Oleh: Catherine Deveney
Minggu 7 April 2013
Sumber: www.theguardian.com

Sebuah penyelidikan mengejutkan terhadap sikap gereja Katolik kepada korban pencabulan pastor-pastornya.

Pat McEwan di depan kapel di mana dirinya dahulu dicabuli. “Ini soal keadilan,” kata Pat McEwan, yang mengaku diperkosa oleh seorang pastor sewaktu dia masih kecil. Foto: Murdo Macleod untuk Observer. (Murdo Macleod/Observer)
Pat McEwan di depan kapel di mana dirinya dahulu dicabuli. “Ini soal keadilan,” kata Pat McEwan, yang mengaku diperkosa oleh seorang pastor sewaktu dia masih kecil. Foto: Murdo Macleod untuk Observer. (Murdo Macleod/Observer)

13 Maret 2013. Dunia menanti. Layar-layar televisi menampilkan rekaman para kardinal bersetelan merah dan putih beberapa hari sebelumnya, berprosesi melewati pengawal Vatikan ke dalam Kapel Sistine megah untuk menghadiri konklaf kepausan. Setiap gambaran, mulai dari lantai marmer halus dan langit-langit emas hingga fresko-fresko tak ternilai di dinding, mengisahkan kekayaan, kebesaran, dan kekuasaan. Di luar, di Lapang St. Petrus, kerumunan sedang menyorakkan seseorang yang namanya tidak mereka ketahui. Tapi ada satu lagu latar lain. Sehari sebelumnya, Pat McEwan (62 tahun), dari Skotlandia, melukiskan kepada saya bagaimana dirinya diperkosa di usia 8 tahun oleh seorang pastor. Suaranya menenggelamkan gaduh kerumunan dan paduan suara. “Saya lari ke rumah dengan gemetar seperti seekor anjing. Saya mengompol di celana pendek, dan mengalir ke kaki saya. Ibu dan bibi saya harus menyeka sampai bawah.”

Penjajaran kedua gambaran tersebut: sebuah lembaga berpengaruh yang mewakili 1,2 miliar umat Katolik dan seorang anak kecil yang dicabuli, mengisahkan gereja bermuka dua: satu publik, satu pribadi. Bulan lalu, gereja terjerembab ke dalam krisis ketika Observer membeberkan bahwa tiga pastor dan satu mantan pastor mengadu kepada Nuncio Kepausan mengenai Kardinal Keith O’Brien, Uskup Agung St. Andrews dan Edinburgh. Mereka bilang, sang kardinal, yang di depan publik mencela kaum homoseksual sebagai orang bejat, telah melakukan rayuan kepada pastor-pastornya sendiri secara pribadi selama bertahun-tahun. Tapi cerita ini bukan tentang satu orang. Bukan tentang kelemahan perseorangan. Keith O’Brien hanyalah gejala penyakit yang lebih luas: sebuah lembaga yang memilih penutup-nutupan sebagai sikap alami untuk menyembunyikan skandal moral, seksual, dan keuangan.

Ini bukan penyakit pedofilia tapi penyalahgunaan kekuasaan—seorang pria berkuasa yang bertindak tak pantas kepada para anggota muda seminari dan pastor-pastor di bawah wewenangnya. Sudah dijelaskan terjadi hubungan seksual penuh. Tapi ada upaya-upaya untuk menyamarkan perilakunya dalam ambiguitas moral. Pertama-tama penyangkalan. Sang kardinal “menentang” tuduhan. Sehari setelah publikasi, dia mengundurkan diri. Pekan berikutnya, dia mengeluarkan pernyataan yang mengakui kelakuan seksnya “sebagai pastor, uskup, dan kardinal” telah mengecewakan. Banyak pihak mengabaikan apa yang dikonfirmasi oleh surat itu terkait cakupan dan lama perilakunya: dia ditunjuk menjadi kardinal pada 2003.

Selanjutnya, timbul pengaburan, di mana gereja mengklaim tidak tahu substansi tuduhan, padahal sudah diberi maklumat tertulis sebelum publikasi. Lalu, kemarahan dan pengecilan pelanggaran—sang kardinal dihancurkan hanya karena “gerayangan mabuk” 30 tahun silam. Ah, barangkali dia sudah membuat pengakuan [dosa] dan mendapat absolusi (pengampunan dosa—penj). Tapi yang paling menyingkap adalah upaya untuk mengalihkan sorotan kepada motif para pengadu, untuk menyalahkan penuduh daripada tertuduh. Ini pola khas dalam kasus-kasus pencabulan Katolik selama bertahun-tahun.

