“Raibnya” Pengacara Terkemuka Singkap Kebencian China Terhadap Kebebasan Beragama

Oleh: Terence Halliday
13 Juli 2016
Sumber: www.christianpost.com

Sahabat saya, Li Heping “diraibkan” pada 10 Juli 2015.

Terrence Halliday (kanan) dan Li Heping (kiri)
Terrence Halliday (kanan) dan Li Heping (kiri)

Ditahan oleh aparat keamanan China, Li Heping, seorang pengamal Kristen, belum ditemui selama 365 hari oleh isteri dan anaknya, dan tidak pula oleh pengacara-pengacara pilihannya dan para diplomat yang cemas dengan keselamatannya.

Ditangkap dalam gelombang pertama pemberangusan “709” keji China terhadap ratusan pengacara dan aktivis HAM, Li Heping telah ditahan dalam isolasi selama setahun. Temannya siang-malam hanyalah para penjaga keamanan, diselang oleh interogasi berlarut-larut. Para pemantau kasus-kasus pengacara “yang diraibkan” menyebut tingginya kemungkinan terjadi siksaan psikologis dan fisik.

Siapa Li Heping dan apa yang kita pahami dari perlakuan terhadapnya mengenai kebebasan beragama dan berpendapat di China?

Motivasi kuatnya untuk membela kaum lemah dan rawan tumbuh dari kehidupan masa kecilnya di Provinsi Henan berpenduduk padat. Dari keluarga miskin, dia mengawali karir hukum pada 1997 sebagai pengacara niaga. Dia pindah ke Beijing dan segera membangun firma Global Law menjadi pusat pembelaan HAM di mana banyak pengacara HAM paling vokal di China memusatkan praktek mereka.

Terence Halliday adalah Profesor Riset di American Bar Foundation.
Terence Halliday adalah Profesor Riset di American Bar Foundation.

Seperti rekan-rekan aktivis HAM-nya, Li Heping mengambil kasus-kasus pencemaran lingkungan kelas tinggi dan kasus pengacara buta Chen Guangcheng yang kemudian jadi sorotan. Dia terlibat dalam banyak kasus bermuatan berat yakni perampasan properti dan tanah oleh pemerintah, dan kasus-kasus kebebasan beragama, yang paling kontroversial adalah membela para pengikut Falun Gong. Penganiayaan kejam terhadap kelompok ini menjadikan pembelaan HAM sangat berbahaya bagi pengacara sekalipun. Pada tahun-tahun belakangan dia mundur dari “garis depan” dan memimpin perjuangan menentang penyiksaan dalam sistem peradilan China. Dia memimpin lokakarya-lokakarya tentang standar internasional PBB yang mendefinisikan penyiksaan, dan dia merekomendasikan praktek yang mencegahya.

Disertai oleh para pengacara HAM terkemuka China lainnya, Presiden George W. Bush menjamu Li Heping di Gedung Putih dan dia meraih reputasi internasional di media dan organisasi HAM internasional. Kini dia dikurung di sebuah sel.
Ai Weiwei, seniman yang diakui sedunia, pernah bercerita kepada saya, China telah menjadi negara polisi yang didirikan di atas ketakutan. Mereka yang bicara seenaknya akan dilumat. Mereka jadi seperti budak.

Yang kontras, tengoklah pandangan Li Heping mengenai iman Kristennya, sistem hukum China, dan masa depan China. Sebagai seorang Nasrani, Li sangat percaya pada kesetaraan.

“Setiap orang menurut keyakinan ini adalah pendosa,” tuturnya, “entah Anda warga biasa atau presiden.” Tapi karena “semua pendosa diciptakan oleh Tuhan dan dalam citra Tuhan, mereka punya harkat dan hak yang mesti dilindungi”.

Di negara di mana perampasan properti, rumah, dan pertanian menimbulkan kemarahan luas, Li Heping terharu oleh kisah Raja Daud diomeli di depan umum gara-gara merampas kebun anggur kecil dari seorang jelata dan menambahkannya pada harta yang sudah berlimpah.

Seperti Martin Luther King, dengan penuh gairah dia menegaskan seruan Alkitab “agar berbelas kasih, berbuat adil, berjalan sederhana bersama Tuhanmu”. Cinta dan pemaafan adalah yang tertinggi. Suatu kali dia berkata, umat Nasrani harus bisa memaafkan orang-orang yang menganiaya mereka. Semua orang di China, dia yakin, harus bebas beribadah, beriman atau tidak beriman. Negara dan gereja harus terpisah. Pemerintah tidak boleh menggolongkan agama tertentu sebagai ajaran tak sah.

Keyakinan Kristen Li Heping mempengaruhi cara pikirnya tentang sistem hukum China. Umat Nasrani harus selalu bertanya, bukan cuma “apakah ini sah menurut hukum?”, tapi juga “apakah ini adil?”

“Tuhan memerintahkan kita untuk memahami keadilan di dunia ini,” tukasnya.

Sebuah sistem hukum yang adil mengharuskan rasa hormat kepada konstitusi dan pemisahan kekuasaan. Itu perlu menjamin adanya empat kebebasan ala Presiden Roosevelt: bebas dari rasa takut, bebas beribadah, bebas dari kemiskinan, bebas berpendapat.

Keadilan, menurut Li, mengharuskan hukum melindungi hak milik. Li Heping menghendaki perubahan besar dalam sistem peradilan pidana China. Pengakuan melalui penyiksaan harus dihentikan. Kader partai tidak boleh menolak hakim dalam kasus-kasus “sensitif”. Para tahanan harus punya akses ke pengacara pilihan mereka. Semua orang harus setara di depan hukum—dan dilindungi oleh hukum—ini azas fundamental, katanya, dari masyarakat berkepastian hukum.

Li Heping mencintai China dan rakyatnya. Visi China-nya akan mengganti kekerasan dengan cinta, kekuasaan sewenang-wenang dengan kepastian hukum, penindasan brutal dengan pemaafan, hukum otoriter dengan hukum adil, perlakuan timpang dengan kesetaraan di depan hukum. Dia bicara tentang cinta untuk mendengar, kebenaran untuk mentenagai, rasa hormat terhadap keluhan dan perasaan warga, bukan menindas mereka.

Menurutnya, umat Nasrani, seperti semua orang China lain, harus bekerja dengan sabar dan damai menuju masyarakat yang menghormati nilai-nilai universal, yang dijunjung tinggi oleh PBB dan masyarakat berkepastian hukum. Jika keyakinan ini menjadikannya lebih berbahaya daripada Usamah bin Laden, sebagaimana dia katakan suatu kali, maka ini memberitahu dunia bahwa China jauh di luar nilai-nilai yang terpahat dalam hukum internasional dan Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia.

Sudah waktunya Li Heping dan rekan-rekan pengacara HAM dibebaskan. Sudah waktunya Partai Komunis China berpaling dari kekerasan dan ancaman, penyiksaan dan peraiban, dan menempuh jalan Li Heping, jalan keadilan dan kesetaraan, perdamaian dan pemaafan, konstitusionalisme dan kepastian hukum.

Tentang penulis: Terence Halliday adalah Profesor Riset di American Bar Foundation. Bersama Sida Liu, dia merupakan penulis buku Criminal Defense in China: The Politics of Lawyers at Work yang segera terbit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s