UU Terbaru Rusia Larang Evangelisme di Luar Gereja

Oleh: Kate Shellnutt
8 Juli 2016
Sumber: www.christianitytoday.com

Putin tandatangani pembatasan baru yang membatasi di mana dan bagaimana umat Kristen berbagi Injil.

Gedung Duma Negara di Moskow (Bernt Rostad/Flickr)
Gedung Duma Negara di Moskow (Bernt Rostad/Flickr)

(Pemutakhiran, 8 Juli): Pekan ini, presiden Rusia Vladimir Putin setujui paket undang-undang anti-terorisme yang memperkenankan pembatasan lebih ketat atas kegiatan misionari dan evangelisme.

Terlepas dari doa dan unjuk rasa para pemimpin keagamaan dan aktivis HAM, Kremlin mengumumkan persetujuan Putin kemarin. Amandemen tersebut, yang mencakup hukum pelarangan berbagi iman di rumah, internet, atau di manapun selain bangunan Gereja yang diakui, mulai berlaku pada 20 Juli.

Kendati para penentang UU baru ini berharap untuk banding di pengadilan atau memilih legislator agar mengamandemennya, mereka mulai mempersiapkan komunitas mereka untuk hidup di bawah aturan baru, lapor Forum 18 News Service, sebuah corong berita Kristen di kawasan itu.

Protestan dan minoritas keagamaan yang cukup kecil untuk berkumpul di rumah-rumah merasa khawatir mereka akan paling terdampak. Bulan lalu, “petugas kepolisian setempat datang ke sebuah rumah di mana sekelompok jemaat Pantekosta bertemu setiap Minggu,” tutur Konstantin Bendas, wakil uskup Pentecostal Union, kepada Forum 18. “Dengan ekspresi puas dia bilang: ‘Kini setelah mereka memberlakukan undang-undang itu, saya akan usir kalian semua dari sini.’ Saya berpendapat, kita harus cemas dengan aparat sekeras itu.”

“Ada potensi pelebaran dampak dari undang-undang ini,” kata Joel Griffith dari Slavic Gospel Association dalam laporan Mission Network News. “Lagi-lagi tergantung pada bagaimana itu akan ditegakkan, dan ini menjadi tanda tanya besar.”

(Liputan sebelumnya, 29 Juni): Umat Kristen di Rusia takkan diperbolehkan mengirim surel undangan gereja kepada teman atau mengabarkan injil di rumah mereka jika perangkat undang-undang pemantauan dan anti-terorisme baru diberlakukan.

Undang-undang usulan ini, dianggap UU paling mengekang dalam sejarah pasca-Soviet, menempatkan batasan luas pada kerja misionari, meliputi khotbah, pengajaran, dan partisipasi dalam kegiatan apapun yang dirancang untuk merekrut orang ke dalam kelompok keagamaan.

Untuk berbagi iman, warga harus memperoleh izin pemerintah lewat organisasi keagamaan terdaftar, dan mereka tidak bisa mengabarkan injil di manapun selain gereja dan tempat keagamaan lain. Pembatasan ini bahkan berlaku pada kegiatan di kediaman pribadi dan internet.

Pekan ini, minoritas Protestan Rusia—diperkirakan 1% dari populasi—berdoa, berpuasa, dan mengirim petisi kepada Presiden Vladimir Putin, yang harus menyetujui UU ini sebelum disahkan.

“Mayoritas evangelis—para pemimpin dari ketujuh denominasi—mengungkapkan keprihatinan,” tutur Sergey Rakhuba, presiden Mission Eurasia dan mantan penanam gereja Moskow, kepada CT. “Mereka menyeru komunitas Kristen sedunia untuk berdoa agar Putin dapat mengintervensi dan Tuhan melakukan mukjizat dalam proses ini.”

Menyusul gelombang propaganda nasionalis Rusia, undang-undang itu disahkan hampir bulat di Duma, majelis atas, pada hari Jumat dan di Dewan Federasi, majelis rendah, hari ini.

“Jika perundang-undangan ini disetujui, situasi keagamaan di negara ini akan semakin rumit dan banyak orang beriman akan merasa berada di pengasingan dan mengalami tindakan balasan akibat keyakinan kami,” tulis Oleg Goncharov, juru bicara Seventh-day Adventists divisi Euro-Asia, dalam surat terbuka.

