24 Desember 2015
Sumber: www.newobserveronline.com

Dua liberal kulit putih Afrika Selatan yang membuka ladang mereka untuk ratusan agresor Afrika Tengah yang lari dari “kekerasan xenofobis” di negara itu harus minggat ketakutan demi menyelamatkan diri setelah “pengungsi” pungutan mengambilalih ladang dan mengusir mereka secara fisik.

Andrew dan Rae Wartnaby

Menurut laporan di media setempat News24, kedua orang kiri, Andrew dan Rae Wartnaby, diancam dengan pembunuhan oleh orang-orang yang hendak mereka tolong.

Drama berawal pada Juli 2015 ketika keluarga Wartnaby “membuka ladang 20 hektar milik mereka untuk 143 warga asing termasuk anak-anak” yang terusir selama “serangan xenofobis” oleh kulit hitam Afrika Selatan terhadap imigran ilegal kulit hitam lain dari Afrika tengah.

Afrika Selatan—yang masih hidup di atas sisa-sisa prasarana dan ekonomi karya kulit putih yang terus merosot—menjadi pilihan menarik bagi orang-orang Afrika tengah, karena jauh lebih maju daripada lubang neraka buatan mereka sendiri. Ratusan ribu tumpah-ruah menyeberangi perbatasan, dan kulit hitam setempat terdorong melawan mereka, beranggapan mereka akan ikut memperebutkan jumlah “pekerjaan” yang menurun pesat yang mampu disediakan oleh populasi kulit putih.

Pengungsi Afrika Selatan

Menurut artikel di News24 waktu itu, keluarga Wartnaby mengaku “remuk hati” saat mendengar kotamadya setempat menutup satu-satunya sisa kamp “pengungsi” di wilayah itu.

“Hati pasangan ini terperosok lebih jauh ketika mereka mendengar bahwa orang-orang asing telah ditahan dan dipisahkan dari anak-anaknya pada hari Jumat setelah menduduki kamp secara ilegal,” sambung artikel asli News24.

Setelah membujuk pihak berwenang agar tidak menuntut para kulit hitam yang ditahan, kedua orang kiri ini memutuskan punya cukup ruang di ladang mereka untuk menampung orang-orang Afrika tengah, kebanyakan dari Republik Demokratik Kongo dan Burundi.

“Kami punya hati untuk anak-anak kecil,” kata Rae Wartnaby. “Saya ingin ke Durban dan membantu, tapi Tuhan bilang saya tak boleh terlibat sekarang. Dia bilang kami harus tunggu dan dia akan butuh kami pada akhirnya.”

Orang-orang Afrika tengah diberi rumah, makanan, dan pakaian oleh keluarga Wartnaby, dibantu oleh “Gift of the Givers, South African Council of Churches, Islamic Relief, dan berbagai gereja.”

Keluarga Wartnaby dipuji luas di media Afrika Selatan dan dilukiskan sebagai “orang-orang murah hati” dan “malaikat” yang menjadi teldadan bagaimana “toleransi” dan “pemahaman” dapat bekerja.

Kini, lima bulan kemudian, keluarga Wartnaby harus lari dari ladang mereka sendiri. Orang-orang Afrika tak tahu terimakasih itu menghancurkan properti dan menuduh keluarga Wartnaby “tidak membantu mereka direlokasi ke negara asal atau negara lain”—dengan kata lain, tidak memberi mereka cukup uang, paspor, atau kemampuan untuk pulang, seolah urusan ini adalah tanggungjawab keduanya.

Orang-orang Afrika itu menyerang rumah mereka pagi-pagi buta pekan lalu, dan mengancam akan membunuh Andrew. Dia bercerita kepada News24 bahwa mereka memotong dan membongkar pagar sekeliling rumah, dan kemudian, “pagi-pagi buta, sekitar jam 2, mereka menggedor jendela dan pintu dan berkata bahwa mereka akan membunuh saya lantaran saya bekerja untuk pemerintah dan tidak menolong mereka.”

Dia bilang, sewaktu mengintip lewat jendela, dia melihat kemah di kamp kelompok tersebut dilanda api. “Saya segera bertanya apakah semua orang baik-baik saja, tapi mereka terus-terusan berteriak bahwa malam ini adalah waktunya dan mereka akan membunuh saya. Sejak saat itu saya belum tidur.”

“Ketika kami menerima mereka semua, kami bilang kami akan berusaha membantu, dan itu sudah kami lakukan. Tapi mereka merasa itu sudah terlalu lama dan mereka kecewa. Saya sudah minta agar kelompok itu meninggalkan ladang, tapi mereka menolak, dan sejujurnya saya tak tahu apa yang akan terjadi. Yang saya tahu, saya tak ingin dibunuh malam ini,” tutut Andrew.

Orang-orang Afrika itu masih mengendalikan ladang pada saat artikel ini ditulis, dan dua kulit putih kiri ini, yang mungkin sudah atau belum mendapat pelajaran, sedang bersembunyi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s