Oleh: Steve Goode
25 Juli 2014
(Sumber: www.whitegenocideproject.com)

NYTimes.com menulis sebuah artikel tentang bagaimana Jerman perlu pekerja terampil asing masuk ke Jerman.

Seperti mayoritas negara-negara kaya, Jerman punya keprihatinan mendalam soal imigrasi, disulut oleh ketegangan rasial dan budaya, biaya, dan definisi identitas nasional yang berkembang. Tapi lebih daripada bagian Eropa lain, ekonomi sehatnya membutuhkan tambahan pekerja, terutama untuk pekerjaan yang mensyaratkan pelatihan dan pendidikan tingkat tinggi, sebuah masalah yang kemungkinan diperburuk dalam jangka panjang oleh rendahnya tingkat kelahiran.

Kaum anti-Kulit Putih rutin mengatakan bahwa ekonomi sedang jelek, dan itu sebabnya negara-negara Kulit Putih butuh lebih banyak pekerja dari negara-negara non-Kulit Putih. Namun, ekonomi Jerman dalam kondisi baik sekali, jadi penulis anti-Kulit Putih ini menyebut imigrasi akan membuat ekonomi Jerman lebih baik lagi.

Jepang sangat mirip dengan Jerman. Ia punya ekonomi sangat baik, tingkat kelahiran rendah, dan populasi menua, tapi kaum anti-Kulit Putih tidak meminta Jepang membuka perbatasannya bagi imigran non-Jepang. Kenapa? Mereka bukan Kulit Putih. Kaum anti-Kulit Putih tidak peduli jika bangsa non-Kulit Putih mempunyai negara sendiri.

Jadi Jerman, dahulu masyarakat relatif homogen yang lama berusaha mengasimilasikan imigran dan pengungsi dari Turki dan negara-negara relatif miskin, sedang bersaing lebih agresif dengan AS, Inggris, dan negara-negara lain untuk menarik dan mempertahankan orang-orang berpendidikan dari luar negeri yang dapat membantu industri penting. Sejak 2005, kecuali tiga sampai lima tahun belakangan, Jerman melonggarkan aturan yang mengakui kualifikasi asing, memberikan izin tinggal bagi orang asing terampil, dan dalam melukiskan Jerman sebagai tanah migrasi.

“Imigran,” catat Axel Plünnecke, profesor di Cologne Institute yang berspesialisasi dalam persoalan efek jurang populasi, “sangat penting untuk mengisi kekurangan pekerja.” Kini terdapat “konsensus politik bahwa imigrasi membantu Jerman dan sangat bagus dan bermanfaat,” ungkapnya.

Tentu saja terdapat “konsensus politik” untuk memasukkan lebih banyak imigran ke Jerman, tapi di balik semua penjelasan dan dalih, apa yang mereka perbuat sebetulnya adalah menjadikan Jerman kurang Putih dan kurang Jerman.

Presiden Jerman Joachim Gauck mendorong rakyat Jerman menerima kebhinnekaan, “kita tidak kalah jika menerima kebhinnekaan”, ujarnya.

Daniel Cohen-Bendit, anggota Partai Hijau Jerman, menjelaskan alasannya atas keikutsertaan dalam genosida Kulit Putih: “Kita Partai Hijau harus memastikan membawa masuk imigran sebanyak mungkin ke Jerman. Jika mereka [sudah] di Jerman, kita harus berjuang demi hak pilih mereka. Saat kita meraih itu, kita akan punya jatah suara, kita perlu mengubah republik ini.”

Orang-orang anti-Kulit Putih ini menimbulkan akibat, sebab menurut sebuah survey, 43% rakyat Jerman mengaku “terkadang merasa seperti orang asing di negara mereka sendiri lantaran begitu banyak Muslim tinggal di sini.”

Reiner Klingholz, kepala Berlin Institute, mengatakan Jerman masih harus berusaha menarik orang asing. “Jerman harus menempatkan diri lebih kuat lagi sebagai tanah imigrasi dan menjadikan ‘budaya menyambut’-nya sebagai hal lazim,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, pertukaran keterampilan dan tenaga kerja—khususnya dalam pekerjaan kelas atas—dan fakta bahwa sekitar 30% dari 650.000 s/d 700.000 kelahiran per tahun di Jerman berasal dari imigran mengandung arti bahwa satu dari setiap dua warga baru Jerman memiliki akar asing, kata Profesor Plünnecke.

Jika kaum anti-Kulit Putih memgang kendali mutlak atas dunia, takkan ada sisa negara Kulit Putih di planet ini.

Kaum anti-Kulit Putih mendukung kebijakan imigrasi masif non-Kulit Putih dan kebhinnekaan paksaan. Dua kebijakan ini tak pelak akan menjadikan orang Kulit Putih minoritas di negara Kulit Putih, jika tak dilakukan apa-apa untuk mencegahnya.

Karena kebijakan ini diniatkan untuk menjadikan kita minoritas, kita definisikan ini sebagai genosida—genosida Kulit Putih—berdasarkan United Nations Genocide Conventions.

“Kebhinnekaan” adalah kata sandi anti-Kulit Putih untuk genoside Kulit Putih. Mereka mungkin menyebut diri “anti-rasis”, padahal mereka anti-Kulit Putih karena mereka hanya memburu negara-negara Kulit Putih untuk “dibhinnekakan”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s