10 Juli 2016
Sumber: www.dailymail.co.uk | news.yahoo.com

Bagi Gereja Katolik, misionaris Prancis Auguste Chapdelaine adalah seorang santo, martir demi imannya 160 tahun silam di China. Bagi pejabat Partai Komunis, dia adalah pemerkosa jahanam, bandit, dan mata-mata.

Penduduk desa berdiri luar gereja Katolik di Changjing, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Penduduk desa berdiri luar gereja Katolik di Changjing, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)

Sentuhan akhir sedang diberikan pada museum baru di Dingan, desa di mana beliau wafat, memperingati “patriotisme” eksekusinya dan mengecam “candu spiritual” agama.

Di dalam, jubah-jubah dan piala-piala Katolik ditampilkan dekat diorama Chapdelaine berjubah putih yang berlutut di depan hakim dinasti King yang memerintahkan penyiksaan dan pembunuhannya.

Di luar, sebuah mural perunggu setinggi enam meter memperlihatkan sang misionaris dikurung dalam sangkar yang dirancang untuk mematilemaskan para tahanan setelah beberapa hari.

Fasilitas ini adalah bagian dari kampanye pariwisata lokal, tapi juga pas dengan narasi nasionalis partai berkuasa dan muncul selagi otoritas Beijing yang kian arogan mencela pengaruh “nilai-nilai Barat”.

Chapdelaine, lahir di sebuah pertanian di Normandia, ditahbiskan pada awal usia 20-an dan dikirim pada awal 1850-an ke wilayah selatan China, Guangxi, di mana dia dikenal sebagai Romo Ma.

Pada 1856 di ditahan bersama beberapa orang beriman China di Dingan oleh hakim baru, Zhang Mingfeng.

Orang asing dilarang masuk ke area tersebut dan kecurigaan pejabat terhadap kaum Nasrani disulut oleh pemberontakan berdarah Taiping, yang dimulai di Guangxi oleh seseorang yang mengaku saudara Yesus dan menelan korban jutaan jiwa.

Menurut para sejarawan independen, Chapdelaine dituduh menggerakkan pemberontak, menolak bayar uang suap, dan meninggal pada usia 42 setelah tiga hari disiksa. Dia dipenggal pasca kematiannya dan kepalanya digantung pada sebatang pohon.

Kematian Chapdelaine termasuk justifikasi yang dikemukakan Prancis untuk ikutserta dalam Perang Opium Kedua, di mana pasukan Prancis dan Inggris menjarah Istana Musim Panas Kuno Beijing dan membakarnya hingga rata dengan tanah, salah satu penghinaan nasional yang ditekankan oleh Partai Komunis untuk menunjang legitimasinya.

Pada tahun 2000, Vatikan menetapkan Chapdelaine sebagai santo dan dua pengikutnya sebagai martir.

Sebagai tanggapan, media negara China menyerang sang pastor sebagai mata-mata Prancis dan pemerkosa wanita lokal—tuduhan yang menurut cendekiawan tidak mempunyai landasan historis, tapi diberi energi baru oleh dorongan publisitas pemerintah setempat.

“Dia jahat,” kata pria paruh baya yang bekerja di lokasi proyek yang menolak menyebutkan nama. “Dia adalah alasan kalian menyerbu kami.”

Permainan mata-mata

Selain museum di Dingan—desa pegunungan berdebu—otoritas setempat juga mengadakan lomba puisi tahun lalu yang menawarkan hadiah 1.000 yuan ($150) untuk bait-bait yang “menggenjot semangat patriotisme” dan memuji hakim Zhang sebagai “pahlawan berkemauan besi”.

Pejabat kabupaten telah mengontrak sebuah perusahaan film untuk memproduksi dokumenter berdurasi dua jam senilai 3 juta yuan ($460.000) mengenai Chapdelaine.

