Pengungsi Kulit Putih Tidak Disambut di Australia

1 Maret 2016
Sumber: www.newobserveronline.com

Pengungsi kulit putih yang melarikan diri dari kekerasan rasis di Zimbabwe tidak disambut di Australia—berbeda dengan 12.000 “orang Suriah” yang disambut oleh pemerintahan negara tersebut. Ini sekali lagi membuktikan bahwa isu “pengungsi” bukanlah soal menolong orang-orang yang sedang membutuhkan, tapi hanya soal membanjiri negara-negara kulit putih dengan orang-orang non-kulit putih.

Contoh terbaru kemunafikan penguasa anti-kulit putih disoroti dalam kasus pengungsi kulit putih Zimbabwe, Edward (“Eddie”) dan Audry Vermaak.

Suami-isteri Vermaak ini adalah petani di Zimbabwe ketika pemerintahan kulit hitam di sana memutuskan mengusir sisa-sisa kulit putih dengan kekerasan. Mereka mengalami serangan kasar, pemukulan, dan penganiayaan panjang.

Dengan terancamnya nyawa mereka—dan banyak kulit putih Zimbabwe lain telah dibunuh oleh gerombolan kulit hitam—keluarga Vermaak memutuskan mengajukan suaka di Australia, di mana mereka punya anggota keluarga besar.

Menurut sebuah petisi yang dipelopori oleh anggota keluarga, Tracey Vermaak, kedua kulit putih ini “selama beberapa tahun diancam akan ditemukan dan dibunuh oleh tiga perwira bajingan CID di Kariba, Zimbabwe, persis sehari sebelum mereka berhasil meninggalkan Harare dan datang ke Western Australia dengan Visa 457 Business Long Stay, berhubung ini adalah cara tercepat untuk pergi.”

Keluarga Vermaak berhasil lari dari Zimbabwe empat tahun lalu, dan telah tinggal di Western Australia sejak saat itu. Mereka sudah mengajukan diri untuk Visa Perlindungan—yang, menurut definisi pemerintah Australia sendiri, diberikan kepada siapapun “pengungsi sebagaimana didefinisikan oleh Refugees Convention”. Dan keluarga Vermaak memenuhi definisi tersebut.

Petisi itu menguraikan bahwa jika pasangan Vermaak dipulangkan ke Zimbabwe, mereka akan “ketakutan atas keselamatan nyawa” dan bahwa mereka punya banyak anggota keluarga di Australia, termasuk cucu, putera, menantu perempuan, saudara lelaki dan ipar perempuan, ibu, saudari, sepupu, dan lain-lain, yang semuanya bermukim di Western Australia dan merupakan warga Australia.

“Jika orangtua kami pulang ke Zimbabwe, ini akan mengenaskan bagi seluruh keluarga karena kemungkinan untuk dibunuh sangat tinggi. Mereka juga khawatir takkan pernah lagi melihat cucu atau anggota keluarga mereka,” bunyi petisi itu.
Namun, pemerintah Australia sudah resmi menolak pengajuan Visa Perlindungan.

“Mereka sedang banding ke Pengadilan Imigrasi dengan harapan pihak pengadilan akan memaklumi siksaan mengerikan yang telah mereka alami, dan bahwa tidak aman mereka pulang ke Zimbabwe,” kata petisi, diakhiri dengan permintaan tandatangan yang akan disampaikan ke pemerintah Australia untuk memohon supaya “orang-orang pekerja keras dan taat hukum ini diizinkan tinggal di Australia.”

Ketimpangan pendekatan terhadap pengungsi kulit putih yang betul-betul lari demi nyawa mereka dan “sambutan terbuka” kepada ribuan “orang Suriah” yang telah aman di negara-negara ketiga—di mana mereka tidak dalam ancaman sama sekali—menggambarkan watak anti-kulit putih para penguasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s