Kisah-kisah yang akan Anda baca di bawah ini akan membawa Anda dari akhir 1950-an sampai hari ini, bentangan waktu lebih dari 50 tahun. Masyarakat telah berubah secara radikal dalam tahun-tahun itu, dari moralitas hitam-putih 1950-an, perumahan petak kumuh dan pedagang keliling lusuh, menjadi generasi hidup cepat, layar datar, iPhone di tahun 2013. Tapi, sepanjang seluruh dekade itu, seluruh perubahan itu, perilaku gereja Katolik kepada korban penganiayaan [seksual] tidak berubah banyak.

Ada dua konsep krusial dalam memahami perilaku gereja. Yang pertama adalah “memfitnah orang beriman”. Secara tradisi, hirarki [gereja] percaya bahwa dosa terbesar adalah menggoncang iman jemaat Katolik. Melindungi mereka berarti menyembunyikan fitnah. Mengadopsinya sebagai pendirian moral berarti apapun boleh dilakukan. Anda boleh menutupi kejahatan seksual orang-orang yang Anda tuntut memiliki moralitas seksual. Anda boleh menyembunyikan korupsi keuangan dari orang-orang yang menaruh poundsterling di piring pemungutan sumbangan (collection plate). Anda boleh membungkam korban pencabulan dan melindungi pelaku pencabulan. Rasa bersalah akibat mengorbankan perseorangan ditenangkan dengan melindungi sesuatu yang lebih besar dan lebih penting—institusi.

Konsep kedua adalah “klerikalisme”, istilah yang dipakai untuk melukiskan perasaan pastor akan pemberian gelar, tuntutan mereka akan rasa hormat, dan kesesuaian lahiriah mereka dengan aturan dan regulasi di depan publik, sambil secara pribadi menjalankan kelakuan yang mengesankan aturan tidak berlaku untuk mereka. (O’Brien, dalam pengertian ini, adalah contoh klasik.) Vatikan adalah negara independen; Tahta Suci adalah entitas berdaulat yang diakui dalam hukum internasional dan diperintah oleh Paus. Nunsiatura Apostolik beroperasi seperti kedubes-kedubes pemerintah di berbagai negara di dunia. Ia bahkan diatur dengan aturannya sendiri: Hukum Kanun. Semua ini berkontribusi pada pemikiran bahwa gereja boleh mengerjakan urusannya sendiri tanpa campur tangan atau penyelidikan pihak luar. Ini menuntut suara di masyarakat tanpa bertanggungjawab penuh kepada masyarakat.

Pada pekan-pekan setelah kepergian o’Brien, beberapa rapat pastor digelar di keuskupannya. Salah satunya diketuai oleh pengganti sementara, Uskup Agung Philip Tartaglia dari Glasgow, dan uskup pembantu O’Brien, Stephen Robson. Beberapa pastor ingin pesan dukungan diberikan kepada sang kardinal, menyemangatinya agar pulang ke Skotlandia untuk pensiun. Rasa kasihan kepada pendosa? Atau penutup-nutupan ala pendeta? Sebagian pastor bukan cuma tahu perilaku sang kardinal, mungkin mereka telah menjadi korbannya.

“Struktur kekuasaan pendeta bukan hanya melindungi pendeta yang aktif secara seksual tapi juga membuat mereka menjalani kehidupan ganda,” kata Richard Sipe, psikoterapis Amerika dan mantan pastor yang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti selibat dan penganiayaan [seksual]. “Penyimpangan datang dari atas ke bawah. Para kepala biara, kepala gereja, dan uskup memang mempunyai kehidupan seks yang aktif dan saling melindungi—sejenis pemerasan suci.”

