Bukti Terklasifikasi – Tentara AS Perkosa Para Bocah Lelaki di Hadapan Ibu Mereka

Oleh: John Vibes
19 Desember 2014
Sumber: www.mintpressnews.com

Kini, setelah lebih dari satu dekade, bukti kejadian-kejadian ini mulai mengemuka, tapi Departemen Pertahanan masih berusaha sekuat tenaga untuk merahasiakannya.

Prajurit AS perkosa bocah Irak
Prajurit AS perkosa bocah Irak

Menurut sejumlah sumber media mainstream global, Pentagon sedang menutup-nutupi sebuah video menggelisahkan yang tak pernah dipublikasikan bersama laporan penyiksaan baru-baru ini.

Menurut berbagai jurnalis terkemuka, termasuk Seymour Hersh, video menggemparkan itu direkam di Abu Ghraib, penjara penyiksaan terkenal milik AS di Irak yang masuk tajuk-tajuk utama kurang-lebih satu dekade lalu pasca terbongkarnya penggunaan taktik tak manusiawi di sana.

Yang menyedihkan, rupanya bukti yang dilansir bertahun-tahun lalu itu cuma menyentuh permukaan.

Meski masih disembunyikan, menurut Hersh hanya soal waktu sebelum video ini bocor.

Berpidato di ACLU pekan lalu usai dirilisnya laporan penyiksaan milik senat, Hersh memberi wawasan tentang apa yang terdapat dalam rekaman rahasia Pentagon.

Dalam bagian pidato paling menyingkap, dia berkata:

“Bicara soal itu, emmm… Beberapa kejadian terburuk yang tak kalian ketahui, oke? Video, ehm, ada para wanita di sana. Sebagian dari kalian mungkin sudah baca, mereka menyampaikan surat, komunikasi, kepada suami mereka. Ini di Abu Ghraib… Para wanita menyampaikan pesan berbunyi ‘Datang dan bunuhlah kami, atas apa yang sudah terjadi’ dan pada dasarnya yang terjadi adalah mereka ditahan bersama bocah-bocah, anak kecil, dalam situasi yang sudah terdokumentasi. Para bocah itu disodomi, sementara kamera bergulir. Dan yang paling parah adalah soundtrack jeritan bocah yang disimpan pemerintah kalian. Anak-anak itu ketakutan total. Ini akan bocor.”

“Tidak mudah untuk bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kita sampai ke sana? Siapa kita? Siapa orang-orang yang mengirim kita ke sana? Ketika saya melakukan [pembantaian] My Lai, saya terusik atas apa yang terjadi, sebagaimana orang waras manapun. Akhirnya saya menulis, pelaku pembantaian itu juga korban seperti halnya orang-orang yang dibantai, mengingat luka emosional yang mereka derita. Saya bisa ceritakan beberapa kisah pribadi sebagian orang yang tergabung dengan satuan-satuan ini dan menyaksikannya. Saya juga bisa ceritakan pengaduan tertulis yang diajukan kepada para perwira tinggi. Jadi kita sedang berurusan dengan perbuatan kriminal dalam jumlah masif yang ditutup-tutupi di komando tertinggi di luar sana dan lebih tinggi lagi, dan kita harus dan akan menghadapinya. Kita akan. Kalian tahu, ada cukup banyak di luar sana, mereka tak bisa (hadirin bertepuk-tangan). …Jadi ini akan menjadi tahun pemilu yang menarik.”

Jika dikaitkan dengan pidato lain yang Hersh sampaikan di awal tahun ini, maka jelaslah bahwa kaum wanita yang menyaksikan pemerkosaan para bocah tersebut adalah ibu-ibu mereka sendiri.

Dalam pidato di Chicago bulan Juni kemarin Hersh dikutip menyatakan:

“Kalian belum mulai melihat hal-hal jahat…seram yang dilakukan kepada anak-anak para tahanan wanita, sementara kamera berjalan.”

Kisah-kisah lain dalam Guardian London juga membahas para tahanan belia Irak yang diperkosa secara kasar oleh tentara AS.

Sepuluh tahun silam, ketika skandal pertama Abu Ghraib masuk berita, Guardian mempublikasikan kesaksian seorang tahanan Abu Ghraib yang diduga menyaksikan salah satu serangan brutal ini.

Mantan tahanan Kasim Hilas berkata dalam kesaksian mereka:

“Saya menyaksikan [nama dihitamkan] menyetubuhi seorang anak, berusia sekitar 15-18 tahun. Dia kesakitan dan mereka menutupi semua pintu dengan seprai. Lalu saat mendengar jeritan, saya memanjat pintu karena bagian atasnya tidak ditutupi dan saya melihat [dihitamkan], yang memakai seragam militer, sedang memasukkan penisnya ke dalam bokong anak kecil itu. Saya tak bisa lihat wajah anak itu karena dia tidak menghadap pintu. Dan prajurit wanita sedang mengambil gambar.”

Kini, setelah lebih dari satu dekade, bukti kejadian-kejadian ini mulai mengemuka, tapi Departemen Pertahanan masih berusaha sekuat tenaga untuk merahasiakannya. Karena itulah, penting sekali saat ini untuk terus mendesak dan memaksa perilisan bukti ini, selagi laporan penyiksaan masih segar dalam benak khalayak umum.

Tentang penulis: John Vibes adalah penulis, peneliti, dan jurnalis investigasi yang menaruh perhatian khusus pada budaya tandingan (counter culture) dan perang narkoba. Di samping kegiatan menulis dan aktivis, dia juga pemilik perusahaan promosi musik yang sukses. Pada 2013, dia menjadi salah satu penyelenggara Free Your Mind Conference, yang menghadirkan pembicara dan whistle-blower papan atas dari seluruh dunia. Anda dapat menghubunginya dan terus tersambung dengan aktivitasnya di laman Facebook miliknya. Anda dapat menemukan buku 65 bab karangannya, berjudul “Alchemy of the Timeless Renaissance”, di bookpatch.com.

