6 Mei 2013
Sumber: www.newobserveronline.com

Sebuah studi baru mengungkap, wilayah kota-kota Inggris yang berubah menjadi ghetto non-kulit putih semakin luas seiring pembersihan etnis warga kulit putih Inggris oleh imigrasi Dunia Ketiga.

Imigrasi masal ke Inggris

Menurut laporan ini, yang diterbitkan oleh “think tank” sayap kiri Demos, analisa data sensus Inggris dan Wales menunjukkan minoritas etnis berkonsentrasi di wilayah tertentu dan orang-orang kulit putih berpindahan keluar.

Penelitian tersebut mendapati 4,6 juta imigran non-kulit putih dan keturunan mereka (diduga 45% dari populasi kulit hitam dan Asia di negara ini) kini tinggal di wilayah-wilayah “di mana kulit putih adalah minoritas”.

Sepuluh tahun lalu, cuma satu juta orang kulit hitam dan Asia, atau 25% dari total populasi minoritas etnis saat itu, tinggal di komunitas-komunitas tersebut, kata Demos.

Dalam Sensus 2001, 282 dari 8.850 daerah pemilihan dewan di Inggris dan Wales digolongkan sebagai “non-kulit putih tinggi” atau “non-kulit putih tertinggi” oleh Demos, tapi dalam Sensus 2011 angkanya naik ke 414.

Penelitian Demos menyebut, di wilayah-wilayah yang didominasi minoritas, gelombang imigran baru semisal orang Somalia mengisi perumahan yang dikosongkan.

Makalah tersebut mengaitkan perubahan ini dengan “orang-orang kulit putih Inggris yang memilih tidak pindah ke wilayah didominasi minoritas”.

Penelitian Eric Kaufmann, profesor politik di Birkbeck College, London, juga menunjukkan beberapa minoritas etnis menyebar lagi ke wilayah yang didominasi kulit putih.

Orang kulit hitam dan Asia menjadi kurang langka di provinsi-provinsi Inggris karena sekarang terdapat kurang dari 800 daerah pemilihan dewan yang dari 98% berkulit putih dibandingkan dengan 5.000 daerah pemilihan pada 2001.

  • Menurut Office for National Statistics (ONS), imigran legal Dunia Ketiga menyumbang 14,7% (7,5 juta) populasi Inggris pada 2004 (“Tinjauan populasi 2004 dan 2005: Inggris dan Wales”, Karen Gask, Office for National Statistics).
  • Menurut ONS, 10,9% (atau 6,7 juta) populasi penduduk Inggris tidak lahir di negara ini (“Satu dari sepuluh penduduk lahir di luar negeri”, Telegraph 9 Desember 2009).
  • Pada 2005, ONS menerbitkan laporan terpisah yang menyebut 36% kelahiran di Inggris dan Wales bukanlah “kulit putih Inggris” (“Berat lahir dan usia kehamilan menurut kelompok etnis, Inggris dan Wales 2005: memperkenalkan data baru mengenai kelahiran”, Kath Moser, Office for National Statistics).
  • Angka tingkat kelahiran 2005 ini tidak mencakup kelahiran dari ibu imigran generasi kedua dan ketiga. Angka-angka yang dilansir oleh ONS pada Januari 2009 mengungkap populasi Muslim di Inggris tumbuh lebih dari 500.000 menjadi 2,4 juta dalam empat tahun saja. Populasi mereka berlipatganda 10 kali lebih cepat daripada anggota masyarakat lain (“Populasi Muslim ‘naik 10 kali lebih cepat daripada anggota masyarakat lain”, Times, 30 Januari 2009).
  • Laporan populasi ONS Agustus 2008 menyatakan, rata-rata setiap wanita “asing” mempunyai 2,5 anak, naik ke angka 3,9 untuk wanita dari Bangladesh dan hampir 5 untuk wanita Pakistan (“Mayoritas anak dari ibu-ibu Inggris lahir di luar ikatan nikah”, Telegraph, 11 Juli 2008). Ketika angka-angka ini dijumlahkan tingkat kelahiran imigran diperkirakan sekitar 50% dari semua kelahiran hidup di Inggris dan Wales.
  • Mayoritas “imigran baru” bukan dari Eropa Timur, sebagaimana sering diklaim. Menurut angka ONS, imigran dari Eropa Timur mempunyai 25.000 anak di Inggris tahun lalu—minoritas mutlak dari 700.000 kelahiran hidup (“Jumlah orang asing di Inggris menyentuh rekor 6,7 juta”, BBC, 8 Desember 2009).
  • Menurut Birmingham City Council, 61% anak SD di Birmingham raya berasal dari Dunia Ketiga (“Siswa Asia melampaui jumlah anak kulit putih di sekolah-sekolah dasar Birmingham untuk pertama kalinya”, Birmingham Mail, 26 Januari 2010).
  • Lebih dari 300 bahasa saat ini dipakai di sekolah-sekolah London. Sebagian yang paling kuat adalah Bengal, Gujarat, Punjab, Kanton, Mandarin, dan Hokkien (“Bahasa seantero Eropa”, BBC).
  • Sekitar 150 bahasa dipakai di sekolah-sekolah Reading, sebuah indikasi luasnya invasi di Berkshire (“150 bahasa berbeda diucapkan di sekolah-sekolah Reading”, Reading Post, 8 Februari 2010).

Semua statistik ini jika digabung menunjukkan bahwa populasi etnis non-Inggris bertambah secara eksponensial, dan jika menilik imigrasi dan tingkat kelahiran saat ini, mereka akan mengalahkan populasi pribumi Inggris dalam 50 tahun ke depan, dan lebih mungkin dalam 30 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s