Apakah ini krisis terbesar bagi gereja Katolik sejak Reformasi, tanya Profesor Tom Devine, salah seorang sejarawan terkemuka Skotlandia? Tapi krisisnya bukanlah satu kardinal. Ribuan anak kecil yang dicabuli di seluruh dunia, dan sebuah lembaga yang membungkam mereka: itulah krisis sesungguhnya. Gereja mengklaim kebijakan perlindungan anak kecil telah berlaku di Skotlandia sejak 1999. Silakan Anda nilai sendiri dalam kisah-kisah berikut. Kejadian-kejadian mengemuka sampai beberapa pekan lalu, dengan pengunduran diri Keith O’Brien sebagai latar belakangnya. Aktivis hak sipil Amerika, Martin Luther King, pernah berujar, “Ada masa ketika bungkam adalah pengkhianatan.” Di gereja Katolik, momen itu sudah lama berlalu.

Berbicara di depan publik untuk pertama kalinya, Pat McEwan menyatakan dirinya telah menjadi mangsa jaringan pastor pedofil. Pencabul utamanya, seorang pastor paroki, menyakinkannya untuk datang berkunjung, waktu itu terlihat tak sadarkan diri. Pat menggoyang-goyangnya. “Aku baru bicara dengan Yesus dan dia bilang maukah kau masuk surga?” kata si pastor, lalu bertanya, “Apa kau cinta ibumu?”

“Ya, Romo.”

“Apa kau cinta ayahmu?”

“Ya, Romo.”

“Apa kau mencintaiku? Karena ini rahasia kecil kita, dan kau tak boleh cerita pada ibu atau ayahmu atau kau akan masuk api yang membakar.”

Waktu itu tahun 1950-an. Para pastor paroki menjadi tamu terhormat di rumah-rumah umat Katolik. Sang pastor sudah mengatur agar ibunya Pat yang saleh mendatangi Gua Carfin, menitipkan Pat kepada teman sesama pastornya. Pat ingat, dirinya memperhatikan dari jendela bagaimana ibunya menghilang ke dalam gua. Tak lama kemudian, si pastor berpaling kepadanya. “Aku ingin kau melakukan untukku apa yang sudah kau lakukan untuk pastor parokimu,” katanya. Lalu dia memperkosanya. Setelah itu, dia berusaha mendiamkan tangisan anak kecil tersebut sebelum ibunya kembali. “Tuhan tak suka bocah yang menangis. Jadilah prajurit Kristus.”

Pencabulan anak jarang ketahuan di masa kecil. Peristiwa tersebut mengeluarkan darah ke dalam setiap aspek penentuan pilihan, hubungan [sosial], pekerjaan, dan kesehatan di saat dewasa. Para korban menderita alkoholisme, sakit jiwa, dan PTSD (post-traumatic stress disorder). Tak aneh korban pria berakhir di penjara. Cameron Fyfe adalah pengacara Skotlandia yang berurusan dengan lebih dari 1.000 kasus penganiayaan [seksual] oleh gereja Katolik di Skotlandia. “Tak seorang pun muncul tanpa terluka,” ujarnya. “Setiap orang hancur hidupnya.” Pat tidak berbeda. Dia menjadi pecandu alkohol, meski kini sudah tidak minum selama 18 bulan.

Pat mendekati gereja di akhir 90-an. Dia tak pernah meminta uang sekali pun. Dia justru mencari konseling, pengasingan spiritual—dan pengakuan. “Ini soal keadilan.” Dia memperoleh dukungan Alan Draper, pakar perlindungan anak yang pernah bekerja untuk gereja di pertengahan 90-an. Draper sudah keluar, tak senang dengan penolakan kukuh para uskup untuk mengambil tindakan pantas. Kini dia menemani Pat untuk bertemu Uskup Joseph Devine dari Motherwell. Dalam keterangan, Pat dan Draper menyebutkan bahwa solusi sang uskup terhadap kisah menyeramkan itu sangat sederhana. “Pat, dia sudah tua,” ujarnya. “Tolong lepaskan dia.”

Pat mengeluarkan seberkas surat-surat, bukan cuma dari sang uskup tapi juga dari tim pelindung. Nadanya kerap memusuhi, seolah-olah “perlindungan” di keuskupan bukanlah melindungi korban sebagaimana melindungi gereja dari korban. Dalam salah satu surat, Pat dicaci-maki lantaran menelepon kantor. “Tolong,” tulis penasehat pelindung keuskupan, Tine Campbell, “kalau kau ingin menghubungi anggota tim pelindung keuskupan, lakukan dengan surat, bukan telepon.”