Advertisements

One thought on “Bukti Terklasifikasi – Tentara AS Perkosa Para Bocah Lelaki di Hadapan Ibu Mereka

  1. Blog ini bukan ditujukan untuk mengantarkan kesemrawutan dalam pemikiran dan [perenungan] diri saudara. Kami juga tidak bermaksud untuk melemahkan iman, karakter, mental, kepribadian, jiwa, atau akal pikiran saudara. Juga bukan untuk memancing saudara kepada emosi tanpa menilai kesanggupan diri atau penyelesaian tanpa dasar, bukan pula untuk mencari keuntungan atas ketertarikan saudara dalam hal ini.

    Setiap artikel yang kami publikasikan di sini, dalam pandangan kami sebagai Muslim yang awam, tak lain untuk menajamkan pandangan saudara (khususnya sesama Muslim) dalam memperhitungkan fondasi masalah yang mungkin sering dilempar sesaat, lalu pergi begitu saja.

    Kami masih ingat berbelas tahun lalu, guru kami berkata saat akan mengajar, “Hari ini Irak diserang.” Apa boleh dikata, kami tak mengerti saat itu apa yang [harus] dipikirkan, meskipun kami paham betul dengan kejadian Poso dan Ambon.

    Kemudian kami sadar bahwa ketidakpahaman akan kalimat “Hari ini Irak diserang”, amat jauh berbeda dengan betapa pahitnya mendengar surat Fatima dari penjara Abu Ghraib tak lama kemudian.

    Bahwa “kita” yang tak berada dalam zona tersebut, hanya mengeluhkan segala sesuatu saat semua sudah terlambat. Kondisi Afghanistan, Irak, dan berbagai negeri Muslim yang telah diambilalih secara politik oleh Amerika dan sekutunya, bukanlah masalah tunggal. Tentu saja mungkin saudara lebih paham, bahwa mereka bermain di berbagai area. Mereka memprovokasi, menyemai, menarik, mendorong, menodong, menggiring, atau mengarahkan para penguasa lokal–sambil membuat tandingan di sisi lain dengan berbagai potensi yang muncul.

    Jika saudara melihat patriotisme Amerika di berbagai kesempatan (yang disajikan secara indah dalam film), mereka berdiri di atas kebanggaan akan bendera dan darah (kehormatan) Amerika dalam tubuh mereka. Pemimpin mereka menarik pemuda-pemuda, sekalipun seorang kriminal. Sebagiannya beranggapan bahwa itu adalah untuk memperbaiki kejahatan mereka di masyarakat. Ini hanyalah memindahkan masalah. Tak ubahnya seseorang yang berkata, “Jangankan ulama, bahkan preman pun bila agama dan nabinya dicaci-maki, dia akan bangkit.” Jadi di manakah “kita” selama ini? Apakah kecintaan hanya bergelora manakala kebencian diungkapkan?

    Jelas itu hanya pengungkapan bentuk ekspresi sesaat (kebanggaan) untuk hal yang amat mendasar, sesuatu yang harus dipertanyakan ke dalam setiap diri. Untuk apa membela, apa yang dibela, siapa yang menyuruh membela, ke mana selama ini “kita”? Apakah merasa baik-baik saja? Padahal “kebanggaan” akan kemuliaan harus disertai penjagaan atasnya.

    Tidakkah ekspresi sesaat itu hanya lompatan yang mengangkangi prosedur dalam memelihara kehormatan dan kesucian yang seharusnya selalu dijalankan. Akankah itu terwujud tanpa benteng, tanpa senjata, tanpa karakter, tanpa perhitungan, tanpa akal pikiran, tanpa tahu apapun? Hanya peristiwa yang ia dengar ketika ia marah? Hanya bermodalkan sesaknya dada, ketika kesadaran itu muncul?

    Keadilan yang dijalankan dengan persepsi demikian akan melahirkan reaksi yang sama. Menurunkan derajatnya pada sentimen tertentu, seketika ia tak sanggup menelaah darimana dan ke mana harus mengarahkan sikapnya. Hingga membidik setiap pihak yang berseberangan dengannya.

    Pun demikian, kami harap saudara tidak menganggap kami bermain di tempat aman dengan berlagak suci. Mungkin sebagai pembaca, mudah saja bagi saudara membaca setiap artikel di sini. Tapi bagi kami, menerjemahkan setiap kata itu sama dengan menyelami sedikit demi sedikit apa yang mereka rasakan.

    Tentu saja, jika saudara mau menelusuri sendiri, perilaku prajurit Amerika ini sudah mengakar bahkan di internal mereka sendiri, sejak lama. Bagi mereka ini tak ubahnya permainan, atau, ingin menunjukkan dominasi atas seseorang atau sekelompok orang. Kesaksian seperti itu melimpah dalam buku dan kisah personal, dan ini bukan hanya menimpa prajurit wanita tapi juga prajurit pria. Mereka menutupinya, demi hal ini apapun mereka lakukan, dengan paradigma kebanggaan yang sama. Demi bangsa dan negara.

    Padahal jika kita mau memperhatikan peringatan Allah dan Nabi Muhammad SAW; bahwa sehebat, setinggi, atau semulia apapun posisi kita, ia akan dicatat meskipun kecil, ia akan mendapat balasannya jika berbuat zalim, dan ia akan hina jika tidak ikhlas.

    Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s