Keterkaitan Muslim Dengan Perkosaan Rotherham

Oleh: Ian Tuttle
27 Agustus 2014
Sumber: www.nationalreview.com

Kepatutan politis[1] telah mencegah pihak berwenang untuk mengakui masalah penganiayaan seksual di masyarakat.

Sebuah jalan publik di Rotherham, South Yorkshire, Inggris (Nigel Roddis/Getty Images)
Sebuah jalan publik di Rotherham, South Yorkshire, Inggris (Nigel Roddis/Getty Images)

Sekitar delapan mil dari Sheffield di Inggris tengah, Metropolitan Borough of Rotherham menjadi rumah bagi lebih dari 258.000 penduduk—sebagai perbandingan, hampir sama banyak dengan penduduk “kota kembaran” transatlantiknya, Buffalo, N.Y.

Ia juga menjadi rumah bagi pemerintah setempat, badan layanan sosial anak, dan departemen kepolisian yang menghadapi sekurangnya 1.400 kasus “eksploitasi seksual anak” (CSE) antara 1997 s/d 2013—dan ini adalah perkiraan “konservatif”, menurut “Independent Inquiry into Child Sexual Exploitation in Rotherham” yang baru dilansir oleh Metropolitan Borough Council di Rotherham. Bagaimana polisi dan para pemimpin setempat bisa mengabaikan pengorbanan begitu banyak anak kecil? Sebagian berkat kepatutan politis.

Disusun oleh Profesor Alexis Jay, seorang pakar dan penasehat pemerintah bidang pekerjaan sosial, dasar dari penyelidikan ini adalah 988 anak kecil korban eksploitasi seksual, yang didefinisikan oleh Kerajaan Inggris sebagai [kegiatan] yang melibatkan kaum muda di bawah usia 18 dalam “situasi, konteks, dan hubungan eksploitatif di mana kaum muda (atau orang atau orang-orang ketiga) menerima ‘sesuatu’ (misalnya makanan, tempat inap, narkoba, alkohol, rokok, kasih-sayang, hadiah, uang) sebagai hasil dari melakukan, dan/atau diperlakukan dengan, kegiatan seksual.”

Jay dan rekan-rekan peneliti membaca 66 berkas kasus, yang sebagiannya masih diselidiki. Yang mereka temukan bukan sekadar kasus penganiayaan seksual lumrah, melainkan jaringan perdagangan seks, perkosaan keroyokan, dan teror:

Sulit sekali melukiskan seramnya penganiayaan yang diderita para korban anak kecil. Mereka diperkosa oleh banyak pelaku, dijual ke kota kecil dan kota besar lain di utara Inggris, diculik, dipukuli, diintimidasi. Terdapat contoh anak-anak kecil yang dicelupkan ke dalam bensin dan diancam akan dibakar, diancam dengan senjata, disuruh menyaksikan perkosaan bengis dan diancam akan menjadi korban berikutnya jika bilang siapa-siapa. Gadis-gadis sekecil usia 11 tahun diperkosa oleh banyak pelaku pria.

Laporan eksploitasi seksual anak di Rotherham diketahui oleh para pekerja sosial menjelang awal 1990-an, tapi mayoritas laporan tersebut itu diidentifikasi secara keliru sebagai “prositusi anak”. Baru pada 1997, ketika Council’s Youth Services meluncurkan proyek pemuda Risky Business, eksploitasi seksual anak menjadi perhatian tersendiri. Risky Business bertujuan mengidentifikasi orang-orang usia 11 s/d 25 yang mungkin beresiko, dan kerap merekomendasikan mereka ke lembaga peduli anak, tapi lembaga-lembaga ini biasanya lalai dalam tugas.

Pada tahun 2000, seorang gadis 12 tahun dicekoki narkoba dan diperkosa lima pria. Perwakilan Criminal Investigation Department yang menangani kasusnya berargumen, setiap insiden adalah “100% suka sama suka”. Dua pria yang mengaku bersetubuh dengan gadis ini mendapat “peringatan polisi”.

Pada tahun 2001, seorang predator berantai mengancam korbannya, gadis 15 tahun, dengan prostitusi—lalu mengancam keluarganya, mencorat-coret rumahnya, dan memanfaatkan korban lain untuk menyerang gadis ini. Si gadis diopname, dan para anggota keluarganya bersembunyi. Dia dan ibunya menolak bekerjasama dengan polisi. Mereka yakin penegak hukum tak berdaya melindungi mereka.

Pada tahun 2008, seorang gadis 12 tahun yang ditemukan mabuk di kursi belakang sebuah kendaraan bersama tersangka predator—yang menyimpan gambar-gambar cabul sang gadis di ponselnya—dinilai oleh otoritas setempat tidak beresiko mengalami eksploitasi seksual anak, dan kasusnya ditutup. “Kurang dari sebulan kemudian,” menurut laporan penyelidikan Jay ini, “dia ditemukan di sebuah rumah terbengkalai bersama seorang anak lain, dan sejumlah pria dewasa. Dia ditangkap karena mabuk dan melanggar peraturan (dakwaannya kemudian dibatalkan) dan tak satupun dari pria-pria itu yang ditangkap.”

Konsekuensi dari salah kelola pemerintahan melanggengkan siklus kejahatan: “Salah satu anak yang tidak memenuhi ambang [persyaratan] untuk layanan sosial kemudian menjadi pelaku kejahatan seks serius, dipidana atas tuduhan penculikan dan perkosaan gadis-gadis belia.”

