribuan gadis dari komunitas Yazidi, yang paling banyak menanggung bagian terberat penganiayaan IS terhadap non-Muslim dan non-Sunni.

Menurut PBB, IS “memakai kekerasan seksual untuk menyebar teror, menganiaya minoritas etnis dan keagamaan, dan menindas komunitas yang menentang ideologinya”.

Pada awal April, muncul laporan-laporan bahwa para gadis Yazidi direnggut dari ibu mereka, dijual kepada pejuang-pejuang IS, disiksa dan bahkan diperkosa di depan umum oleh lebih dari dua atau tiga pemberontak sekaligus sebelum dibebaskan oleh IS di Irak utara.

2 Juni 2014: Siswi-siswi yang kabur dari para penculik Boko Haram di desa Chibok sedang menunggu di rumah dinas gubernur di Maiduguri untuk berbicara dengan Gubernur Negara Bagian, Kashim Shettima. (AFP)
2 Juni 2014: Siswi-siswi yang kabur dari para penculik Boko Haram di desa Chibok sedang menunggu di rumah dinas gubernur di Maiduguri untuk berbicara dengan Gubernur Negara Bagian, Kashim Shettima. (AFP)

Laporan dipublikasikan bersamaan dengan rakyat Nigeria memperingati satu tahun penculikan lebih dari 200 siswi oleh Boko Haram di Chibok, Negara Bagian Borno.

Para teroris menculik sekitar 270 siswi dari Chibok pada 14 April 2014. Tak lama kemudian 50 siswi berhasil kabur tapi sisanya masih hilang di tengah laporan bahwa mereka dipakai sebagai pengebom bunuh diri, diperkosa, dan dipaksa menikah dengan para penculik.

Dalam laporan terpisah, UNICEF memperingatkan sekitar 800.000 anak telah berpindah tempat gara-gara kekerasan Boko Haram. Banyak dari mereka terpisah dari keluarga dan menjadi sasaran penganiayaan seperti perkosaan dan nikah paksa. Sebagian dari mereka juga dimanfaatkan oleh teroris sebagai petempur dan untuk misi bom bunuh diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s