Apakah Anjing NATO Dipakai Untuk Memperkosa Tahanan Afghan di Pangkalan Udara Bagram

Oleh: Emran Feroz
15 Desember 2014
Sumber: www.alternet.org

Cerita terpendam mengenai horor-horor dalam perang terhadap teror pimpinan AS menimbulkan pertanyaan perihal 9.000 dokumen yang masih ditahan CIA.

Pasca dirilisnya laporan penyiksaan CIA oleh Senator Diane Feinstein (Demokrat-California), dunia tersentak oleh tingkat kebrutalan yang terungkap dalam dokumen tersebut. Malah, laporan itu tidak lebih dari pengakuan akan prosedur sadis yang boleh jadi dijiplak dari diari Torquemada, mulai dari “umpan dubur” hingga pemukulan bugil dan perendahan—horor yang sudah dikenal luas tapi tidak dikonfirmasi resmi. Tapi laporan itu belum lengkap. Sekitar 9000 dokumen tertahan.

Horor baru apa saja yang mungkin ditemukan dengan penerbitan catatan-catatan ini?

Barangkali kisah Bagram yang paling memualkan terpendam di media Jerman dan belum diketahui oleh mayoritas warga dunia. Dipublikasikan oleh pengarang dan mantan politisi Jerman, Juergen Todenhoefer, dalam buku terbarunya, Thou Shalt Not Kill, keterangan ini berawal dari sebuah kunjungan ke Kabul. Di suatu hotel setempat, seorang mantan prajurit Kanada dan kontraktor keamanan swasta bernama Jack bercerita kepada Todenhoefer kenapa dirinya tak sanggup lagi bekerja di Bagram.

“Bukan kualitas saya memperkosa orang-orang Afghan dengan anjing,” kata Jack.

Putera Todenhoefer, yang ikut bersamanya di Kabul dan sedang menuliskan kata-kata Jack, terkejut sekali mendengar komentar ini, sampai nyaris menjatuhkan kertas dan pena.

Sang veteran perang, yang jijik terhadap para politisi Barat penipu meskipun dia sendiri membela taktik penghukuman kolektif, melanjutkan keterangannya: para tahanan Afghan diikat telungkup pada kursi kecil, lalu anjing-anjing tempur masuk ke ruang penyiksaan.

“Jika tahanan tidak mengatakan sesuatu yang berguna, setiap anjing menggilir mereka,” tutur Jack kepada Todenhoefer. “Usai prosedur seperti ini, mereka mengakui segalanya. Bahkan mereka mengaku membunuh Kennedy sekalipun tidak kenal siapa dia.”

Mantan anggota parlemen yang mewakili Christian Democratic Union berhaluan kanan-tengah periode 1972 s/d 1990, Todenhoefer menjelma menjadi aktivis anti-perang gigih usai menyaksikan pemusnahan Afghanistan oleh Soviet di tahun 1980-an. Jurnalismenya membawanya ke Irak dan kembali ke Afghanistan, di mana dia menyajikan keterangan soal intervensi militer Barat dari perspektif pasukan gerilya pribumi. Tak heran, buku-bukunya mengundang banyak kontroversi lantaran menyajikan argumen tandingan tajam terhadap narasi perang melawan teror. Di Jerman, Todenhoefer difitnah habis-habisan oleh tokoh-tokoh pro-Israel dan sohib AS sebagai “pecinta damai vulgar” dan apolog ekstrimisme Islam. Tapi orang-orang yang berada di sisi lain bedil Barat cenderung mengakui jurnalismenya sebagai gambaran akurat akan kenyataan yang kejam.

Walau keterangannya tentang penggunaan anjing untuk memperkosa tahanan di Bagram belum terkonfirmasi, praktek tersebut bukannya tanpa preseden. Tahanan politik wanita di penjara-penjara bekas diktator Chile Augusto Pinochet pernah melukiskan bagaimana para penyiksa memakai anjing untuk memperkosa mereka.

Baru-baru ini, Lawrence Wright, penulis sejarah Al-Qaeda yang mendapat pujian khalayak, The Looming Tower, bercerita kepada Terry Gross dari National Public Radio, “Salah satu sumber FBI berkata bahwa dirinya pernah mengobrol dengan seorang perwira intelijen Mesir yang menyebutkan [dinas] mereka memakai anjing untuk memperkosa para tahanan. Dan sulit dikatakan betapa merendahkannya itu bagi siapapun, terutama dalam budaya Islam di mana anjing adalah makhluk rendah. Kau tahu, bekasnya takkan pernah hilang dari pikiran siapapun.”

Saya pernah bicara dengan seorang Afghan bernama Mohammad yang bekerja sebagai penerjemah di Bagram dan menuntut anonimitas karena khawatir dengan tindakan balasan. Dia bilang, keterangan Todenhoefer soal penggunaan anjing untuk memperkosa tahanan di penjara adalah “memang nyata”. Mohammad bekerja terutama untuk pasukan AS di Bagram, mengambil pekerjaan ini akibat keputusasaan finansial. Dia segera sadar dirinya telah berbuat keliru. “Saat menerjemahkan untuk mereka, saya sering mengerti bahwa tahanan tersebut bukan teroris,” kenangnya. “Kebanyakan adalah petani miskin atau warga biasa.”