Pada 2010, Pat mendekati O’Brien. Meski Katolik paling senior di Inggris Raya, O’Brien mengaku tak bisa campur tangan di wilayah Uskup Devine. Draper kemudian menulis surat kepada Devine mewakili Pat pada Februari 2011, memintanya menemui mereka berdua. Dia menolak. Pat, pintanya, harus menemuinya sendirian. “Jika dia ditemani olehmu atau siapapun, pertemuan akan dibatalkan,” tulisnya. “Saya anggap kau sudah jelas soal ini.” Di pertemuan, Devine mencela Pat tanpa disangka-sangka. “Kau tak lain hanya pecandu alkohol,” cetusnya.

Kata Draper, “Pat cuma ingin uskup berkata, ‘Maaf, kami percaya padamu.’” November tahun lalu, Pat akhirnya menerima surat dari Tina Campbel yang menyampaikan bahwa dalam “upaya mengadakan sejenis penyudahan”, mereka merujuk kasus tersebut ke kepolisian Motherwell, yang saat ini sedang melakukan penyelidikan. Pencabul utama Pat sudah meninggal, tapi satu lagi masih hidup. Sebuah perjalanan yang panjang.

Realita “perlindungan” di gereja Katolik adalah bahwa setiap uskup memimpin wilayah tersendiri. Draper meminta bukti tinjauan tahunan yang telah disetujui gereja pada 1996 silam. Sampai sekarang tak kunjung datang. Menanggapi pertanyaan seputar prosedur gereja dalam kasus-kasus penganiayaan [seksual], direktur komunikasi gereja Katolik, Peter Kearney, berkata kepada Observer, “’Gereja’ sebagaimana dirujuk dalam pertanyaan Anda sebetulnya tidak punya tempat dalam isu ini, dalam arti bahwa di Skotlandia, ‘gereja’ terdiri dari delapan keuskupan terpisah dan otonom, masing-masing dengan uskupnya sendiri dan masing-masing bertanggungjawab atas isu perlindungan di area mereka. Cara penanganan aduan di satu kesukupan semestinya sama dengan di keuskupan lain, tapi…itu tidak selalu demikian.”

Ini mempertegas, kata Alan Draper, apa yang sudah dikemukakannya selama bertahun-tahun. “Para uskup menjalankan pengawasan ketat dan tidak berbuat apa-apa untuk korban. Koordinator nasional dipinggirkan secara efektif ke dalam pelatihan kaum awam dan tak punya taring untuk berbuat sesuatu yang berarti. Itu kepalsuan.”

Ann Matthews juga tinggal di keuskupan Uskup Devine. Pada 1980-an, dia dicabuli secara rutin dari usia 11 sampai 17 oleh pastornya. Dia tak pernah bercerita kepada orangtuanya. Mereka sangat saleh dan si pastor sering membacakan doa di rumah mereka. Setelah menjenguk nenek Ann yang tengah sekarat, si pastor turun ke lantai bawah dan mencoba berhubungan seks dengannya di sofa.

Setelah mengakui telah terjadi pencabulan, diam-diam Devine menyuruh pastornya pergi untuk konseling, menyatakan kepada paroki bahwa dia mundur karena sakit. Itu, kata Ann, meniadakan kesempatan bagi para orangtua lain untuk menilai apakah anak-anak mereka juga dirusak. Beberapa studi mengisyaratkan pastor-pastor pencabul menelan sekitar 50 korban.

Ann mengaku hidupnya sudah hancur. Dia mengidap kelainan makan, kelainan tidur, gelisah, dan depresi. Dia sering berupaya bunuh diri. Dia tak punya pekerjaan. Dia punya suami, tapi takkan pernah memiliki anak karena dia tak mau membebankan ketidakamanannya pada seorang anak. “Kadangkala, saya merasa sudah mati sejak lama, bahwa tubuh inilah yang mengembara di bumi dan tak tahu harus berbaring.”

Dalam sebuah pertemuan yang diikuti pastor-pastor keuskupan, dia ditanya kenapa membiarkan penganiayaan [seksual] itu terus berlanjut. Tapi Ann hanya anak kecil. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pencabulan adalah cinta-kasih. “Saya bilang kepada mereka, sekarang saya duduk di sini sebagai wanita dewasa, tapi saat itu terjadi saya masih mengenakan kaos kaki setinggi lutut dan ikat rambut.”