Mayoritas korban tidak dikenal oleh sistem: “Hanya dalam 1/3 kasus, anak-anak korban eksploitasi seksual sudah dikenali sebelumnya oleh badan-badan layanan dengan kasus perlindungan dan penelantaran anak. Terdapat riwayat KDRT dalam 46% kasus. Bolos dan menolak bersekolah tercatat dalam 63% kasus, dan 63% anak dilaporkan hilang lebih dari sekali.”

Jadi kenapa Rotherham gagal melindungi anak-anaknya? Pertimbangkan latar belakang para pelaku.

“Sejauh ini, mayoritas pelaku dideskripsikan sebagai ‘orang Asia’ oleh para korban,” kata laporan penyelidikan ini—yang dimaksud adalah anggota “komunitas keturunan Pakistan” Inggris Raya. Pejabat Rotherham dikabarkan tak pernah mengajak mereka “untuk membahas bagaimana sebaiknya mereka dapat menangani isu eksploitasi seksual anak secara bersama-sama”.

Dalam laporan tahun 2006 mengenai eksploitasi seks anak di Rotherham, Dr. Angie Heal, seorang analis obat-obatan strategis, menulis, “Diyakini oleh sejumlah pekerja [sosial] bahwa salah satu kesulitan yang mencegah penanganan isu ini secara efektif adalah etnis pelaku utama.” Dia juga mencatat, dalam kata-kata Jay, “Kepolisian tak berani bertindak terhadap pemuda Asia karena khawatir dengan tuduhan rasisme. Persepsi ini digaungkan saat ini oleh sebagian kawula muda yang kami temui selama penyelidikan.”

Penyelidikan terkini melaporkan, selaras dengan Heal:

Beberapa orang yang diwawancarai mengungkapkan pandangan umum bahwa pertimbangan etnis telah mempengaruhi respon kebijakan Dewan dan Polisi… Salah satu contoh diberikan oleh manajer proyek Risky Business (1997-2012) yang melaporkan bahwa dirinya diminta tidak menyebut asal-usul etnis pelaku ketika melaksanakan pelatihan. Staf lain dalam pelayanan sosial anak berkata bahwa saat menulis laporan tentang kasus-kasus eksploitasi seksual anak, mereka dinasehati oleh para manajer agar berhati-hati dengan penyebutan etnis pelaku.

Tentu saja, isunya bukan semata ras, tapi juga agama. Menurut angka sensus 2011, 91% orang Pakistan di Inggris dan Wales adalah Muslim. Menurut laporan Dr. Heal tahun 2006, para tersangka eksploitasi seksual anak juga umumnya berasal dari Irak dan Kosovo—dua negara di mana Muslim menyumbang lebih dari 90% populasi.

Sebagai tambahan, kendati mayoritas korban adalah anak kecil “Inggris kulit putih”, eksploitasi seks anak juga lazim di komunitas keturunan Pakistan. Pada September 2013, Muslim Women’s Network Inggris melansir laporan eksploitasi seksual anak, utamanya di kalangan korban Muslim. Penyelidikan ini mengutipnya panjang-lebar:

“Perilaku menyerang umumnya melibatkan pria-pria yang beroperasi secara berkelompok… Korban diedarkan dan dilacurkan di antara banyak pria lain. Riset kami juga menunjukkan, ‘hirarki’ grooming[2] yang rumit turut bermain. Penganiayaan fisik meliputi pemerkosaan oral, dubur, dan vagina; bermain peran; pemasukan objek ke dalam vagina; pemukulan bengis; penyulutan dengan rokok; pengikatan; pemeranan perkosaan yang mencakup pengoyakan pakaian dan kegiatan seksual di depan webcam.” Deskripsi ini mencerminkan penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku keturunan Pakistan terhadap gadis-gadis kulit putih di Rotherham.

“Gang Rochdale” dijatuhi vonis pada Mei 2012.
“Gang Rochdale” dijatuhi vonis pada Mei 2012.

Sidang-sidang teranyar seolah menguatkan temuan penyelidikan Jay—dan mengisyaratkan bahwa masalah di Rotherham ini tidak terbendung. Pada November 2011bulan yang sama ketika lima pria Rotherham dipenjara atas serangan seksual terhadap gadis-gadis usia 12 s/d 16—sembilan pria dari Derby divonis atas peran mereka dalam “penganiayaan [seksual] dan perkosaan sistematis” terhadap gadis-gadis semudanya usia 12 tahun. Dua puluh tujuh gadis dinyatakan sebagai korban geng tersebut. Mei 2012, sembilan pria Rochdale dihukum atas kejahatan serupa terhadap gadis-gadis semudanya usia 13 tahun. Juni 2013, tujuh pria yang merawat, memperkosa, dan menjual gadis-gadis semudanya usia 11 tahun, divonis dan dihukum di Oxford. Para tergugat dalam setiap kasus hampir semuanya Muslim.

Profesor Jay dan para penelitinya melakukan wawancara dengan sejumlah kecil korban di wilayah Rotherham. “Seorang pemudi bercerita pada kami,” tulis mereka, “bahwa ‘perkosaan keroyokan’ adalah bagian lazim dari tumbuh besar di wilayah Rotherham di mana dirinya tinggal.”

Demikianlah hidup di bawah tirani tabu tak berperasaan: [golongan] yang paling rentan pada akhirnya menjadi korban.

Tentang penulis: Ian Tuttle adalah William F. Buckley Fellow di National Review Institute.

Catatan kaki:

  1. Political correctness atau kepatutan politis adalah sikap menghindari penggunaan bentuk-bentuk ungkapan atau tindakan yang dianggap mengecualikan, meminggirkan, atau menghina kelompok orang yang kurang beruntung secara sosial atau didiskriminasi—penj.
  2. Grooming adalah perawatan anak untuk pelecehan seksual—penj.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s