“Romo Ma bukanlah misionaris sederhana,” kata CEO perusahaan, Liang Shuikang, kepada AFP. “‘Pembaptisan’-nya adalah merebut isteri orang dan meniduri mereka terlebih dahulu. Kami akan pulihkan cerita sejarah yang sesungguhnya,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa tujuan dokumenter tersebut adalah untuk membuat orang-orang ingat akan penderitaan China dan “menjadikan ibu pertiwi negara besar”.

Sebagian cendekiawan khawatir sejarah sedang disalahgunakan.

Tak diragukan lagi, kematian Chapdelaine dieksploitasi untuk keuntungan imperialis, tapi Anthony Clark, sejarawan China di Universitas Whitworth di Spokane, Washington, menyatakan bahwa sejarah versi partai berkuasa adalah “sebagian besarnya rekaan”.

Pemikiran bahwa Chapdelaine adalah “buaya darat penuh berahi” dan memata-matai dengan jubah pastor “tidak dapat ditopang dalam catatan sejarah apapun”, tambahnya. “Retorika resmi China semakin nasionalistik pada tahun-tahun belakangan.”

Cendekiawan lain mencatat, riwayat resmi mengindikasikan Chapdelaine tertukar dengan seorang bandit, Ma Zinong, yang mempunyai kesamaan marga China. Para sejarawan China juga risau. Yuan Weishi, sejarawan dan pensiunan profesor di Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, menyatakan pembunuhan Chapdelaine melanggar undang-undang dinasti Qing dan merupakan “aib bagi China”.

“Sentimen nasionalis” naik bersama pertumbuhan ekonomi China dan beberapa akademisi merasa berkewajiban menuruti propaganda resmi, imbuhnya. “Atas nama patrotisme, mereka mempromosikan apa yang mereka anggap perbuatan heroik China,” katanya, padahal tindakan tersebut “salah dan bodoh”.

Kaum beriman terkepung

Di desa tepi jurang Changjing, di mana Chapdelaine tinggal dan berkhotbah beberapa kilometer dari Dingan, mayoritas penduduk masih Katolik dan mengaku bingung dengan kampanye publisitas ini.

“Mereka yakin dia orang jahat, tapi kami tidak memandangnya seperti itu,” ungkap petani muda bernama Yang. “Bagaimana mungkin dia mata-mata?”

Di Dingan sendiri, seorang pastor bernama Romo Wei memimpin jemaat kecil yang bertambah tua, beranggotakan kurang-lebih 100 penganut Katolik. Melakukan misa untuk 10 orang beriman di gereja di lantai dua sebuah bangunan, tak jauh dari museum baru, dia memanjatkan doa untuk Chapdelaine, meminta kekuatan untuk mempertahankan iman.

Otoritas setempat memusuhi gereja tanpa ampun, tuturnya. “Pasalnya ini negara ateis,” katanya. “Mereka memperdaya masyarakat biasa.” Orang non-Katolik menolak masuk gereja akibat stigma seputar Chapdelaine, imbuhnya.

“Bagaimana mungkin Romo Ma seburuk itu? Orang-orang berpikir itu gara-gara propaganda, tapi ini membuat hidup kami sulit.”

Diorama Auguste Chapdelaine yang berlutut di depan hakim dinasti King yang memerintahkan penyiksaan dan pembunuhannya. ©Greg Baker (AFP)
Diorama Auguste Chapdelaine yang berlutut di depan hakim dinasti King yang memerintahkan penyiksaan dan pembunuhannya. ©Greg Baker (AFP)
Anggota paroki menghadiri misa di gereja Katolik di Dingan, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Anggota paroki menghadiri misa di gereja Katolik di Dingan, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Seorang pastor memulai Misa di gereja Katolik di Dingan, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Seorang pastor memulai Misa di gereja Katolik di Dingan, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Seorang anggota paroki pada saat Misa di gereja Katolik di Dingan, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Seorang anggota paroki pada saat Misa di gereja Katolik di Dingan, Guangxi, wilayah selatan China. ©Greg Baker (AFP)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s