Paus Puji Genosida Swedia Terhadap Orang Kulit Putih

Oleh: Steve Goode
16 Februari 2014
Sumber: www.whitegenocideproject.com

Paus Francis puji Swedia terkait kebijakannya membuka perbatasan (yang memungkinkan jutaan orang non-Kulit Putih membanjiri Swedia), serta kebijakan asimilasi gigihnya yang menuntut pribumi Swedia Kulit Putih memungut orang-orang asing ini ke dalam masyarakat, sekolah, dan keluarga mereka.

Paus diundang ke Radio Vatikan, dan dia berkata, “Swedia membuka perbatasannya, mengadakan kelas bahasa, memberi bantuan ekonomi, dan menawarkan jalan untuk bergabung dengan masyarakat.”

“Kita kedatangan begitu banyak pengungsi, tapi tak seorangpun menginginkan mereka. Itu kabar buruk.”

Paus mengaku sangat memuji Swedia yang katanya memiliki “santo-santo agung” dan “senang rasanya menemukan orang-orang berhati demikian”.

“Mereka tidak menempatkan siapapun di kamp konsentrasi dan tempat-tempat seram lain. Itu teladan yang bisa kita persembahkan kepada dunia. Karena memang mereka negara satu-satunya yang berbuat itu, dan tidak dipenuhi kesengsaraan.”

“Dengan demikian keadaan itu tidak menjadi penderitaan. Inilah pesan yang dipersembahkan Swedia. Bukalah hati untuk saudara kalian, saudari kalian, yang tak punya tempat untuk tinggal, bekerja, atau tidur dengan damai,” katanya.

Berbicara secara rinci tentang kebijakan imigrasi Swedia, dia mengangkat negara tersebut sebagai teladan bagi bangsa lain. September lalu pemerintah Swedia menawarkan masa tinggal permanen kepada semua pengungsi Suriah yang datang ke Swedia. Langkah ini dipuji dan dikritik oleh kedua pihak yang memperdebatkan imigrasi.

Paus menjustifikasi Genosida Kulit Putih lantaran sabdanya, seperti semua orang anti-Kulit Putih lain, tercabik-cabik oleh orang Kulit Putih yang melakukan eksperimen ilmiah.

Di masa lampau, Galileo disebut “pelaku bid’ah” gara-gara menunjukkan fakta gamblang bahwa bumi bukan pusat Tata Surya, dan bagi “anti bid’ah” di zaman itu, Galileo adalah “pelaku bid’ah” yang mempercakapkan “bid’ah” (atau “ujaran kebencian”).

Hari ini, kita ada dalam situasi serupa. Semua negara Kulit Putih di muka Bumi diharapkan membawa masuk jutaan imigran non-Kulit Putih. Begitu orang-orang non-Kulit Putih menjadi bagian cukup besar di tengah populasi, orang-orang Kulit Putih diharapkan menikah atau berpasangan dengan orang-orang non-Kulit Putih, dan menghasilkan anak-anak ras campuran. Kaum anti-Kulit Putih terus-terusan membual tentang bagaimana kelak akan ada “masa depan ras campuran”—tapi ini terjadi di negara-negara Kulit Putih SAJA.

Negara-negara Kulit Putih SAJA yang diharapkan membuka perbatasan. Jepang, sebuah negara kaya, bekas penjajah, dengan tingkat kelahiran rendah, penduduk menua, dan bersekutu dengan Nazi pada Perang Dunia II, bebas untuk tetap didominasi 98,5% orang Jepang, dan tak seorangpun meneriakkan “nazi rasis” di Jepang, atau bahkan mempertanyakan hak Jepang untuk tetap Jepang.

Negara-negara Kulit Putih SAJA yang diharapkan menganut kebijakan “masa depan ras campuran” ini. Ini bukan eksperimen sosial—ini genosida, genosida Kulit Putih.

Afrika untuk orang Kulit Hitam, Asia untuk orang Timur, tapi negara Kulit Putih untuk setiap orang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s