Namun Mohammad terpaksa bungkam tatkala saudara senegaranya disiksa secara kejam di depan matanya. “Saya sering merasa seperti pengkhianat, tapi saya butuh uang,” ungkapnya. “Saya terpaksa, demi memberi makan keluarga. Banyak penerjemah Afghan mengalami situasi serupa.”

Taliban juga menyebut orang-orang semacam Mohammad sebagai “pengkhianat”. Sudah diketahui luas bahwa mereka menghabisi penerjemah yang tertangkap. Sejak saat itu Mohammad meninggalkan Afghanistan untuk alasan keamanan dan enggan memberi rincian tentang sesi interogasi yang dia ikuti. Namun, dia bersikeras keterangan Todenhoefer mewakili horor yang berkembang di balik tembok-tembok Bagram.

“Guantanamo adalah surga jika dibandingkan dengan Bagram,” kata Mohammad.

“Waheed Mozhdah, analis politik dan penulis kenamaan yang bermukim di Kabul, menggemakan keterangan Mohammad. “Bagram lebih buruk dari Guantanamo,” kata Mozdah, “dan semua kejahatan itu, bahkan yang paling kejam seperti kisah anjing, sudah diketahui luas di sini tapi mayoritas masyarakat memilih tidak membicarakannya.”

Kampung halaman bagi tentara, lubang neraka bagi tahanan

Sulit dibayangkan, siksaan lebih seram apa saja yang masih terendam dalam tarikh kepulauan gulag internasional milik Amerika. Kekejian-kekejian yang dinyatakan kepada seorang jurnalis Jerman oleh mantan tahanan di Pangkalan Udara Bagram milik militer AS di Kabul, Afghanistan, mengisyaratkan bahwa horor-horor terburuk mungkin akan terlalu sulit untuk dicerna masyarakat.

Pangkalan Udara Bagram merupakan pangkalan terbesar yang dibangun AS di Afghanistan dan juga salah satu panggung utama metode penyiksaannya. Anda harus berkendara sekitar satu setengah jam dari Kabul untuk sampai ke penjara tersebut, tempat ditahannya ratusan tahanan yang dianggap bernilai tinggi. Fondasi pangkalan jauh lebih tua, diletakkan oleh Soviet pada 1950-an, ketika raja terakhir Afghanistan, Mohammad Zahir, membina hubungan ramah dengan Moskow. Kemudian, semasa pendudukan Soviet, Bagram menjadi pusat kendali utama Tentara Merah.

Dikenal sebagai “Guantanamo kedua”, padahal kondisi di Bagram lebih buruk, Anda akan temukan sel bawah tanah gelap, yang disinggung dalam laporan teranyar CIA, di sebelah restoran-restoran cepat saji Amerika. Selama pendudukan AS, kompleks militer di Bagram menjadi semacam kampung kecil bagi tentara, mata-mata, dan kontraktor. Di lubang neraka yang tertutup rapat ini, pelanggaran HAM sewenang-wenang berlangsung nyaman dan berdampingan dengan “Gaya Hidup Amerika”.

Salah seorang yang tersedot ke dalam dunia paralel Bagram adalah Raymond Azar, manajer perusahaan konstruksi. Azar, warga Lebanon, sedang menuju pangkalan militer AS dekat Istana Kepresidenan Afghan, dikenal sebagai Kamp Eggers, ketika 10 agen FBI bersenjata tiba-tiba mengepungnya. Dia diborgol, diikat, dan dimasukkan ke dalam mobil SUV. Beberapa jam kemudian dia mendapati dirinya berada di jantung Bagram.

Menurut kesaksian Azar, dirinya dipaksa duduk selama tujuh jam dengan tangan dan kaki terikat ke kursi. Dia menghabiskan semalaman di dalam kontainer logam yang dingin. Para penyiksa tidak memberinya makan selama 30 jam. Azar juga menyebut, para perwira militer itu menunjukkan foto-foto isteri dan keempat anaknya, memperingatkan bahwa dia takkan pernah berjumpa lagi dengan keluarganya kalau tidak mau bekerjasama. Hari ini kita tahu, perwira dan agen mengancam para tahanan dengan pemerkosaan atau pembunuhan terhadap kerabat mereka.

Azar tak punya kaitan dengan Al-Qaeda atau Taliban. Dia terjebak di tengah jejaring korupsi klasik. Perusahaan milik pengusaha ini menandatangani kontrak palsu dengan Pentagon untuk pekerjaan rekonstruksi di Afghanistan. Lalu, Azar dituduh berusaha menyogok kontak Angkatan Darat AS demi mengamankan kontrak militer untuk perusahaannya. Ini bukan jenis kejahatan yang bisa membuat seorang tersangka dikirim ke penjara militer. Sampai hari ini, tak ada yang menjelaskan kenapa sang pengusaha dilarikan ke Bagram.

