Penganiayaan Seksual Gereja Katolik Mendunia

Oleh: Dan Gilgoff
19 Maret 2010
Sumber: www.cnn.com

Seiring pengumuman Vatikan hari Jumat ini bahwa Paus Benediktus XVI telah menandatangani surat pastoral mengenai pastor-pastor pelaku aniaya di Irlandia, kian jelaslah bahwa krisis penganiayaan [seksual] gereja telah memasuki fase internasional, dengan tuduhan menyebar di setengah lusin negara—termasuk negeri asal Paus, Jerman.

Paus Benediktus XVI sedang berurusan dengan tuduhan penganiayaan seksual oleh pastor-pastor di dua benua.
Paus Benediktus XVI sedang berurusan dengan tuduhan penganiayaan seksual oleh pastor-pastor di dua benua.

“Sekarang kita mendapat konfirmasi nyata bahwa ini krisis global,” kata John Allen, analis Vatikan dari CNN dan koresponden senior untuk National Catholic Reporter. “Di manapun ada populasi Katolik yang besar, di situ ada potensi skandal jenis ini.”

Tuduhan-tuduhan penganiayaan seksual gereja terus bertambah di seantero Eropa, meliputi Austria, Jerman, Belanda, Spanyol, dan Swiss. Tuduhan penganiayaan baru telah mengemuka di Brazil, rumah populasi Katolik terbesar di dunia.

Irlandia terus bergumul dengan dampak pengungkapan pastor-pastor penganiaya selama bertahun-tahun. Baru pekan ini kardinal Katolik tertinggi Irlandia mengakui bahwa respon gereja terhadap penganiayaan [seksual] “sayangnya tak memadai”.

Surat Paus tentang skandal gereja Irlandia akan dirilis pada hari Sabtu, kata juru bicara Vatikan. “Saya harap itu akan membantu proses pertobatan, penyembuhan, dan pembaharuan,” ucap Benediktus awal pekan ini.

Tapi pengungkapan baru tentang penganiayaan seksual gereja berlanjut pada hari Jumat ini, termasuk di keuskupan agung Munich, Jerman, di mana Benediktus pernah mengabdi sebagai uskup agung.

Sementara beberapa pengamat Vatikan menduga Benediktus akan mundur terkait krisis yang membesar, tuduhan-tuduhan di Jerman membawa skandal ini lebih dekat kepada sang Paus dibanding para pendahulunya. “Skandal ini mengancam reputasinya dalam hal bagaimana dia memerintah gereja,” kata Allen. “Tapi ada juga ancaman bagi reputasi pribadi dan kewenangan moralnya.”

Di bawah masa jabatannya sebagai uskup agung pada awal 1980-an, keuskupan agung Munich mengabaikan peringatan untuk menjauhkan seorang pastor peleceh dari anak kecil, ungkap dokter yang dahulu menerbitkan peringatan tersebut.

Werner Huth, psikoanalis, mengaku telah meminta agar pastor itu tidak diizinkan berinteraksi dengan anak kecil lagi. Gereja justru, kata Huth, membiarkannya kembali bekerja dan bergaul dengan anak-anak.

Si pastor, Yang Terhormat Peter Hullerman, didakwa mencabuli anak-anak di bawah umur pada 1986. Paus Benediktus meninggalkan keuskupan agung Munich untuk jabatan baru pada 1982.

Huth, yang rutin melakukan evaluasi psikoanalitis untuk Gereja Katolik, yakin bahwa Paus Benediktus XVI tidak pernah tahu Hullermann dikembalikan ke pekerjaannya. Huth sudah berkali-kali memperingatkan para pejabat gereja lainnya tentang penyakit pedofilia Hullermann.

Hullerman, yang kembali bekerja di gereja dan melanjutkan pekerjaan bersama anak kecil setelah dakwaannya, diskors pekan lalu setelah informasi masa silamnya menyeruak.

Meski lebih dari 300 kasus dugaan pencabulan telah muncul di Jerman—kebanyakan sejak Januari—belum mengemuka kasus-kasus lain yang mungkin melibatkan Paus. “Jika ada satu kasus, itu memalukan tapi tidak fatal,” ujar Allen. “Jika sampai lima atau sepuluh, muncul pola dan itu menjadi lebih serius.”

Mereka yang mengamati skandal penganiayaan seksual Katolik di tempat lain menyebut kemungkinan besar masih banyak tuduhan di Jerman dan negara-negara lain di mana kabar skandal pecah baru-baru ini. “Diawali dengan para korban, lalu media mengangkatnya, dan sekali bendungan retak, bocoran dan korban baru akan mengalir,” kata David Gibson, pakar Vatikan yang pernah menulis biografi Benediktus.

“Sekali korban terlecut untuk tampil, itu melecut para jaksa dan pejabat pemerintah untuk melakukan penyelidikan yang sebelumnya tak dapat dilakukan karena takut melukai gereja,” tandasnya.

Di luar Vatikan, krisis ini mengancam mengikis keanggotaan di benteng-benteng Katolik yang tersisa di Eropa dan [mengancam] mengubah sikap sekuler Eropa terhadap gereja dari penoleriran masa bodoh menjadi permusuhan terbuka. Tapi para pakar gereja menyatakan krisis ini kemungkinan tidak terlalu berdampak di wailayah-wilayah dunia di mana Katolik tumbuh pesat, seperti Afrika dan Asia Tenggara.

Di Irlandia yang Katolik secara tradisional, bangku-bangku gereja sudah mulai kosong sebelum skandal penganiayaan seksual merebak. “Tapi tempat-tempat seperti Jerman selatan, Austria, dan Polandia masih sangat Katolik,” kata Gibson. Tuduhan pencabulan yang bertumpuk “akan mengikis keikutsertaan [jemaat] di gereja seraya mempercepat laju sekularisasi di tempat-tempat seperti Prancis dan Inggris.”

Di Brazil, di mana sebuah liputan TV baru-baru ini menayangkan video yang diklaim menampilkan seorang pastor sedang berhubungan seks dengan bocah altar berumur 19 tahun, Gereja Katolik sudah kehilangan pangsa pasar oleh gereja-gereja Pantekosta dan evangelis. Gereja-gereja tersebut mungkin secara halus memanfaatkan segelintir tuduhan pencabulan sebagai bagian dari daya tarik luas mereka terhadap orang-orang yang dikecewakan oleh struktur top-down Gereja Katolik.

Tapi di kawasan-kawasan macam Afrika, yang populasi Katoliknya tumbuh dari 2 juta pada 1900 menjadi 150 juta pada hari ini, tuduhan-tuduhan baru kemungkinan menimbulkan tekanan yang relatif kecil. Nigeria kini menjadi rumah seminari Katolik terbesar di dunia, sedangkan Eropa dan AS kini bergantung pada Afrika untuk memasok pastor mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s