“Oh, ayolah!” ketus salah seorang pastor, sebelum menambahkan, “Beri dia uang, terus biarkan dia pergi.”

Dia tak pernah menerima uang, tapi dia memang mendapat konseling, dan untuk ini dia berterima kasih. Dalam 12 tahun berikutnya, gereja tak pernah sekalipun meminta laporan. Tahun lalu, tiba-tba mereka menulis surat, memberitahu Ann bahwa pembiayaannya sedang dicabut. Sesi terakhirnya adalah Mei 2013. Pemberi konselingnya menulis kepada gereja, menyebutkan Anna berupaya bunuh diri untuk jangka waktu lama dan masih butuh dukungan. “Seakan-akan mereka berhitung bahwa saya dicabuli selama 7 tahun,” ungkap Ann, “tapi mendapat konseling selama 12 tahun—jadi waktunya sudah habis. Saya cuma seseorang yang menyedot banyak sumber daya mereka.”

Pada 11 Februari, hari pengunduran diri Paus Benediktus, Ann menghadiri pertemuan dengan petugas perlindungan, Tina Campbell, menyangkut penghentian konselingnya. Dia ditemani psikoterapisnya dan seorang pekerja advokasi. Tapi sikap Tina terhadapnya begitu memusuhi, sehingga dia buru-buru pergi sambil berlinang air mata. Pekerja advokasi menegaskan dirinya harus campur tangan lantaran sikap gereja tidak dapat diterima. Banding pun diajukan, mereka diberitahu bahwa itu akan diselenggarakan di Edinburgh. Sejak saat itu Ann menerima sebuah surat yang menyatakan, “dikarenakan oleh situasi kompleks di Keuskupan Agung St. Andrews dan Edinburgh”, banding tak bisa diteruskan. Sekarang dia menunggu.

Gereja tak punya kebijakan menyangkut konseling. Lagi-lagi, masing-masing uskup memutuskan. Helen Holand adalah korban penganiayaan fisik dan seksual serius di tahun 1960-an dan 1970-an di Nazareth House, Kilmarnock. Sewaktu kecil kepalanya diselubungi, lalu dia dipegangi oleh seorang biarawati, dan diperkosa oleh seorang pastor. Dia sendiri kemudian menjadi biarawati, tapi akhirnya meninggalkan ordonya. Kini menjabat wakil ketua kelompok korban hidup Skotlandia, Incas, dia telah berbicara mewakili para korban di parlemen Skotlandia.

Helen Holland bersama anjingnya, Pippa. Semasa kecil dia diserang secara seksual oleh seorang biarawati di Nazareth House, Kilmarnock. Foto: Murdo Macleod untuk Observer. (Murdo Macleod/Observer)
Helen Holland bersama anjingnya, Pippa. Semasa kecil dia diserang secara seksual oleh seorang biarawati di Nazareth House, Kilmarnock. Foto: Murdo Macleod untuk Observer. (Murdo Macleod/Observer)

Peninggalan dari penganiayaan tersebut masih mengiringinya dan dia telah membayar konseling di berbagai periode hidupnya. Tapi pada tahun-tahun belakangan, dia mulai mengalami “teror malam”, melindur keluar rumah. “Seperti menjadi anak kecil lagi. Menurut pemberi konseling, saya sedang mencoba meraih anak kecil di dalam diri saya, dan saya berkata bahwa gadis kecil Helen telah mati. Dia tak lagi eksis. Tapi tidak sesederhana itu. Saya tak mampu mengakhirinya.”

Kini dengan tunjangan cacat karena sakit, Helen tak mampu membayar konseling. Dia menulis kepada gereja Juni lalu, meminta bantuan. Tak pernah ada balasan. Biarawati yang menganiayanya adalah orang Irlandia, jadi dia membuat pengajuan kepada pemerintah Irlandia. Alih-alih gereja, sekarang mereka membiayai pengobatannya.

