5 Februari 2014
Sumber: www.centerforinquiry.net

Hari ini Komite Hak Anak PBB mendamprat Vatikan, dalam sebuah laporan yang menuduh Gereja Katolik Roma di seluruh dunia “secara sistematis” mengizinkan para pastor memperkosa dan menganiaya puluhan ribu anak secara seksual—dan kemudian mengelak dari tanggungjawab perbuatan mereka—selama berdekade-dekade. Sedikit-banyak, ini cuma puncak gunung es skandal yang telah meletus di negara demi negara selama nyaris tiga dekade. Tapi para pemikir bebas tidak boleh membiarkan fakta bahwa skandal ini sudah berkisar begitu lama sampai membutakan mereka akan fakta perkembangan besar, bahkan luar biasa, yang dilambangkannya.

Apa yang menjadikan skandal penganiayaan seksual Gereja Katolik begitu aneh? Itu satu-satunya kasus, setahu saya, di mana teori konspirasi abad 19 dan 20 yang dipelihara di kalangan fanatik nativis ternyata, ehm, faktual.

Fakta bahwa skandal ini telah terungkap selama 29 tahun—ya, ekspos media mainstream pertama dimuat di National Catholic Reporter pada 1985—semestinya tidak membutakan kita akan betapa ganjilnya ini. Pastor-pastor Katolik di seluruh dunia telah memperkosa dan melecehkan anak-anak selama berdekade-dekade, dilindungi oleh jaringan global uskup dan kardinal yang menjangkau Vatikan? Mendapati [kenyataan] ini secara tiba-tiba akan seperti membuka newsfeed Anda dan menemukan bahwa komplotan kecil bankir Yahudi betul-betul telah menjalankan dunia sejak, katakanlah, 1850-an!

Cerita-cerita pelecehan anak kecil dahulu menjadi bahan propaganda nativis anti-Katolik di pertengahan abad 19 dan awal abad 20. Saya menyinggung ini dalam editorial Free Inquiry Musim Panas 2002 yang diberi judul dingin, We Know (tersedia online untuk pelanggan Free Inquiry saja). Esai tersebut diawali dengan kartun cetak ulang (sayangnya sekarang hilang dari artikel online itu) yang malu-malu mengisyaratkan kemungkinan penganiayaan seksual bocah-bocah belasan tahun oleh seorang pastor:

Ketika kartun di atas muncul dalam koleksi humor ateis pada 1983, saya membayangkan beberapa pemikir bebas menganggapnya ofensif. Pada waktu itu masalah penganiayaan seksual anak oleh para pastor Gereja Katolik tidak dihiraukan. Masyarakat terpelajar menganggapnya legenda urban, sama dengan kisah-kisah biarawati hamil yang melahirkan di saluran air dan tuduhan bahwa umat Katolik awam di Amerika memberikan loyalitas politik mereka bukan kepada Washington tapi Roma. Masyarakat mulia tidak menyebarkan fitnah semacam itu.

Tapi saat itu pun banyak orang dalam gerakan humanis, ateis, dan hak-hak kaum gay mengetahui apa yang sudah diketahui anggota gereja dan remaja sejak awal: tuduhan penganiayaan seksual anak oleh pastor bukanlah cercaan anti-Katolik. Itu semua fakta….

Bagi aktivis humanis, ateis, dan gay, tak ada yang mengejutkan dari ini semua. Pada 1981, saya menghadiri rapat kelompok ateis lokal pertama di kota Midwestern. Dua mantan Katolik, yang satu berumur 30-an dan yang satu jauh di atas 70, menceritakan penganiayaan seksual yang mereka derita sebagai bocah altar. Seiring dengan mengikuti lebih banyak rapat, lokal dan nasional, semakin sering saya mendengar cerita pencabulan dari sumber orang pertama. Para korban berasal dari setiap wilayah negara; sebagian dicabuli setahun sebelumnya, sebagian 50 tahun lalu atau lebih. Teman-teman gay menceritakan para korban yang berbagi kisah serupa di acara sosial gay dan rapat dukungan kelompok—terkadang didengarkan oleh mantan pastor atau pastor aktif. Masuk akal jika sebagian korban yang meninggalkan gereja dan ingin membicarakan pengalaman mereka akan berlabuh di kelompok humanis atau ateis, sedangkan yang lainnya muncul di perkumpulan gay. Mereka bersedia bicara; sedikit sekali, terutama di media, yang mau mendengarkan…

Bertahun-tahun sebelum skandal mulai meluap, banyak aktivis humanis, ateis, dan gay sudah tahu ada persoalan masif dengan penganiayaan seksual pastor. Ribuan anak kecil mungkin mengalami pencabulan yang semestinya dapat dicegah, sebagian karena kami tidak didengar, sebagian karena jutaan umat Katolik mengunci mulut.

Nah, saya tidak sedang mengesankan bahwa kita patut memeriksa kembali semua teori konspirasi kacangan lain yang dimajukan oleh kaum nativis abad 19 dan 20. Sama sekali tidak! Tapi hanya karena cerita ini sudah meluap selama nyaris 30 tahun, kita tak boleh meluputkan fakta bahwa dalam urusan penganiayaan seksual pastor, para penggembor anti-Katolik di masa lalu memang memegang fakta-fakta yang tepat. Barangkali itu cuma kebetulan. Tapi tetap saja, kemungkinan besar salah satu faktor penyebab lambatnya pengungkapan penganiayaan seksual pastor (selain karena upaya kalut dan habis-habisan dari hirarki gereja untuk menutupinya) adalah bahwa fakta-fakta ini menyerupai tuduhan yang telah diruntuhkan oleh kaum fanatik generasi masa lalu. Masyarakat mulia sudah terlalu lama terkikih dan menggeleng lalu berkata, “Well, mustahil itu!”

Kali ini, persis itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s