One thought on “Stasiun TV Jerman Berganti Logo Untuk Menampakkan Bulan Sabit dan Bintang Islami

  1. Cukuplah jadi pelajaran, bahwa kekhawatiran warga Eropa dan Amerika atas “invasi” Muslim dan Dunia Ketiga ke wilayah mereka, malah memperlihatkan ada banyak perbedaan antara pemerintah dan rakyat mereka sendiri, meskipun keduanya sama-sama sepakat dalam sistem yang sama. Keadaan yang juga sama terjadi ketika pemerintah mereka bermain-main dengan kebijakan luar negeri, yang, karena dampaknya berada di luar wilayah mereka, maka dianggap tidak terlalu masalah bagi mereka.

    Padahal bukan rahasia, bukankah rekan liberal mereka yang mendorong penerimaan Islam di sisi mereka? Maka sudah seharusnya mereka menghadapi gempuran ide liberalisme dan kaum kiri dengan ayat-ayat dan sungguh-sungguh, bukan dengan standar kosong dan standar ganda.

    Bagi kami orang awam, ketika melihat dan memperhatikan bagaimana penguasa dan politik memposisikan Islam, jelas menunjukkan bahwa mereka bukan berniat menuju Islam. Bagi seorang liberal, “menerima” Islam berarti membuktikan liberalisme. Bagi seorang nasionalis, “menerima” Islam berarti menguatkan nasionalisme. Bahkan bagi kapitalis, sosialis, komunis, “menerima” Islam berarti mengukuhkan mereka.

    Dan kami kira setiap Muslim memperhatikan kondisi ini, bahwa mereka membuka keran Islam di setiap negeri dengan menyemai 2 bentuk kontrol. (1) “Terorisme”, sebuah kata yang bukan hanya untuk melunakkan ketegasan prinsip seorang Muslim, tapi juga untuk membatasi “calon” Muslim dan non-Muslim dari kalangan mereka. (2) “Kebhinnekaan”, sebuah kata kosong untuk mengaburkan identitas seorang Muslim.

    Keduanya cukup diterima oleh masyarakat demi meringkas hal-hal yang mereka tidak pernah menganggap bahwa Muslim memilikinya, yaitu: Tauhid, akidah, akhlak, muamalah, dll.

    Entah bagaimana kami mengatakannya. Apa yang kami perhatikan bahwa: “kebhinnekaan” adalah satu kata yang membuat setiap orang lupa bahwa bukanlah mereka dan kata-kata mereka yang menciptakan bermacam-macam perbedaan manusia. Lisan yang terus-menerus menyebut kata “kebhinnekaan” secara persis (itu menjadi dzikir bagi mereka), akan membuat mereka semakin tak sadar atas apa yang mereka bicarakan. Tentu saja setiap Muslim pun tahu bahwa Allah yang menciptakan bermacam-macam manusia. Tapi seseorang yang menyebut bahwa manusia berbeda-beda; tidak akan pernah sama dengan seseorang yang mendakwahkan kepada manusia bahwa yang menciptakan perbedaan itu hanya Allah satu-satunya.

    Ini bisa dilihat jelas pada inti keyakinan tersebut. Tidak ada yang meragukan bahwa kalimat ini, “Meski kita berbeda-beda namun kita tetap satu jua,” adalah kata-kata seorang manusia (yang begitu dihormati di masanya dan leluhur kita). Tapi siapakah yang bisa, boleh, dan sanggup menyatakan mana yang terlebih dahulu: “satu” atau “berbeda-beda”. Kami yakin tidak ada. Karakteristik semacam itu, yang tidak bisa dirunut secara “fisikal” dan kronologis, mestinya harus bisa menyatakan sesuatu yang ganjil dan tak mungkin disamakan. Ini tidak mungkin bukan? Karena ketika dia menyebut “berbeda-beda” ternyata di sampingnya ada yang serupa dengannya, yang ternyata dinyatakan oleh dirinya sendiri, merupakan “bagian” darinya.

    Hanya Allah sajalah yang berhak menyatakan bahwa manusia itu berbeda-beda.

    Sudah semestinya mereka yang mendzikirkan kalimat kebhinnekaan tersebut, dengan kerelaan menyadari, bahwa jika kalimat ini diteruskan, akan berlaku sunnah Allah. Bahwa Allah sungguh akan menguji keyakinan mereka dengan kalimat tersebut.

    Sebagian orang akan mengatakan bahwa ini jelas berkaitan dengan akidah. Namun kami hanya orang awam. Kami anggap setiap orang hanya menanggung akibat perbuatannya masing-masing. Sebagaimana kami yakini bahwa sudah sewajarnya Amerika dan Eropa mengubah keyakinan, bahwa setiap orang hanya menanggung akibat perbuatannya sendiri, tidak menanggung dosa moyang mereka, dan tidak seorang pun mesti menanggung dosa mereka.

    *Agar mereka tidak menyangka bahwa Islam akan dibiarkan begitu saja diperlakukan oleh mereka, sebagaimana mereka melakukannya pada agama-agama lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s