Diusulkan oleh legislator partai United Russia Irina Yarovaya, undang-undang ini menyasar kelompok-kelompok agama di luar gereja Ortodoks Rusia. Karena ini mendefinisikan kegiatan misionari sebagai praktek keagamaan untuk menyebarkan keyakinan di luar anggotanya, “jika itu ditafsirkan menurut Patriarkat Moskow, maka Gereja Ortodoks boleh mencari etnis Rusia tapi gereja lain tidak diizinkan,” menurut Frank Goble, ahli isu agama dan etnis di kawasan.

Identitas nasionalisme Rusia masih terikat dengan gereja Ortodoks Rusia.

“Gereja Ortodoks Rusia adalah bagian dari benteng nasionalisme Rusia yang digerakkan oleh Vladimir Putin,” ungkap David Aikman, profesor sejarah dan pakar urusan luar negeri, kepada CT. “Segala sesuatu yang merusak tindakan tersebut adalah ancaman nyata, entah itu misionari evangelis Protestan atau apa saja.”

Sergei Ryakhovsky, kepala Protestant Churches of Russia, dan beberapa pemimpin evangelis lain menyebut undang-undang ini sebagai pelanggaran kebebasan beragama dan nurani pribadi dalam sebuah surat untuk Putin yang dipajang di situs Rusia Portal-Credo. Suratnya berbunyi, sebagian:

Kewajiban atas setiap orang beriman untuk mendapat izin khusus sebelum menyebarkan keyakinan dan membagikan literatur dan materi agama di luar tempat ibadah dan bangunan biasa bukan hanya janggal dan ofensif, tapi juga menciptakan dasar untuk penganiayaan masal terhadap orang beriman atas pelanggaran ketentuan ini.

Sejarah Soviet menunjukkan betapa banyak orang dari keyakinan berbeda-beda dianiaya lantaran menyebarkan Firman Tuhan. Undang-undang ini membawa kita ke masa lalu yang memalukan.

Pembatasan keagamaan era Stalin—mencakup pelarangan kegiatan agama di luar kebaktian Minggu di gereja terdaftar dan pelarangan orangtua mengajarkan iman kepada anak-anak mereka—masih tertera di buku-buku hingga runtuhnya Uni Soviet, meski pemerintah memberlakukannya secara selektif.

Sebagian mempertanyakan apakah pemerintah mampu atau mau memantau kegiatan agama di rumah-rumah pribadi Kristen.
“Saya kira kita tak bisa menaksir terlalu tinggi kemauan pemerintah Rusia untuk melakukan pengendalian,” kata Aikman kepada CT. Jika sejarah menjadi indikasinya, usulan regulasi ini mengungkap pola “totalitarianisme mengerikan” di negara ini, katanya.

Undang-undang Big Brother ini juga menyertakan pemantauan luas terhadap kegiatan daring, termasuk mengharuskan aplikasi terenkripsi memberi akses dekodifikasi kepada pemerintah, dan menetapkan hukuman lebih ketat atas tindak ekstrimisme dan terorisme.

Proposal ini adalah “serangan terhadap kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan hak privasi yang memberi wewenang sangat luas kepada aparat penegak hukum,” kata kelompok kemanusiaan Human Rights Watch kepada The Guardian.

Jika disahkan, undang-undang anti-evangelisme ini menyiapkan denda hingga $780 untuk individu dan $15.500 untuk organisasi. Tamu asing yang melanggar diancam dengan deportasi.

Rusia telah bergerak untuk membendung misionari asing. Undang-undang “agen asing”, disetujui pada 2012, mengharuskan kelompok-kelompok dari luar negeri mengajukan dokumen rinci dan tunduk pada audit dan razia pemerintah. Sejak saat itu, sektor LSM menyusut sepertiga, berdasarkan statistik pemerintah.

“Di Moskow, kami berbagi kantor dengan 24 organisasi. Tak ada satupun misi ekspatriat asing di sana sekarang,” kata Rakhuba sebelumnya kepada CT. “Mereka tak bisa mendaftar ulang. Misionari tak bisa kembali ke Rusia karena mereka tak bisa memperbarui visa. Sekarang ini hampir mustahil mendaftar sebagai organisasi luar negeri.”

Sambil berdoa agar usulan regulasi ini diamandemen atau diveto, evangelis Rusia pernah mengambil jalan bawah tanah, dan mereka siap melakukannya lagi, tutur Rakhuba.

“Mereka bilang, “Jika sampai terjadi, itu takkan menghentikan kita untuk beribadah dan berbagi iman kita,’” tulisnya. “Great Commission bukan hanya untuk masa bebas.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s