Mayoritas tahanan dari Bagram bukanlah pebisnis kaya atau pekerja asing asal luar negeri, melainkan warga Afghan biasa yang hidup sederhana sebelum diculik. Salah satu dari mereka adalah Dilawar Yaqubi, sopir taksi dan petani dari Khost, Afghanistan Timur. Setelah lima hari disiksa secara brutal di Bagram, Yaqubi dinyatakan tewas pada 10 Desember 2002. Kakinya “dibuburkan” oleh para penginterogasi, yang mengaku sekadar bertindak berdasarkan garis pedoman dari Pentagon dan disetujui oleh Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld. Kasus pembunuhan sopir taksi Afghan disorot dalam dokumenter peraih Oscar, Taxi to the Dark Side. Film ini memperlihatkan bahwa Yaqubi, sederhananya, berada di tempat yang salah di waktu yang salah. Keluarganya, puterinya, dan isterinya, menanti keadilan. (Tonton Taxi to the Dark Side versi lengkap.)

Rezim pemerkosa, panglima perang, dan penyiksa yang disokong AS

Laporan penyiksaan CIA teranyar hanya fokus pada kejahatan pemerintahan Bush. Tapi jangan lupa, horor yang menghantui Afghanistan berlanjut di bawah pantauan Barack Obama. Tatkala presiden baru Afghanistan, Ashraf Ghani, naik kekuasaan dua bulan lalu, yang pertama kali dilakukannya adalah menandatangani Bilateral Security Agreemen (BS) dengan AS. Berdasarkan syarat-syarat kesepakatan lancung yang dinegosiasikan tanpa izin atau persetujuan masyarakat Afghan ini, peradilan Afghan dilarang menuntut tentara AS di Afghanistan. Ini berarti tentara Amerika manapun, entah penyiksa atau operator pesawat nirawak yang membinasakan sebuah keluarga dengan pijitan tombol, kebal hukum.

Di hari-hari terakhir kepresidenannya, Hamid Karzai mencemooh perjanjian bilateral ini, sementara kritikus Afghan lain melukiskannya sebagai “pakta kolonial”. Karzai sadar, tandatangannya pada kesepakatan tersebut akan mencederai namanya dalam catatan sejarah. Di luar kebiasaan, Karzai mengutuk pendudukan AS dan menyatakan Bagram telah menjadi “pabrik terorisme”, meradikalkan bergelombang-gelombang manusia lewat penyiksaan dan pemencilan. Tangan-tangan berwenang di Washington tidak memandang ramah perubahan spontan Karzai menjadi tokoh masyarakat.

Kini selepas Karzai pergi, Ghani berbuat segalanya untuk membuktikan kepatuhan mutlak terhadap AS. Menurut berbagai laporan, sekarang dia duduk minum teh setiap pekan bersama para komandan dan jenderal NATO, menyimak kecemasan mereka dan berbuat apapun yang dia mampu untuk mengakomodirnya. Ghani telah memutarbalik dekrit Karzai menyangkut penyergapan malam dan pengeboman NATO serta mendorong Tentara Nasional Afghan—geng korup dan kriminal yang didirikan dan dilatih oleh militer AS—untuk memerangi “terorisme” tanpa belas kasih. Berkenaan dengan laporan penyiksaan, Ghani menyebut praktek-praktek yang dilukiskan itu “tidak manusiawi”, padahal perbuatannya mengingkari protes kosongnya.

Pada 20 Desember 2014, tepat 12 tahun pasca pembunuhan keji Dilawar Yaqubi dan baru sehari pasca rilis laporan penyiksaan CIA, Departemen Pertahanan AS mengumumkan telah menutup pusat penahanan Bagram untuk selamanya. Tapi tidak diketahui berapa banyak penjara rahasia yang masih eksis di Afghanistan. Sementara itu, mayoritas unsur di pemerintahan Afghan sangat loyal pada AS dan sadar bahwa mereka akan kehilangan kekuasaan dan dukungan keuangan tanpa AS. Wakil Presiden baru negara tersebut, Abdul Rashid Dostum, merupakan panglima perang dan pemimpin milisi tercela yang membunuh, menyiksa, dan mengawasi langsung pemerkosaan warga sipil Afghan yang tak terbilang jumlahnya. Kejahatannya didokumentasikan dengan baik oleh organisasi-organisasi HAM terkemuka dunia. Bersama panglima lain yang terkenal dengan perdagangan manusia dan aneka kejahatan, dia beroperasi di samping dinas intelijen Afghan (NDS) yang rutin terlibat dalam penganiayaan brutal seraya menawarkan gaji AS.

Di Afghanistan yang masih didominasi kepentingan Barat dan kekuasaan Amerika, penyiksaan tak pernah berhenti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s