Charles Simpson, seorang pria Edinburgh yang mengaku dianiaya dan diperkosa oleh pastor parokinya di tahun 1990-an, juga membentur tembok sunyi gereja. Charles mempunyai masalah alkohol dan obat-obatan pasca penganiayaan tersebut, dan berakhir di penjara karena berulangkali menyusup ke dalam rumah paroki di mana peristiwa itu terjadi. “Saya membalas dendam kepada gereja. Itu masa menyakitkan dalam hidup saya.” Dia masih mengandalkan antidepresan dan metadon. “Saya ingin bisa hidup normal, menjadi anggota masyarakat, tapi sulit. Dia telah membelit saya dalam ketakutan dan kesepian, menyebut keluarga saya miskin karena mereka menganggur. Hal-hal yang dikatakannya membuat saya merasa tak punya kekuatan.”

Charles mencari bantuan seorang pastor yang mendekati O’Brien atas namanya. “Pastor itu disuruh diam,” kata Charles, yang kemudian meminta konseling dari gereja. Dia, juga, tak mendapat jawaban. Kebungkaman tersebut mendorongnya mengambil tindakan hukum: kini dia menggugat Keuskupan Agung St. Andrews dan Edinburgh dengan nilai £100.000. Pengacaranya, Cameron Fyfe, menyebut para pembela resmi gereja dalam gugatan hukum ini mengejutkan. Demi pembelaan hukum, mereka mengingkari salah satu tujuan mereka adalah untuk “menyebarkan firman Tuhan”. Dan mereka mengklaim tak punya wewenang untuk menggeser atau memberhentikan pastor tersebut, atau mengendalikan—atau bahkan mengarahkan—kegiatannya.

Aturan batas waktu dalam undang-undang Skotlandia menetapkan gugatan perdata sebaiknya dilakukan dalam masa tiga tahun setelah penganiayaan, atau tiga tahun setelah ulangtahun korban yang ke-16. Kebanyakan aduan perdata terhadap gereja gagal karena alasan ini. Fyfe berharap pengadilan akan menggunakan diskresinya untuk mengizinkan kasus ini berjalan terus, tapi prosesnya boleh jadi memakan waktu bertahun-tahun. “Uang…” ujar Charles letih. “Itu tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Saya merasa berat. Bagi saya, mereka hanya gangster legal.”

Pasca skandal O’Brien, Uskup Agung Tartaglia menyatakan—seolah-olah ini tuduhan langka—bahwa “tuduhan paling menyengat” terhadap gereja adalah kemunafikan. Tapi hirarki [gereja] tahu skandal lanjutan sudah dekat. Keempat pengadu sang kardinal dituduh bagian dari komplotan gay. Padahal bukan. Tapi para pastor dan orang dalam gereja menyebut budaya gay memang eksis di gereja Skotlandia. Ini soal kronisme, kerahasiaan, dan budaya serba pria. Gereja Skotlandia masih menanggung luka akibat Roddy Wright, uskup Argyll dan Isles, yang minggat bersama seorang wanita pada 1996. Sebelum kelakuan O’Brien terbongkar, barangkali hirarki tergoda untuk percaya pastor-pastor gay “lebih aman”. Skandal asmara homoseksual—terutama dengan pendeta lain—lebih mudah disembunyikan daripada melibatkan wanita dan anak kecil.

Homoseksualitas hanyalah satu persoalan, lantaran sikap gereja terhadapnya di depan publik. Sudah jelas itu tak ada kaitan dengan pencabulan. Tapi Richard Sipe percaya ada kaitan antara pencabulan dan selibat. Pada 1990, dia menerbitkan studi di Amerika selama 25 tahun yang menunjukkan bahwa pada suatu waktu, 50% pastor akan telah aktif secara seksual dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut telah ditiru di tempat-tempat lain: Spanyol, Belanda, Swiss, dan Afrika Selatan. “O’Brien dan Skotlandia tidak sendiri atau bukan pengecualian,” kata Sipe.

Gereja Katolik telah menciptakan hirarki moralitas seksual dengan selibat di puncaknya. Tapi itu bisa menimbulkan penyimpangan. Studi Sipe mengindikasikan sekitar 70% pastor menampakkan ketidakmatangan psikoseksual. Selibat, menurutnya, bukanlah sesuatu yang mampu dicapai mayoritas manusia. Ketika saluran seks sah dilarang, sebagian berpaling kepada saluran tak sah. “Mayoritas pendeta tak sanggup mengatasi peniadaan seks dengan cara yang sehat,” tandasnya. Sekitar 6% pastor akan berhubungan seks dengan anak di bawah umur. Di Australia, penganiayaan [seksual] oleh pastor Katolik enam kali lebih tinggi daripada gabungan gereja-gereja [denominasi] lain.

