26 Januari 2016
Sumber: www.newobserveronline.com

Lebih dari 50.000 orang Kuba telah diangkut dengan pesawat dan bus menuju AS dari seluruh Amerika Tengah dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh kemungkinan bahwa Washington segera mengakhiri kebijakan migrasi “kaki basah, kaki kering”.

Orang Kuba ditahan di Kosta Rika

Kebijakan “kaki basah, kaki kering” berasal dari UU Penyesuaian Kuba 1966 revisi 1995; isinya menyatakan siapapun yang lari dari Kuba dan memasuki AS akan diberi tempat tinggal permanen setahun kemudian.

Pada 1995, pemerintah AS sepakat dengan Kuba bahwa AS akan berhenti memasukkan orang-orang yang tercegat di perairan AS. Sejak saat itu, agresor Kuba yang tertangkap di perairan antara kedua negara (dengan “kaki basah”) akan segera dipulangkan atau dikirim ke negara ketiga.

Namun, agresor yang berhasil sampai ke pantai (“kaki kering”) mendapat kesempatan untuk tetap di AS, dan kemudian akan memenuhi syarat untuk memperoleh status “penduduk permanen legal” yang dipercepat dan akhirnya kewarganegaraan AS.

Tidak butuh waktu lama untuk orang Kuba menyadari celah hukum dalam aturan baru ini: memasuki AS lewat Meksiko, dan, dengan “kaki kering”, mereka akan diperbolehkan masuk Amerika.

Alhasil, lebih dari 40.000 orang Kuba membeli karcis pesawat dan kapal menuju negara-negara Amerika Tengah, mayoritas mendarat di Ekuador, yang menawarkan masuk bebas visa bagi orang Kuba.

Dari sana, mereka bergerak ke utara lewat Nikaragua, tapi pada pertengahan November, rute ini diblokir oleh pemerintah Nikaragua, sekutu Kuba. Ribuan agresor Kuba terperangkap di negara-negara semacam Kosta Rika dan Panama, ribuan lain dalam perjalanan.

Lalu, Central American Integration System (Sistema de la Integración Centroamericana, atau SICA), yakni organisasi ekonomi dan politik formal negara-negara Amerika Tengah, melangkah masuk—dan mengatur penerbangan para agresor menuju El Salvador.

Dari sana, mereka diangkut dengan bus melewati Guatemala dan Meksiko ke perbatasan AS, di mana yang perlu mereka lakukan hanya menghadirkan diri, dan kemudian segera menjadi parasit bagi wajib pajak AS.

Kosta Rika, contohnya, menerbitkan visa transit sementara untuk agresor Kuba antara 14 November hingga 18 Desember saja.

Menurut televisi KRGV di Rio Grande Valley, Texas, terdapat “ribuan” orang Kuba lain yang melintasi perbatasan setiap hari pada Januari 2016.

Mewartakan pada 26 Januari 2016 dari Hidalgo International Bridge di perbatasan, laporan KRGV menyebut “sekurangnya 7.000 pengungsi Kuba akan datang ke perbatasan dalam beberapa hari ke depan.”

Liputan KRGV mewawancarai salah seorang “pengungsi”, diidentifikasi sebagai Giovanni Acosta, dan menanyakan kenapa dia menempuh perjalanan itu.

Dia menjawab, “Di Kuba tak ada apa-apa. Tak ada kebebasan. Kami datang dari Kuba karena tekanan yang kami alami di sana,” terus menambahkan bahwa dirinya sedang menunggu kedatangan isterinya ke jembatan agar bisa dibawa ke Miami.

“Dia mengambil jalur yang sama dengan saya. Saya menempuh jalan yang sama, seperti semua orang Kuba lain. Saya datang dari Ekuador. Saya berjalan di jalan raya selama 27 hari,” ungkapnya.

Laporan ini menambahkan bahwa kantor anggota Kongres Henry Cuellar menyebut agresor Kuba “berdatangan ke Titik Masuk Laredo setiap hari dan jumlahnya meningkat. Mereka datang dari Amerika Tengah ke perbatasan AS lewat Meksiko.”

Tidak jelas siapa yang mendanai penerbangan dan bus, karena pemerintah AS ataupun SICA tidak terbuka soal ini.

Namun, sekurangnya satu politisi AS, Felix Roque kelahiran Kuba, walikota West New York, New Jersey, berkata kepada Tico Times Desember 2015 bahwa dia telah menyumbang uang enam digit untuk membayar ongkos perjalanan para agresor.

Artikel lain dalam Tico Times edisi November mengungkap bahwa kabar pendekatan timbal-balik antara AS dan Kuba pada Desember 2014 “memicu lonjakan emigrasi ke AS” di rute darat, terlebih ada upaya penghapusan UU Penyesuaian Kuba sama sekali.

Paul Gosar (Republik-Arizona), contohnya, baru-baru ini mempresentasikan “Ending Special National Origin-Based Immigration Programs for Cubans Act of 2015”, RUU yang akan mencabut jalur cepat orang Kuba menuju tempat tinggal permanen, tambah Tico Times.

Sementara itu, banjir orang Kuba yang meninggalkan zona bencana buatan mereka sendiri terus meningkat, dan wajib pajak AS—mayoritas adalah kulit putih—sekali lagi diminta mensubsidi invasi non-kulit putih atas negaranya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s