Apakah Para Pastor dan Biarawati Katolik Membunuhi Anak Mereka Sendiri?

Oleh: Judy Byington
19 Maret 2014
Sumber: www.childabuserecovery.com

Biarawati
Biarawati sedang mengikuti Misa

Hari ini seorang biarawati pelatihan, Sosefina Amoa, mendekam di sebuah penjara Washington DC, menantikan penjatuhan vonis bertanggal 23 Mei atas dakwaan pembunuhan disengaja dalam kematian bayinya yang baru lahir. Menurut The Washington Post, Suster Amoa mengakui mencekik bayi yang diberi nama Joseph setelah melahirkannya di Catholic Northeast Little Sisters of the Poor Convent.

Meski para biarawati melaporkan Suster Amoa kepada polisi, otoritas Katolik selalu tidak transparan menyangkut pembunuhan yang dilakukan di dalam tembok misterius mereka. Menurut para korban pencabulan anak di lembaga-lembaga Katolik, adalah lumrah para pastor dan biarawati memperkosa dan membunuh anak kecil, khususnya bayi baru lahir. Terdapat jaminan dari Vatikan bahwa siapapun yang menodai Gereja Katolik Roma dengan melaporkan kejahatan semacam ini akan diekskomunikasi dan karenanya hidup kekal di dalam Neraka.

Berapa banyak bayi baru lahir meninggal di tangan orangtua Katolik yang merupakan pastor dan biarawati?

“Bayi-bayi terlahir, banyak yang prematur. Saya tahu, bayi baru lahir pasti dibunuh. Sang ibu akan menghabisi nyawanya,” ungkap seorang mantan biarawati yang masuk biara Katolik AS di usia 14. “Saya menjadi manusia robot milik Roma,” sambungnya dalam video berikut, www.youtube.com.

“Para biarawati yang hamil dan berusaha membunuh bayi baru lahir adalah hal lumrah di biara-biara,” kata Suster Mary Chandy (69), mantan biarawati Catholic Presentation Convent di Kerala, India. Dia mengaku pernah menyelamatkan bayi baru lahir ketika sang ibu, seorang biarawati, mencoba membunuh bayinya dengan dimasukkan ke dalam tangki toilet. Suster Chandy bercerita, “Bocah itu kini menjadi siswa yang hidup seperti anak yatim.”

Suster Chandy keluar dari ordo Katoliknya 14 tahun silam setelah seorang pastor mencoba memperkosanya. Ketika dia mengadukan si pastor, otoritas Katolik mencapnya sebagai orang canggung, demikian menurut artikel India Times edisi 31 Maret 2012 ini, timesofindia.indiatimes.com.

“Mereka melempar bayi mungil itu ke dalam tungku dan membakarnya hidup-hidup,” kata Irene Favel (75) sewaktu menjelaskan masa kecil penuh siksa di sekolah kediaman India Katolik di Muscowequan Saskatchewan, Kanada. “Yang terdengar hanya jeritan kecil seperti ‘Uuh’, dan begitulah. Anda bisa mencium masakan daging.”

Pada 1971, para pastor Yesuit Katolik mengubur hidup-hidup seorang bayi baru lahir di bawah papan lantai St. Mary’s Mission School, Omak, Washington. Clarita Vargas berumur 14 ketika dia dan dua gadis pribumi lain menyaksikan pembunuhan oleh kepala sekolah tersebut. Dua biarawati mengekang sang ibu pribumi yang berteriak-teriak. Clarita tak pernah lagi melihat ibu muda itu, tapi mendapat informasi bahwa dia dihamili oleh salah satu pastor.

“Ada anak-anak kecil yang dilempar ke dalam tungku,” kata Sesepuh Pribumi Stee-mas dan Wahtsek, korban sekolah kediaman Katolik di Kanada. “Pendeta menghamili gadis muda itu, lalu menaruh bayi mereka yang baru lahir ke dalam tempat pembakaran.”

Kedua sesepuh ini membahas masa kecil penuh penganiayaan oleh pastor dan biarawati Katolik dalam video berikut, www.youtube.com.

Mengapa kasus-kasus pembunuhan ini tidak masuk ruang sidang?

Pada 2009, kepolisian suku setempat dan Departemen Sheriff Omak Washington menolak memeriksa para pengacara Clarita Vargas, sementara FBI mengklaim perlu “dapat izin dari Gereja Katolik” sebelum menggali St. Mary’s Mission School di mana bayi itu dikubur hidup-hidup.

“Belum pernah ada yang disidang atas kematian anak kecil,” ujar Sesepuh Pribumi Kanada, Stee-mas dan Wahtsek, mengenai kematian 50.000 anak pribumi yang hilang. “Hakim Mahkamah Agung dari British Columbia berkata pada kami bahwa mencari keadilan adalah fantasi.”

Pada 3 Oktober 1997 silam, terkait bertambahnya saksi pembunuhan anak kecil di sekolah kediaman pribumi Katolik di Alberni, Kanada, Polisi Gerry Peters berkata, “Kami tak bisa menyelidiki semua kematian murid di sekolah itu. Penyelidikannya akan terlalu besar.”

Ini menimbulkan pertanyaan nyata: seberapa amankah anak-anak kita jika pastor dan biarawati Katolik tidak dituntut bertanggungjawab atas kejahatan terhadap anak-anak, termasuk anak mereka sendiri?

Suster Maureen Murphy dibebaskan dari tuduhan pembunuhan meski biarawati ini mengakui mencekik bayi baru lahirnya pada 27 April 1976 di biara Sisters of St. Joseph, Rochester, New York. Suster Murphy tak mau mengungkap nama ayah bayi itu, padahal sudah 19 tahun dia bermukim di biara tersebut, di mana kaum pria di sana hanya pastor. Hakim tak menyampaikan alasan atas vonis tak bersalah ini sebagaimana diberitakan oleh Rochester NY Gazett, news.google.com.

Pada 2011, terdapat 500 korban Penganiayaan Seksual Pastor Yesuit Katolik AS yang bersedia menerima $166 juta di luar pengadilan. Tak ada tuntutan pidana terhadap otoritas Katolik manapun—padahal saksi-saksi semacam Clarita membeberkan pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan anak kecil di sekolah-sekolah yang berlokasi di Washington, Oregon, Idaho, Montana, dan Alaska. Clarita mengklaim, hari ini kepala sekolah yang pernah mengubur bayi hidup-hidup itu bertempat tinggal di sebuah rumah jompo di Washington, www.nytimes.com.

Kisah beberapa korban penganiayaan pastor dan biarawati ini dan lainnya dapat dibaca secara gratis dalam Hidden No Longer karangan Kevin Annett di www.childabuserecovery.com.

www.washingtonpost.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s