David punya pengalaman langsung dengan Australia dan Selandia Baru. Dia menolak rayuan seksual dari seorang Jesuit berusia 65 tahun di Selandia sewaktu berumur 14 tahun. Kemudian dia sendiri bergabung dengan kehidupan agamis dan didekati secara seksual di ordo Cistercian maupun di seminari. DI Australia, dia didekati oleh seorang pastor senior di biara Dominican. Banyak pastor mempunyai kisah serupa, tapi tetap bungkam karena mereka masih bagian dari institusi. Akan tetapi David meninggalkan kehidupan agama.

Setelah itu, dia menjalin asmara dengan seorang pria yang dipanggilnya Peter, yang meninggalkan seminari di Roma. Peter membawa David ke tempat-tempat lamanya, mampir di sebuah biara yang dahulu kerap didatanginya untuk membuat pengakuan dosa mingguan. Pengakuan dosanya selalu didengarkan paling akhir, setelah para biarawati, oleh seorang pastor yang kelak menjadi uskup. “Di puncak biara,” ujar David, “terdapat ruang nyaman yang disisihkan untuk pengakuan dosa. Tapi apa yang mulanya pengakuan dosa, berubah menjadi janji ketemuan mingguan sepasang kekasih. Peter, yang agak tidak enak meninggalkan Roma, selama liburan itu bersemangat sekali menceritakan bagaimana persisnya mereka bercinta. Itu melibatkan persenggamaan dubur.” Sang pastor—yang David sebutkan—bekerja di tingkat tertinggi Vatikan.

Ada pihak-pihak yang mencoba mengorbankan O’Brien. Barangkali dia korban sebuah sistem yang disfungsi. Tapi korban sesungguhnya adalah mereka yang tak berdaya dan tak punya suara. Banyak yang merasa hidupnya ternoda dan takkan pernah bisa dibersihkan. Michael adalah seorang mantan anggota seminari yang mendatangi polisi ketika O’Brien menolak mengambil tindakan patut terhadap para pencabulnya di seminari. Dikenal di kalangan pers Skotlandia sebagai “Michael X”, dia akhirnya mendapat ganti rugi £42.000 dari gereja Katolik, yang menurut perkiraan Sipe telah membayar £3 miliar di seluruh dunia.

Michael sebelumnya melukiskan bagaimana dia melapor kepada direktur spiritualnya terkait penganiayaan itu. Orang tersebut memberi keyakinan bahwa Michael tak pantas disalahkan—lalu melakukan rayuan seksual, pula. Apa yang belum Michael ungkap adalah rasa bersalahnya atas apa yang terjadi kemudian. Dia harus meladeni direktur spiritual di altar dalam sebuah misa pribadi. “Saat berdoa, ‘Tuhan Kasihanilah’,” kenang Michael, “dia jatuh berlutut dan merenggut kedua kaki saya. Dia gemetar dari kepala sampai kaki, sambil berucap, ‘Tuhan kasihanilah, Michael kasihanilah’. Mengerikan. Dia hancur di hadapan saya.” Si pastor meninggal akibat pendarahan otak tak lama kemudian. Ketika dinyatakan penyebabnya adalah stres, Michael merasa terpukul.

Banyak orang menanggung rasa bersalah dan aib pencabul mereka. Ann sulit lepas dari pertanyaan ini, “Mengapa kau tak berbuat sesuatu?” Dalam sebuah surel usai kami mengobrol, dia menulis: “Saya tidak yakin berapa lama lagi saya mampu bertahan. Yang memilukan, sekalipun saya mengakhiri hidup, saya hanya akan menjadi angka statistik berikutnya.”

Krisis selalu menimbulkan pilihan: tetap menempuh arah yang sama atau berganti arah. Saat menyinggung soal pengkhianatan kebungkaman, Martin Luther King menyatakan keputusan harus dibuat. “Jika kita membuat pilihan yang benar,” sambungnya, “kita akan mempercepat datangnya hari…di seluruh dunia, ketika keadilan menggulung bagai perairan, dan kebenaran bagai sungai deras.”

Sebagian nama telah diubah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s