Oleh: Oliver Lane
16 Agustus 2015
Sumber: www.breitbart.com

Geng Muslim yang “brutal dan bengis” dan gipsi Roma yang “ganas” sedang meneror jalanan kota besar Eropa; mereka adu kuat berebut kendali perdagangan pasar gelap yang menguntungkan.

Mobil Polisi (Daniel Roland-AFP-Getty Images)
Mobil Polisi (Daniel Roland-AFP-Getty Images)

Menjalankan lingkaran narkoba dan menggermoi pelacur, serta memiliki usaha jalanan yang sah bisa bernilai puluhan juta euro per tahun—dan lebih—bagi geng-geng kriminal imigran di Eropa. Mempunyai pengaruh atas wilayah adalah kunci menjadikan model usaha ini bekerja, dan selain saling berperang, geng-geng etnis ini juga memerangi diri sendiri, karena keluarga-keluarga berpengaruh saling bersaing.

Majalah Jerman RP Online meliput suasana di sebuah rumahsakit Dusseldorf akhir pekan ini, yang diubah menjadi benteng oleh kepolisian negara demi mencegah kerusuhan serius. Sejumlah anggota dari keluarga yang sama dirawat di sana pasca keributan masal dan para petugas mencemaskan pengepungan dari pihak lain yang berupaya menyelesaikan pekerjaan.

Laporan-laporan mengindikasikan kebanyakan konflik internal antara geng-geng Roma adalah terkait kepemilikan wanita, sementara geng-geng Arab lebih bermotif keuntungan. Bahkan di wilayah-wilayah di mana gipsi telah menggenggam kendali bisnis pelacuran, mereka masih terpaksa membayar uang perlindungan kepada Muslim yang menguasai kota, lapor Berliner Kurier.

Focus.de memberitakan tema yang sering diulang terkait geng-geng ini, bahwa mereka bengis, ganas, dan eksis terpisah dari hukum negara. Mengendalikan lingkungan kota-kota terbesar Jerman, geng-geng Arab menjalankan sistem hukum sejajarnya sendiri, di mana hukuman atas pengkhianatan adalah mati.

Bagi pemilik toko Muslim yang bukan bagian dari geng, memiliki restoran atau bar rokok hokah di jalan yang salah bisa berarti kewajiban uang perlindungan besar kepada salah satu geng Arab berpengaruh. Jika terus-menerus tidak membayar uang ini mereka akan dihukum mati. Demikian pula, siapapun yang “mengkhianati kaumnya kepada Jerman, nyawanya dipertaruhkan”, tulis hakim garis keras Kristen Heisig sebelum mati misterius pada 2010.

Bunuh dirinya terjadi beberapa hari setelah dia menyerahkan naskah buku terbarunya kepada penerbit. Di dalamnya dia memperingatkan, tanpa reformasi serius dan sikap lebih keras kepada para geng, Jerman akan “kehilangan perjuangan”. Dalam lima tahun sejak saat itu, situasi jadi lepas kendali lantaran migrasi masal menyediakan bala bantuan bagi geng.

Polisi Berlin memperkirakan dari 30 klan keluarga kriminal Muslim di Berlin, yang masing-masingnya terdiri dari 500 anggota, sepersepuluh anggota terlibat dalam kegiatan kriminal pada waktu tertentu. Dan mereka mendominasi lanskap kejahatan: sebuah laporan senat Jerman menemukan, antara 2011 s/d 2014 mayoritas tersangka kejahatan geng di negara ini adalah “asal Arab”.

Konflik ini bukannya tanpa korban di luar komunitas Muslim dan Gipsi. Baru sebulan lalu, baku tembak berdarah antar keluarga-keluarga Muslim yang bersaing mengenai seorang warga sipil. Seniwati 62 tahun dilarikan ke rumahsakit dalam kondisi kritis setelah pahanya terkena peluru nyasar selagi dia bersepeda.

Kepolisian Jerman menyatakan para geng sulit dilumpuhkan karena sistem penegakan hukum nasional tidak disusun untuk mengatasi masalah ini. Ketika individu-individu ditahan atas kejahatan geng, struktur keluarga mereka tidak terekam, alhasil petugas kesulitan membangun gambaran siapa terkait dengan siapa, dan bagaimana geng beroperasi.

Petugas dan jaksa menyerukan alat baru untuk memerangi klan-klan. Belakangan dibahas sebuah usulan, diambil dari upaya Italia mematikan Mafia, yang mewajibkan tersangka penjahat untuk membuktikan bahwa simpanan uang besar dan timbunan aset berharga diperoleh melalui usaha sah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s