Bagaimana Pemerintah Deklarasikan Perang Terhadap Rakyat Kulit Putih Inggris

Oleh: Leo McKinstry
9 Agustus 2007
Sumber: www.express.co.uk

Atas nama kebhinnekaan, Partai Buruh menyerang apapun yang berbau ke-Inggris-an. Masyarakat mainstream diperlakukan dengan jijik, hak mereka diabaikan, sejarah mereka dihancurkan. Di tanah mereka sendiri, orang Inggris sedang dijadikan warga kelas dua.

Kecenderungan ini disoroti melalui kasus Abigail Howarth, remaja cerdas yang melamar untuk posisi trainee di Environment Agency di East Anglia tapi ditolak karena dia terlalu putih dan Inggris. Pos tersebut, yang memuat hibah £13.000, hanya terbuka bagi etnis minoritas, mencakup Skotlandia, Wales, dan Irlandia.

Rekayasa sosial tersebut dijustifikasi oleh Agency dengan alasan minoritas kurang terwakili dalam tenaga kerjanya, sebuah rengekan beo yang dipakai oleh para birokrat di seluruh sektor publik untuk menjustifikasi bias terhadap orang Inggris.

Meski kasus Abigail sudah sewajarnya menimbulkan kemarahan, itu bukan kasus tunggal. Diskriminasi terbalik jenis ini sekarang menjamur di seluruh mesin negara, dipertanggungkan oleh wajib pajak Inggris yang menjadi sasaran prasangka kelembagaan.

Walaupun secara teknis tidak sah membatasi lapangan kerja pada kelompok etnis tertentu, para komisaris berobsesi rasial telah menemukan cara menghindari masalah tersebut dengan mengembangkan skema pelatihan yang terbuka bagi kaum minoritas saja. Menurut UU Hubungan Ras 1976, diperbolehkan memakai pertimbangan ras dalam rekrutmen untuk posisi trainee seperti yang dilamar oleh Abigail.

Praktek demikian didandani sebagai “tindakan positif” untuk memperluas kebhinnekaan dan, dalam kata-kata sebuah dewan Buruh, “untuk menanggulangi diskriminasi di masa lalu”. Maka Her Majesty’s Revenue and Customs menawarkan pengalaman kerja, senilai hingga £15.900 per tahun secara proporsional, kepada lulusan etnis minoritas, sedangkan Museums Association menyediakan magang dua tahun untuk etnis minoritas.

Begitu pula, Birmingham City Council memberikan £16.000 kepada “individu-individu kulit hitam dan etnis minoritas” dalam program “Positive Action Traineeship Scheme” miliknya, dan tunjangan £10.000 kepada rohaniawan peserta pelatihan dari “komunitas Bangladesh dan Pakistan”.

Skema pelatihan diskriminatif juga dijumpai pada ITV, layanan sipil, dan NHS, yang membanggakan “program pengembangan manajeman yang dirancang dan disesuaikan secara khusus untuk kebutuhan bidan kulit hitam dan etnis minoritas”.

Tahun lalu terungkap, Avon and Somerset Constabulary menolak 186 lamaran dari pria kulit putih dengan alasan mereka sudah “terlalu terwakili” dalam tenaga kerja. Begitu pula, Walikota London Ken Livingstone bulan lalu menolak menandatangani serangkaian pengangkatan untuk London Fire Authority karena mereka didominasi kulit putih.

Dan semua kota mulai mengalami pertidaksetujuan negara. Delapan jabatan administratif di Prison Service baru-baru ini dipindahkan dari Corby di Northamptonshire ke Leicester karena, seperti diakui Departemen Dalam Negeri, populasi Corby sebagian besar adalah “Inggris kulit putih”, sebuah dosa besar di masyarakat multikultur kita.

Sungguh ironi pahit, Pemerintah Partai Buruh, yang bekerja keras hingga amuk-amukan terkait prasangka rasial, mempraktekkan diskriminasi terang-terangan pada skala epik. Fokus habis-habisan pada penyokongan kaum minoritas telah menghasilkan ideologi menyimpang berupa rasisme anti-kulit putih.

Hampir setiap interaksi dengan layanan publik kini mengarah pada analisa rinci terhadap status etnis seseorang. Industri kesetaraan ras besar-besaran telah dibangun, dipenuhi birokrat, konsultan, dan penasehat berupah besar yang tak punya banyak kerjaan selain mengarang keluhan baru.

Ada nuansa revolusi Maois permanen pada aktivitas mereka. Karena imigrasi kini mencapai kira-kira satu juta orang per tahun, susunan masyarakat sedang berubah dramatis. Jadi, dalam iklim pergolakan demografis tiada akhir ini, brigade hubungan ras akan selalu bisa mengada-adakan tugas untuk dirinya sendiri.

Tapi diskriminasi anti orang Inggris meruntuhkan aspek penting propaganda imigrasi masal. Kita terus-menerus diberitahu bahwa kita butuh arus besar orang asing untuk menggenjot ekonomi kita dan mengisi lowongan, tapi tingkat pengangguran di komunitas imigran begitu tinggi dan keterampilan mereka begitu rendah sampai-sampai kita perlu mencadangkan bagian-bagian ekonomi kita untuk mereka.

Jadi jika kita harus membelanjakan kekayaan pada skema-skema pelatihan, kenapa kita mengundang ratusan ribu pendatang dari Dunia Ketiga dan Eropa Timur setiap tahun?

Ekonomi tak banyak kaitannya dengan masalah ini. Kaum Kiri di Inggris telah memanfaatkan imigrasi masal dan multikulturalisme sebagai balok penggempur untuk menghancurkan masyarakat yang mereka pandang rendah. Mereka pernah mencoba mengubah negara kita lewat revolusi ekonomi. Itu gagal dengan Musim Dingin Ketidakpuasan dan runtuhnya komunisme. Tapi perubahan demografis melalui imigrasi terbukti jauh lebih merusak.

George Orwell pernah menulis: “Inggris barangkali satu-satunya negara besar yang kaum cendekiawannya malu akan kebangsaan mereka. Di lingkaran sayap Kiri, selalu dirasa ada sesuatu yang sedikit memalukan menjadi orang Inggris dan bahwa menertawakan setiap lembaga Inggris adalah kewajiban.”

Itulah persis mentalitas yang berkuasa sekarang dalam perlengkapan negara Inggris. Dan akibatnya negara kita sedang sekarat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s